
Perempuan itu menutup mulutnya yang ternganga. Kiara melangkahkan kakinya masuk ke kamar itu dengan perlahan. Sungguh? Inikah tempat yang sangat suaminya sukai?
Tubuh perempuan itu berputar, dinding ruangan itu dipenuhi dengan foto-foto perempuan. Cantik, dan juga pakaiannya sangat tertutup. Seulas senyum tipis tersungging di bibirnya, bukan senyum tulus karena itu terlihat sangat sins. Kiara mengambil sebuah pigura kecil. Perempuan itu mengusap foto itu dengan usapan yang sangat lembut.
"Mas Abie. Kau terlihat sangat bahagia saat bersamanya. Perempuan itu juga sepertinya sangat mencintaimu!"
Perempuan itu getir. Kiara menahan sesak di dadanya, jika kembali dipikirkan, dia dan suaminya hanya memiliki satu foto, itupun foto pernikahan. Kiara pikir Habibie tidak pernah menyukai hal-hal seperti itu, tapi ternyata tidak. Yang Habibie tidak sukai adalah dirinya.
Setelah puas melihat foto-foto tersebut, Kiara berjalan ke arah lemari. Membuka lemari itu perlahan sehingga terpang-pang lah semua pakaian milik almarhumah. Kiara mengambil salah satu gamis yang tergantung di sana. Dia mengangkat gamis itu mencocokkannya dengan tubuhnya yang mungil.
"Dia lebih tinggi dariku," gumam Kiara. Hembusan napas berat terdengar dari mulut perempuan itu. Kiara tidak tahu kalau ternyata suaminya masih belum move on. Habibie pasti masih sangat mencintai istri pertamanya.
"Ranjang ini pasti adalah ranjang kesukaan Mas Abie. Masih wangi dan bersih!"
Kiara hanya mengusap kasur itu perlahan. Dia berjalan menjauh dari sana. Kiara hendak keluar dari kamar itu, tapi, matanya tidak sengaja melirik sebuah buku di atas meja.
Karena terlalu penasaran, Kiara kembali. Perempuan itu mengambil buku tersebut, duduk di tepian ranjang untuk membuka lembar demi lebar dairy tersebut.
"Assalamualaikum, Cantik. Ya Humaira, apa kabar hari ini. Sudah lima tahun sejak kita tidak bersama. Mas diminta Abi untuk menikah dengan seorang perempuan. Mas enggak cinta sama perempuan itu. Tapi mas harus menghormati keputusan Abi."
__ADS_1
Lembar pertama masih biasa-biasa saja. Kiara terus membuka lembar demi lembar berikutnya. Namun, sampai pada lembar terakhir pun, Kiara tidak menemukan kebaikan di sana. Yang Kiara tahu, Habibie benar-benar terpaksa menikah dengannya. Pria itu tidak sama sekali menyukai atau mencintainya walau hanya seujung kuku.
Sesak, sakit. Semuanya menjadi tidak karuan. Kiara ketakutan, tangan perempuan itu sudah memulai bergetar saat lembar yang sepertinya adalah lembaran terlahir akan dia buka.
"Ya Humaira, Mas melakukan apa yang kau inginkan. Seperti apa yang kau katakan di dalam mimpi mas, mas sudah melakukan kewajiban mas terhadap Kiara. Mas akan berusaha untuk membahagiakan perempuan itu Agar kau bahagia di sana. Mas sangat menyayangi mu. Apa pun yang kau minta, mas akan berusaha untuk mewujudkannya. Sampai sekarang, wanita yang mas cintai masih tetap dirimu, Aisyah. Dan sampai kapan pun, hanya kau yang akan ada di dalam hatiku."
Kiara tidak kuasa menahan desakan air mata yang memaksa untuk keluar. Habibie. Sebrengsek itu terhadapnya. Bahkan, rasa sakit pada inti tubuhnya masih belum hilang, tapi apa yang pria itu katakan, Habibie kelakuannya untuk membahagiakan wanita lain. Dan wanita itu sudah meninggal?
Kedua tangan Kiara terkepal dengan sangat kuat. Perempuan itu memukul dadanya beberapa kali. Kiara kembali meletakan bukunya ke atas meja kemudian beranjak. Baru juga satu langkah, perempuan itu malah terhuyung. Tubuhnya ambruk di atas lantai. Kiara menunduk, meraung merasakan sesak tak berujung.
