Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
23. Mengangetkan


__ADS_3

Habibie dan ayahnya langsung berlari begitu mendengar pekikan Amelia. Para pria itu berdiri di depan perempuan itu dengan napas tidak karuan.


"Ada apa, Ummi?" tanya Habibie.


Ummi Amelia terlihat sangat khawatir. Perempuan itu mendekati Habibie lantas menarik lengan anaknya itu dan menggoyangkannya cukup kencang.


"Kiara enggak ada Bie. Kiara hilang, padahal tadi masih sama Ummi. Tapi sekarang udah enggak ada. Tolong carikan Kiara! Ummi khawatir!'


Habibie bernapas lega. Dia pikir ibunya ini kenapa, jika itu tentang, Kiara, mungkin semuanya tidak akan separah itu, Kiara bukan orang yang akan pergi ke tempat berbahaya.


"Ummi tenang dulu. Kiara pasti baik-baik aja! Sekarang Ummi baik-baik lah sama Abi! Tenangin diri Ummi, biar Habibie yang cari Kiara. Tempat ini aman, Ummi. InsyaAllah."


Ummi Amelia ingin menyela. Tapi sepertinya itu percuma karena Habibie dan suaminya telah setuju tentang hal itu.


"Kita ke tempat pemancingan," ajak Fawas.


Ummi Amelia pun menganggukki hal tersebut. Ia mengikuti kemana Fawas membawanya. Sesekali Ummi Amelia menoleh ke belakang, perempuan itu masih sangat takut, tapi Ummi berharap Kiara memang baik-baik saja. Sudah .enjadi tanggung jawabnya untuk melindungi, Kiara. Jika sampai Kiara kenapa-napa, Ummi Amelia pasti akan sangat terluka.


Sementara itu, Habibie tengah celingukan ke sana ke mari mencari sosok yang membuatnya harus melakukan hal tidak berguna. Habibie hanya heran, kenapa Kiara selalu membuatnya kesal dan jengkel, padahal Habibie sudah berusaha untuk tidak terlalu tertarik akan urusan perempuan itu. Lagi-lagi karena tanggung jawab dia harus dipusingkan dengan hal-hal seperti ini. Sangat menyebalkan bukan?


"Kiara!" Habibie mulai memanggil. Ia telah melirik rolex pada pergelangan tangan. Sudah hampir 20 menit setelah dia memulai pencarian tapi masih belum ada tanda-tanda kalau Kiara ada di sana. Ini telah cukup jauh dari halaman belakang vila mereka. Kenapa perempuan ingusan itu masih belum nampak juga.


"Kiara!" panggil Habibie lagi.

__ADS_1


Pria itu sudah akan berbalik akan tetapi langkahnya terhenti, keningnya mengkerut ketika matanya melihat kaki seseorang berselonjor di balik pohon yang cukup besar.


"Astagfirullah ...!" Kepala pria itu menggeleng beberapa kali. Kiara ini benar-benar sudah keterlaluan. Dia sibuk mencari keberadaannya, tapi dia malah asyik berteduh di bawah pohon.


"Kiara~~." Habibie kembali memanggil. "Kiara!" panggilnya lagi.


Karena tidak ada jawaban, pria itu pun mengitari pohon itu. Namun, saat dia akan kembali memanggil nama istrinya, Habibie dibuat tertegun, matahari yang menyinari wajah sang istri membuat wajah itu terlihat sangat bercahaya. Kakinya tidak bisa bergerak, Habibie berjongkok, tangannya terangkat saat melihat Kiara terganggu dengan sinar matahari tersebut.


Seolah sadar dengan perlakuan Habibie, senyum tipis tersungging di bibir perempuan itu.


Habibie yang berjongkok menjadikan salah satu lututnya untuk menjadi tumpuan, sedang tangan itu masih dengan setia melindungi mata sang istri dari paparan sinar matahari. Sepasang netra Habibie seolah tidak bisa beralih dan dia benar-benar hanya diam seperti itu saja.


Tak berselang lama setelah itu, Kiara mulai menggeliat dalam tidurnya, Habibie buru-buru menarik tangan dan juga berdiri gelagapan.


Pria itu mendengus kasar. "Kamu yang ngapain di sini. Ummi nyariin kamu. Malah enak-enakan tidur. Kembali!"


Kali ini bukan Habibie yang berdecih, tapi Kiara. Perempuan itu mendengus, matanya mendelik menatap Habibie tidak suka. "Dasar bengis!"


"Akhhh!"


Perempuan itu kembali terduduk seraya memegangi betisnya. Ia meringis, mengaduh karena kakinya keram.


"Kenapa lagi?" tanya Habibie.

__ADS_1


Kiara enggan untuk menjawab. Perempuan itu mendelik untuk yang ke sekian kalinya. Ia berusaha memijat kakinya berharap jika keram itu akan sedikit berkurang, tapi tetap saja, saat Kiara berusaha untuk berdiri, rasa sakit itu semakin mengigit saja.


"Naiklah!"


Kiara mendongak, menatap ke depan. Punggung lebar sang suami sudah berada di depan mata, Kita ragu untuk menerima ajakan itu. Tapi ketika dipikir-pikir kembali, dia merasa kalau dia berada cukup jauh dari tempatnya tadi, alhasil Kiara pun merangkak naik ke punggung suaminya.


Yang katanya terpaksa kini tersenyum, menyandarkan kepalanya pada bahu sang suami tanpa memperdulikan Habibie keberatan atau tidak. Hangat! Meskipun pria ini sangat menyebalkan, tapi punggungnya membuat Kiara sangat nyaman. Punggung lebar ini seharusnya ada untuk selalu melindungi dan menaunginya. Tapi .... Ah sudahlah. Tidak ada gunanya selalu memimpikan hal yang tidak mungkin.


"Mas!"


"Hmm!"


"Apa kau melihat kupu-kupu? Tadi aku mengikuti kupu-kupu cantik itu, menyenangkan rasanya karena bisa melihat hal yang sepertinya hampir punah itu, entah kapan terakhir kali aku melihatnya. Bukankah aku beruntung?"


"Kau sudah membuat semua orang khawatir, Kiara!" ketus Habibie. "Ummi hampir menangis karena mengkhawatirkan mu!"


"Astagfirullah ... iya kah?"


Kiara semakin mengeratkan pelukannya, perempuan itu memajukan wajahnya sehingga pipi itu bertemu dengan pipi sang suami yang kini menghentikan langkahnya. Bodohnya Habibie, pria itu malah menoleh sehingga, terlihat seperti Kiara yang sedang mengecup pipinya. Bukan seperti karena sebarnya bibir Kiara memang menyentuh pipi sang suami.


Debaran jantung kedua orang itu menggila, jika salah satu dari mereka benar-benar memuja ketampanan pria itu, tidak dengan Habibie, pria itu justru malah meminta hatinya untuk tidak mudah menerima perempuan lain selain istri pertamanya.


"Turunkan aku!" pinta Kita yang langsung turun dari punggung sang suami. Dia berteriak memanggil Ummi Amelia seraya berlari dengan cepat sampai kuncir kudanya bergoyang-goyang lucu.

__ADS_1


"Kau tetap satu-satunya perempuan yang paling aku cintai, Aisyah! Aku akan tetap memegang janjiku."


__ADS_2