Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
29. Kejahilan Kiara


__ADS_3

Masih dengan fase kebingungan yang melanda, Habibie pulang dari kantor mungkin sekitar pukul 8 malam. Ia melangkah masuk ke dalam rumah celingukan, mencari sosok yang selalu menjadi pengganggu di kehidupannya saat ini.


Benar apa yang dia duga, perempuan yang sedang dia cari itu tengah tertawa bersama dengan Devi. Entah hal apa yang begitu seru sampai kepulangannya pun tidak terlihat.


Tapi tunggu, kenapa Habibie bertingkah seolah-olah ingin terlihat oleh Kiara, seharusnya dia tidak perduli dan kembali saja ke kamarnya.


"Shutt, Nyonya. Itu Tuan Habibie!" kata Devi.


Perempuan yang ada di balik meja pantry itu menoleh, semakin merekahlah senyum di bibir perempuan itu.


"Mas Abie!" pekik Kiara.


Habibie bertingkah acuh tak acuh tapi sudut matanya masih melirik ke arah Kiara.


"Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumssalam!" jawab Kiara dengan suara yang sangat lembut. "Mas Abie capek ya? Mau dibuatkan teh?"


Pria itu mengerutkan kening, ia menatap Kiara dengan mata memincing. Semakin heran karena Kiara tiba-tiba bersikap baik padanya.


"Mas!"


"Iya," jawab Habibie agak tersentak.


Kiara memutar bola mata kesal dengan kelemotan suaminya. "Kia nanya, Mas mau teh tidak? Kia udah belajar dari Bi Arum. Kia juga mau setor perbaikan hafalan Kiara!"


Mendengar hal tersebut, Habibie mengangguk - anggukan kepalanya beberapa kali. Mencoba untuk mengerti tapi tetap saja seperti ada yang janggal dengan sikap istrinya ini. Ia meninggalkan Kiara untuk naik ke lantai atas, sedang perempuan itu berlari kecil menuju pantry.


"Nyonya!"


"Hmmm!"


"Nyonya yakin maj melakukan ini?" tanya Devi khawatir.


"Yakinlah. Enggak usah takut, saya tidak akan membiarkan kamu terlibat. Ini semua murni keinginan dan rencana saya."


"Tapi Nyonya!"


"Shhutttt! Saya harus kasih ini dulu ke Mas Abi. Do'akan saya ya biar hafalannya lancar."


"Aamiin, Nyonya!"


Senyum lebar tersungging di bibir Kiara, perempuan itu mengetuk pintu kamarnya. Mengucapakan salam seraya masuk ke kamarnya.


Langkah kecilnya tiba-tiba berhenti ketika melihat Habibie tengah mengenakan kaos yang masih belum sampai ke bawah. Deretan roti sobeknya melambai seakan meminta untuk disentuh.


Dan benar saja, perempuan itu berjalan dengan tergesa untuk menaruh teh di gelasnya kemudian menghampiri Habibie. Jari telunjuk itu tiba-tiba ditusukkan pada pahatan otot yang mana hal tersebut membuat Habibie terlonjak dan langsung menutup bagian perutnya dengan kaos.


"Kiara," geram Habibie menatap perempuan di depannya tajam.

__ADS_1


"Satu kali aja!" pinta Kiara mengacungkan jari telunjuknya dengan wajah memelas. "Mas Abie enggak bakal dosa kok. Boleh ya, daripada Kia minta sama orang lain, Kia mau pegang doang. Sebentar aja!"


Habibie termenung, pria itu mengembuskan napas panjang tapi pada akhirnya menuruti apa yang Kiara mau. Bukan karena apa, tapi ya mau bagaimana. Kiara adalah istrinya, dosa juga untuknya jika dia menolak kemauan sang istri.


Habibie bukan tidak mengerti kewajiban, mereka menikah karena sebuah perjodohan. Dia juga sangat tahu kalau Kiara terpaksa menikah dengannya.


"Wuahhhhhh ... anak-anak Mas Abie cakep-cakep banget. Ini ada 6 lho, Mas."


Kiara mulai menusukan jari jemarinya di atas perut sang suami, perempuan itu menunduk, hembusan napas hangat menerpa kulit perut Habibie. Pria itu gelagapan, kedua tangannya terkepal dengan kening mengerut.


"Bukannya biasanya hanya ada empat, Mas?"


What? Segala ketegangan itu langsung sirna, Habibie kembali menutup kaosnya lalu menatap Kiara dengan kilatan amarah di matanya.


"Aurat siapa yang kau lihat Kiara?"


Perempuan itu mengangkat bahunya acuh, dia lupa perut siapa itu. Apakah mungkin perut lobster yang ada di film Spongebob atau apa, tidak bisa dipastikan dengan jelas. Ia malah menarik Habibie, menuntun pria itu untuk duduk di tepian ranjang.


"Mas Abie duduk dulu!" Kiara mengambil cangkir yeh yang tadi dia bawa kemudian dia berikan kepada suaminya. "Cobalah! Kia mau ambil kerudung dulu!"


Untuk pertama kalinya Habibie menurut kepada Kiara. Pria itu mengambil cangkir teh, menghirup aromanya sebentar, sangat wangi dan agak berbeda dengan teh yang biasa dibuatkan oleh Bi Arum. Satu kali Habibie sesap teh tersebut, dia terdiam, melihat ke dalam cangkir lantas kembali mencobanya.