"Mas Abie. Kiara memberikan kepercayaan Kiara untuk Mas Abie. Lihat!" Perempuan itu mengangkat kedua tangannya, itu jelas memperlihatkan jemari Kiara yang habis dipenuhi plaster. "Aku menyakiti diriku sendiri untuk membuatmu senang. Tapi apa yang aku dapatkan? Kau mengkhianati kepercayaan ku. Kau menyakiti hatiku, Habibie, aku membencimu. Aku sangat membencimu."
Kiara kembali memukul dada sebelah kirinya. Perempuan itu menangis dengan suara yang sangat lirih. Kiara benar-benar hancur. Dia akan menerima jika Habibie belum bisa mencintainya. Namun, kenapa Habibie harus mengambil kegadisannya hanya untuk membahagiakan perempuan lain. Apakah setidak berharga itu dia sampai Habibie begitu tega.
"Kiara!"
Tiba-tiba suara bariton yang lebih berat dan lebih tegas dari biasanya terdengar. Kiara menunduk, dia tersenyum kemudian berbalik.
"Apa yang kau lakukan di kamar itu?" tanya Habibie panik. Dia menggeser tubuh Kiara, menyingkirkan perempuan itu dari jalannya untuk melihat ke adaan di dalam kamar. Namun beberapa saat kemudian dia kembali menatap Kiara.
__ADS_1
"Kiara jawab saya! Apa yang kau lakukan di dalam kamar istri saya? Saya sudah bilang jangan pernah menginjakkan kaki kamu di kamar ini. Apa kamu tidak mendengar apa yang saya katakan?"
"Istri?" gumam Kiara dengan suara yang sangat lirih. Perempuan itu enggan untuk menjawab, dia lebih memilih untuk berjalan menjauh.
"Kiara!" Habibie memekik seraya menarik tangan Kiara membuat perempuan itu tersentak dengan sangat kuat.
"Jangan bertingkah bodoh seperti ini. Kau itu kenapa? Saya bertanya, kenapa kamu tidak menjawab hah? Apa kurang jelas apa yang saya tanyakan. Saya sudah cukup memberikan semuanya. Perhatian saya, waktu saya. Saya sampai bela-belain pulang lebih cepat cuma karena ingin melihat keadaan mu, tapi kau---!"
"Cukup!" Kiara berteriak sambil menutup telinganya. Perempuan itu berbalik, mendongak menatap sang suami dengan derai air mata. "Anda bilang ini kamar istri Anda? Anda bilang Anda pulang cuma karena saya? ... saya juga istri Anda jika Anda lupa, Tuan!"
Kiara menahan sesak yang dia rasakan. "Saya tidak pernah memaksa Anda untuk mencintai, menyayangi, dan mengasihani saya hanya agar istrimu yang sudah menjadi tanah itu bahagia. Saya ... menikah dengan mu, bukan untuk menjadi budak atau menjadi objek, kegilaan khayalan mu, Tuan."
Kiara memalingkan wajahnya sesekali. "Anda tahu, semua yang Anda katakan itu adalah sebuah kebohongan. Keperdulian Anda itu hanya kedok. Anda tidak pernah benar-benar tulus kepada saya. Mulut dan hati Anda itu kotor! Kasih sayang Anda itu bullshit. Dan satu hal lagi, Anda adalah contoh manusia cacat akal, Tuan. Kewarasan Anda harus dipertanyakan."
"Kiara!" Habibie berteriak membuat orang-orang yang ada di rumah itu seketika berkumpul di lantai bawah. Mereka semua ketakutan.
"Kenapa? Mau tampar saya? Pukul saja! Pukul saya sampai Anda puas. Luka luar tidak masalah bagi saya, Tuan. Tapi Anda sudah menyakiti saya sampai ke hati saya."
Kiara berbalik, perempuan itu enggan untuk melihat atau mendengar wajah dan suara suaminya.
__ADS_1
"Kiara ... kembali dan kita selesaikan semuanya! Kenapa kau mendadak gila seperti ini?"
Perempuan itu terbelalak cukup keras. "Baik, mari kita selesaikan semuanya. Talak saya sekarang juga, Tuan. Lebih baik akhiri pernikahan toxic ini. Jangan pernah menjadikan saya sebagai penyalur kebucinan tidak bermoral yang Anda lakukan! Anda sudah melecehkannya saya. Dan demi Allah, sampai kapan pun, saya tidak akan ikhlas."