Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
36. Kesengajaan Gibran


__ADS_3

Gibran tergelak cukup keras. Pria itu menatap Habibie dengan tubuh yang dia condongkan sedikit ke depan, siku-siku lengannya ia tumpukan pada paha dengan jari tangan saling bertaut.


"Orang yang paham agama seperti Kakak seharusnya tidak memperlakukan istri dengan buruk seperti itu. Gibran tahu kalau Kakak masih belum bisa move on dari Almarhumah. Tapi, bukankah istri kakak sekarang adalah Kak Kiara?"


Habibie terdiam. Dia hany mendengarkan tanpa mau mengatakan apa pun. Pria itu menoleh ke arah Kiara sekilas. Iya, Kiara memang istrinya, tapi bagaimana mungkin dia bisa memperlakukan Kiara seperti saat dia memperlakukan Aisyah dulu. Itu tidak mungkin.


"Kakak tinggal sama Almarhum itu baru 2 hari. Gibran bukan ingin menjelek-jelekkan siapa pun. Hanya saja, andai kalian diberikan kesempatan untuk lebih lama bersama, masih belum jelas apakah kalian akan bahagia atau tidak. Kakak itu masih belum tahu, pahitnya ketidakselarasan dalam rumah tangga. Dan sekarang, saat bersama dengan Kak Kiara, Kakak ditunjukan ketidak selarasan antara kalian berdua sejak awal pernikahan. Ini bukan awal yang buruk, Kak Kiara itu anak broken home. Kalau Kakak keras sama dia, bukannya nurut, Kak Kiara malah akan semakin jauh dari Kakak! Kak Habib---"


Ucapan panjang lebar Gibran dihentikan saat Habibie mengangkat tangannya. Pria itu tersenyum, menatap Gibran dengan kilatan amarah di matanya. "Kiara itu istri saya. Kenapa jadi kamu yang paling tahu tentangnya? Atau mungkin, kamu hanya sok tahu."


Gibran mengangkat kedua bahunya acuh. Pria itu melirik ke arah Ummi dan Kiara. Dua orang itu sepertinya sudah selesai dengan makan malam dan sekarang baru akan kembali ke lantai atas. Ummi mengantarkan Kiara sampai di depan pintu kamar.


"Kiara mau ngobrol dulu sama Ummi boleh?"


Ummi Amelia tersenyum. "Tentu saja boleh, Sayang. Apa mau Ummi ceritakan kisah-kisah yang sangat bagus?"


"Bolehkah?" tanya Kiara dengan mata berbinar. Perempuan itu menarik Ummi Amelia, membawanya naik ke atas ranjang. Kiara tidak lupa menyambar bantal hangat untuk dia letakan di atas perut bagaian bawahnya.


"Ayok mulai Ummi!"

__ADS_1


Ummi Amelia tersenyum. Dia menceritakan banyak sekali kisah. Yang lebih Ummi tekankan adalah kisah seorang wanita muslimah yang memiliki ayah kaya raya tapi beliau rela hidup miskin karena tidak ingin jatah orang-orang tidak mampu termakan olehnya. Beliau juga selalu mengerjakan pekerjaan rumah sendiri sampai telapak tangannya tak lagi halus. Perempuan itu sangat mencintai suaminya, dan beliau juga sangat-sangat dicintai oleh suami, anak-anaknya dan juga ayahnya.


"Ummi!"


"Iya, Sayang."


"Kiara bisa enggak ya berbakti seperti itu. Untuk kehidupan di jaman sekarang, uang adalah sumber kebahagiaan untuk banyak orang. Ummi tahu, Mas Abie juga banyak uang, tapi ... Kiara enggak butuh itu. Kalau cuma uang yang Kiara inginkan, Ayah juga uangnya banyak. Enggak akan habis sampai tujuh turunan. Kiara mau disayang, Ummi. Kiara mehsgskaka."


Semakin lama ucapan Kiara semakin tidak karuan, hembusan napasnya terdengar sangat teratur dan menenangkan. Kiara tertidur dalam pangkuan Ummi Amelia. Perempuan itu sepertinya sudah sangat kelelahan.


Tanpa Ummi dan Kiara sadari, sejak tadi Habibie ada di depan pintu kamar dan mendengar apa yang Kiara katakan. Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya. Malam ini, bukan hanya satu orang yang menekannya karena masalah dia yang terlalu keras pada Kiara. Mendengar keinginan sederhana Kiara, Habibie seperti merasakan betapa kesepiannya perempuan itu.


"Shutttt!" Ummi Amelia menaruh jari telunjuknya di atas bibir.


"Sudah malam, sebaiknya Ummi menginap di sini."


Gelengan kecil Ummi Amelia berikan. Perempuan itu tersenyum, menatap Habibie dengan senyum yang sulit untuk diartikan.


"Ummi harus pulang, Nak!"

__ADS_1


Habibie dan Ummi Amelia membetulkan posisi tidur Kiara agar perempuan itu bisa terlelap dengan nyaman. Habibie menarik selimut agak lebih ke atas. Memeriksa suhu tubuh istrinya takut-takut kalau Kiara demam seperti apa yang Ali katakan.


"Abie!" Ummi Amelia tersenyum seraya menepuk pundak anaknya. "Jaga Kiara baik-baik, Nak. Pak Amzar memberikan kamu amanah untuk menjaga Kiara karena beliau yakin kamu bisa menjaganya. Didik dia dan rawat dia dengan kelembutan. Orang tuanya sangat menyayangi dia. Jangan sampai kamu menyesal, Abie. Ummi tahu, Ummi tidak berhak ikut campur. Ummi hanya mengingatkan saja. Ummi percaya, kamu bisa mengerti apa maksud dari perkataan Ummi!"


Pria itu lagi-lagi terdiam membisu. Dia tidak bisa berkata-kata karena memang selama ini dia sudah sangat bersalah. Habibie telah melakukan kesalahan besar dengan bersikap kasar dan keras kepada perempuan yang sekarang terbaring di atas ranjangnya.


"Abie akan mencoba Ummi!"


"Terima kasih, Nak." Ummi Amelia tersenyum.


Setelah kepergian ibunya, Habibie duduk di tepian ranjang. Pria itu menatap Kiara lakat. Tangannya refleks terulur saat Kiara bergerak gelisah, Habibie kembali mengusap perut sang istri dengan usapan yang sangat lembut.


"Jangan percaya pada pria manapun, Kiara." Habibie bergumam dengan suara yang sangat lirih.


Sementara di tempat lain. Lebih tepatnya di dalam mobil Gibran. Pria itu habis dicecar oleh ibunya. Amelia mengomentari keberanian Gibran melawan dan mengusik singa tidur dalam diri kakaknya.


"Jangan terlalu dekat dengan Kakak Ipar mu, Gibran. Jangan membuat masalah dalam hubungan rumah tangga Kiara dan Habibie."


Pria itu malah tergelak cukup keras. Gibran menarik tangan Ummi Amelia kemudian mengecup punggung tangan itu lama.

__ADS_1


"Ummi, Gibran hanya ingin membuat Kak Abie sadar kalau perbuatannya itu salah. Gibran ingin membuat Kak Abie bisa lebih perhatian kepada Kak Kiara. InsyaAllah. Gibran tahu batasan, Ummi."


__ADS_2