
Habibie langsung menarik Kiara ke dalam dekapannya, pria itu menepuk pipi sang istri beberapa kali akan tetapi Kiara seperti tidak terlalu merespon. Perempuan itu meracau tidak jelas dengan air mata bercucuran. Matanya sudah bengkak dan sayu.
"Kiara, sadarlah! Apa yang terjadi, kau kenapa?"
Perempuan itu tidak langsung menjawab, ia menatap Habibie kemudian berkata, "Bunda ... Bunda pergi karena hujan ini, Bunda pergi karena suara petir-petir itu. Bunda bilang Bunda akan selalu ada untuk Kiara, tapi kenapa Bunda bohong. Kiara enggak suka vila, Kiara enggak suka suara petir, Kiara benci Bunda ....!"
Perempuan itu kembali menatap Habibie seolah meminta dukungan atas apa yang dia katakan. Jauh sebelum Kiara menjadi seperti ini, belasan tahun yang lalu, di sebuah vila keluarga di daerah puncak, seorang anak perempuan berusia 6-7 tahun sedang asyik bermain boneka beruang kesukaannya.
Malam itu hujan lebat mengguyur kawasan tersebut, petir-petir mulai menyambar sehingga gadis kecil itu berlari ke kamar Ibu-nya. Tidak ada yang aneh. Semuanya seperti baik-baik saja.
"Bundaaaaaa!" pekik si gadis seraya berlari, melompat ke atas ranjang sang ibu, memeluk ibunya itu dengan sangat erat.
"Kiaraaaa, jangan ganggu Bunda, Sayang! Bunda lagi istirahat!"
Seorang pria yang masih cukup muda berjalan masuk ke kamar seraya membawa obat-obatan dan jug air mineral pada gelas tinggi di tangan.
Ia letakan gelas itu di atas nakas lantas mengambil butiran obat dan memberikan obat itu pada perempuan yang sedang berbaring dengan senyum tipis di bibir pucatnya.
"Jangan meninggikan suara pada anak kita, Mas!" Amzar hanya mengangguk.
"Terima kasih, Mas!" katanya lagi dengan suara yang sangat lemah.
Amzar pun mengangguk. Ia meminta istrinya untuk segera meminum obat tersebut. Baru akan menyodorkannya obatnya, tiba-tiba perempuan itu terbatuk-batuk. Julia mulai memuntahkan darah, Kiara yang kala itu melihat penderitaan ibunya malah menangis tersedu-sedu. Ia meraung, dadanya naik turun menahan sesak yang luar biasa.
"Bunda, Bunda kenapa, Bunda. Bundaa~~!"
__ADS_1
"Kita pergi ke rumah sakit sekarang!"
Amzar mengatakan itu sambil memangku sang istri. Ketakutan melanda hatinya saat itu. Dia sudah menolak untuk berlibur. Amzar ingin membawa Julia berobat ke luar negri tapi Julia menolak. Perempuan itu mengatakan jika dia sudah lelah, oleh karena itu Julia meminta suami dan anaknya untuk menikmati waktu kebersamaan yang mereka miliki.
"Ayah ... Bunda kenapa, Bunda enggak bakal ninggalin kita kan?"
Kiara kecil berlari mengikuti Amzar di belakang. Perempuan itu sering kali mengusap bulir bening yang terus menyeruak untuk keluar dan menghalangi pandangannya.
"Kita akan pergi sekarang, Sayang. Kau akan baik-baik saja!" kata Amzar. Pria itu membuka pintu vila dengan bantuan penjaga. Namun, baru sampai di depan pintu, tangan yang Amzar kalungkan di lehernya tiba-tiba terkulai begitu saja.
"Sayang! Julia!"
Amzar mau tidak mau menghentikan langkahnya, membaringkan sang istri lantas melakukan CPR dengan kesungguhan. Julia tidak boleh pergi, Amzar teramat sangat ketakutan. Apalagi Kiara semakin meraung dengan tangisan yang membuat hatinya semakin terluka.
"Inalilahi wainailaihi rojiun!"
"Bunda udah enggak ada, Sayang!"
Satu kalimat itu sukses membuat Kiara kecil tertegun. Napasnya seperti berhenti saat itu juga, matanya melotot dengan tubuh bergetar.
"Enggak mungkin, Bunda enggak mungkin pergi ... Bundaaaaaa!"
Amzar hanya menunduk dengan bahu bergetar ketika Kiara memeluk ibunya dengan sangat erat. Mereka tidak bisa melakukan apa-apa ketika Allah telah berkehendak.
.....
__ADS_1
"Semuanya akan baik-baik saja. Saya di sini, Kiara!"
Habibie berusaha untuk menenangkan istrinya, mendekap perempuan itu semakin erat, mengusap lengannya, berharap itu akan mengurangi sedikit kegelisahan yang Kiara rasakan.
"Jangan pergi, Mas. Jangan tinggalin Kiara, jangan pergi!"
Habibie menggelengkan kepalanya. Dia tidak mungkin pergi saat kondisi Kiara seperti ini. Kebingungan melanda hatinya, banyak pertanyaan muncul, kenapa Kiara lebih sering kambuh setelah bersama dengannya, apa sikapnya sangat menyakiti perempuan ini?
Melihat Kiara yang sudah semakin tenang, Habibie mengangkat tubuh perempuan itu, dia membaringkan sang istri di atas ranjang, menyelimutinya agar istrinya itu tidak kedinginan.
"Jangan pergi. Kiara takut, Mas!"
Untuk beberapa saat Habibie termenung menatap Kiara yang masih terpejam tapi jemarinya mencengkram kuat jari kelingking dia. Melihat lebatnya hujan di luar, Habibie pun ikut naik ke atas ranjang, memeluk Kiara seperti apa yang perempuan itu inginkan.
Kiara pun terlihat sangat nyaman. Dia memeluk Habibie, menjadikan dada pria itu sebagai sandaran. Lengan sang suami yang begitu nyaman membuat Kiara kembali terlelap.
Pria itu pun tidak tinggal diam, memberikan semua do'a untuk perempuan itu, mengusap punggungnya, juga meniup puncak kepala Kiara sebelum dia ikut terpejam dan berkeliaran di alam mimpi.
....
Keesokan paginya, Kiara bangun lebih pagi dari Habibie, perempuan itu cukup terkejut karena merasa ada yang aneh dengan posisi tidur mereka berdua. Kepalanya pusing, tapi ... saat dia memejamkan mata kembali, dia mengingat apa yang semalam Habibie lakukan padanya.
"Mas Abie~~!" gumam Kiara dengan suara yang sangat lirih.
Seharusnya Kiara segera beranjak, tapi dekapan suaminya masih sangat dia nikmati. Berada dalam pelukan suaminya membuat Kiara merasa lebih aman dan lebih nyaman.
__ADS_1
"Jangan salahkan aku jika aku mengharapkan mu karena sikap plin-plan mu, Mas! Aku janji, aku akan membuatmu bersikap baik padaku. Bukan karena aku butuh, tapi karena kau yang butuh."