"Enak?" tanya Kiara.


Habibie mengangguk tanpa sadar. "Cukup baik!" jawabnya singkat. Padahal teh itu sangat enak, rasanya tidak monoton juga sangat menyegarkan.


"Kau sendiri yang buat?"


"Ayok!" kata Kiara dengan alis terangkat.


"Ke mana?" Habibie tiba-tiba loading. Tatapannya malah fokus pada Kiara yang terlihat sangat cantik saat mengenakan kerudung dengan rapi. Pancaran wajahnya, senyum itu, juga lesung pipinya, Habibie akui jika istrinya ini menang sangat luar biasa.


"Astagfirullah!"


Kiara kembali beranjak, mengambil cangkir dari tangan suaminya lantas dia letakan di atas nakas, berlanjut menarik tangan Habibie, mendudukkan pria itu di atas ranjang mereka.


"Kia mau setor hafalan, Mas. Emang mau kemana!"


Ah ... kepala pria itu menunduk cukup dalam, malu karena dia sempat memikirkan hal yang tidak semestinya.


"Lakukanlah!" pinta pria itu.


Perempuan di depannya tersenyum. "Bismilah," gumam Kiara dengan mata terpejam. Bait demi bait, surah demi surah perempuan itu baca dengan hati dan pikiran yang lapang. Tidak ada yang dia tuju selain ingin menyelesaikan hafalannya dengan baik.


Habibie pun tersenyum, menatap wajah Kiara, mendengarkan suara istrinya dengan seksama. Kemajuan yang baik, Kiara benar-benar belajar untuk memperbaiki kesalahannya.


"Alhamdulillah!" perempuan itu membuka matanya perlahan. Lima surah yang dia bacakan tanpa mendapatkan bentakan. Apakah itu artinya hafalan dia lulus?


"Gimana, Mas. Masih ada yang salah?"

__ADS_1


Habibie menggelengkan kepalanya. Semuanya hampir sempurna, memang ada beberapa yang kurang, tapi itu bukan hal yang buruk.


"Semuanya baik, dan cara mengucapkan huruf-hurufnya pun jauh lebih baik daripada kemarin. Tajwid hampir tidak ada yang meleset, semua---"


Brukkk!


"Huaaaaa! Kiara menang Mas Abie! Kiara menang!"


Habibie mematung karena perempuan di depannya. Entah sadar atau tidak, Kiara telah menerjang lehernya sampai Habibie terjengkang dengan posisi Kiara yang ada di atas tubuhnya.


"Mas, Kia berhasil!" isak perempuan itu terdengar dengan sangat jelas pada telinga Habibie, bagaimana tidak, kepala Kiara perempuan itu benamkan di lehernya.


"Alhamdulillah Kia bisa, Mas. Usaha Kiara enggak sia-sia."


Bahu perempuan itu semakin bergetar, Habibie yang merasakannya menjadi tidak tega, tangan besarnya terangkat mengusap punggung Kiara dengan usapan yang sangat lembut.


Tidak ada yang keluar dari mulut pria itu, hanya menengkan dan membiarkan Kiara menangis, Habibie mengerti kenapa Kiara seperti ini. Kerja keras yang membuahkan hasil memang selalu memberikan kebahagiaan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.


"Mas!" panggil Kiara.


"Kenapa?"


"Kia punya sesuatu untuk Mas Abie."


Perempuan itu melonggarkan pelukannya, membenahi posisi lantas duduk yang diikuti oleh Habibie. Ia masih sesenggukan, tangannya mengusap sudut matanya yang masih berair. Tangan kanannya terulur, mengambil sebuah kontak yang dia sodorkan kepada Habibie.


"Apa ini?" tanya pria itu.


"Bukalah!" ujar Kiara masih sesenggukan.


Habibie membuka kotak itu perlahan. Sangat pelan dan saat tutup kotaknya terbuka dengan sempurna, alangkah terkejutnya Habibie ....


"Astagfirullah ... katak!" pekik pria itu ketika katak kecil melompat ke pangkuannya. Ia langsung berdiri, naik ke atas nakas saking takutnya Habibie kala itu.


Dalam ketakutan suaminya, Kiara malah tertawa terbahak-bahak. Perempuan itu menunduk, menelusup kan kepalanya di bawah bantal. Tangannya memukul-mukul ranjang saking kuatnya ia tertawa.


"Mas Abie lucu. Masa sama anak katak aja takut." Dia terus saja tertawa, bahkan air mata haru yang dia keluarkan sudah menjadi air mata tawa.


"Kiaraaaa!" Habibie memekik dengan sangat kencang, kesal dan juga marah kepada perempuan yang malah bahagia di atas penderitaannya.


"Kiara. Usir katak itu dari kamar ini!"


"Enggak mau, Mas Abie aja. Mas Abie kan cowok."


Lutut Habibie bergetar, semakin tremor lah tangan perempuan itu karena takut dengan katak yang sepertinya masih ada di kamarnya.


"Kiaraaa, ayolah. Usir katak itu!"


"Enggak mau, Mas Abie. Mas Abie aja!"

__ADS_1


"Kiaraaaa! Kiara jangan pergi! Heiii! Kiara kembali! Jangan tinggalkan saya, Kiara! ... Kiaraaaa!"


__ADS_2