Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
65. Semuanya Akan Baik-baik Saja


__ADS_3

Ummi Rahma dan suaminya menatap nanar Kiara yang masih menangis dengan kepala tertunduk dalam. Mereka tidak bisa membayangkan betapa sakitnya Kiara diperlakukan seperti itu. Menikah tanpa cinta mungkin adalah hal biasa, tapi kalau sampai tidak dihargai, dimana letak hati nurani orang itu.


Kiyai tidak bisa menggadaikan kebahagiaan Kiara pada orang seperti Habibie. Andai pria itu memiliki niat untuk berpisah dengan Kiara, dia bisa membicarakan baik-baik, bukan malah menyakiti raga dan batin perempuan ini. Kondisi Kiara pun sedang kurang baik, Kiyai sangat hafal kalau wanita hamil itu memiliki mood angin-anginan. Itulah yang beliau pelajari saat Ummi Rahma mengandung anak-anaknya.


"Nak!" Kiyai menatap Kiara lekat. "Pakdhe enggak tahu suami kamu itu orang seperti apa. Tapi satu hal yang Pakdhe yakin, dia belum benar-benar faham agama. Laki-laki yang memiliki adab dan ilmu tidak akan memperlakukan istrinya seperti ini. Untuk sekarang, kamu tinggal aja di sini, nanti belajar ngaji sama Budhe. Kalau kamu balik ke sana, bisa gila kamu."


"Kiyai!" Ummi Rahma menyenggol lengan suaminya. Namun, Kiyai Salim tidak mengindahkan hal itu. Ia geram dan malu sebab ada laki-laki yang tidak bisa menghormati apa yang mereka miliki. Orang itu bisa berubah seiring berjalannya waktu, semua itu butuh proses, jika alasan Habibie tidak bisa menghormati Kiara adalah karena Kiara fakir ilmu agama dibandingkan istri pertamanya, seharusnya Habibie menolak pernikahan ini sejak awal.


"Makan dan istirahat, Kia. Enggak usah bilang sama Bapak kamu kalau kamu di sini!"


Kiara mengangguk - anggukan kepalanya. Tidak akan, sampai kapan pun Kiara tidak akan pernah menghubungi orang-orang itu. Cukup sampai di sini dia menderita, jika kebahagiannya bukan dengan orang-orang itu, Kiara akan mencari kebahagiannya sendiri meskipun itu sulit.


"Makan Nak! Maafkan Pakdhe mu, dia emang agak keras, tapi baik kok."


"Iya Budhe, terima kasih."


"Eummm!" Budhe Rahma mengusap kepala Kiara dengan lembut, perempuan itu tidak kuasa menahan air mata yang lagi-lagi mendesak memaksa untuk keluar. Sudah lama sejak mereka bertemu, anak ini sudah tumbuh menjadi wanita yang cantik tapi sayang, kehidupannya tidak secantik itu.


Ditinggal oleh ibunya saat kecil belum cukup untuk membuat perempuan ini terluka. Kiara masih harus mendapatkan penderitaan bertubi-tubi dari waktu ke waktu. Pernikahan yang seharusnya menjadi sumber kebahagiaan, ternyata malah membuatnya terjerumus kedalam luka menyakitkan.

__ADS_1


"Kamu anak baik, Nduk. InsyaAllah akan ada saatnya kamu bahagia."


Kiara ikut mengusap sudut matanya, perempuan itu menyuapkan nasi ke dalam mulut dengan terpaksa, dia tidak memiliki mood makan tapi Kiara harus memenuhi nutrisi untuk bayinya. Mulai hari ini, Kiara tidak boleh lemah, dia harus menjadi perempuan yang kuat demi bayi dalam kandungannya. Mereka hanya memiliki satu sama lain, jika dia tumbang, bagaimana dengan bayinya. Kiara bukan perempuan lemah, dia bisa menjalani ini semua, Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan umatnya bukan?


** ** **


Habibie ... pria itu duduk termenung setelah menunaikan kewajibannya. Ia bersandar pada tembok, membenturkan kepalanya ke tembok itu dengan air mata mengalir melewati pipinya. Hampa, sepi ... Habibie benar-benar bingung, ke mana dia harus mencari sosok sang istri. Kiara tidak mungkin pergi ke tempat berbahaya, Habibie harap pria itu aman.


"Maafkan aku, Kiara ..." Ia menunduk, hatinya sakit membayangkan Kiara pergi dengan luka yang sudah dia torehkan, mulutnya memang jahat, seharusnya Habibie tidak mengatakan kalimat seperti itu. Dia tersulut emosi karena selalu memendam kemarahannya pada Gibran, sejak lama dia ingin menegur adiknya, tapi Habibie urungkan, dia tidak mau membuat hubungan mereka merenggang. Namun, saat Gibran menikah dengan Humaira, kemarahan itu mencuat begitu saja.


Gibran seperti sengaja ingin mempermainkannya. Bukan hanya hatinya, tapi juga harga dirinya, kebahagiannya, juga menghilangkan respeknya terhadap pria itu. Habibie hanya berpikir kalau Gibran sengaja ingin menyiksanya dengan menikahi sosok Humaira.


"Tuan!" panggil Bi Arum dari luar kamar. "Tuan ada Pak Amzar sama Pak Fawas di depan!"


Pria itu langsung berdiri, dia celingukan ke kanan dan ke kiri, matanya terpejam membayangkan betapa marahnya Amzar karena Habibie sudah membuat putrinya hancur.


"Saya turun sekarang, Bi!"


"Baik, Tuan!"

__ADS_1


Habibie menarik napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Ia keluar dari kamar, menuruni anak tangga dan sampailah pria itu di depan dua orang pria yang kini sama-sama sedang menatapnya dalam.


"Di mana Kiara, Habibie?" tanya Pak Fawas.


Habibie diam, kepalanya tertunduk tidak tahu harus menjawab apa.


"Dimana anak saya, Nak Abie?" Pak Amzar masih bertanya dengan suara lemah lembutnya.


"Jawab Abi!" pinta Pak Fawas tegas.


Habibie menggelengkan kepalanya. "Habibie enggak tahu, Abi!"


Plakkk!


Sebuah tamparan pelak mendarat dengan sempurna di pipi pria itu.


Plakkk!


Satu lagi sampai di salah satu sisi yang lain. Kekecewaan yang dia rasakan benar-benar sudah sebesar gunung. Fawas tidak tahu bagaimana dia bisa membesarkan anak yang tidak memiliki kejantanan seperti Habibie.

__ADS_1


"Andai Kiara ada di sini, saya yang akan meminta Kiara untuk menggugat cerai kamu, Habibie!" Fawas masih membentak dengan suara kerasnya.


__ADS_2