
"Jadi bagaimana Gibran, apa sudah ada kabar dari kakak kamu?" tanya Abi Fawas kepada anaknya. Hari ini, Abi Fawas dan semua orang tidak ada yang mendapatkan kabar dari anak itu, dia menghilang sekejap mata. Membuat semua orang khawatir. Habibie memang sudah sangat dewasa, dia bisa mengurus dirinya sendiri. Namun, keadaannya yang sangat kacau setelah ditinggalkan oleh Kiara membuat mereka tidak percaya lagi kalau Habibie bisa menjaga diri dengan baik. Mereka takut Habibie akan melakukan sesuatu yang salah.
"Gibran udah coba telpon Kak Habibie. Spam chat juga, tapi ttp enggak ada jawaban, Bi."
Hembusan napas kasar keluar dari mulut pria itu. Abi Fawas tidak mengerti, kenapa anaknya bisa sampai seperti ini. Dulu Aisyah, sekarang Kiara, tapi kali ini Habibie benar-benar tidak tertolong. Jika bersama dengan Aisyah bisa mengubah kesehariannya, Kiara bisa merubah dunianya.
"Ummi yakin Habibie ada di suatu tempat yang baik, Abi. Gibran, kalian itu harus berbaik sangka, Allah itu maha baik, kali aja Habibie lagi nyari Kiara ke sudut kota. Bisa jadi kan?"
Humaira mengangguk. "Bahkan mungkin keluar kota. Tapi Kak Habibie enggak mau bilang."
Gibran dan Abi Fawas menarik napas dalam. Sebenarnya mereka sangat kasihan kepada Habibie, tapi ... siapa suruh dia sangat keras kepala. Sudah sering mereka ingatkan agar Habibie bisa menghargai dan menerima keberadaan Kiara. Namun, karena tidak mendengar, lihatlah hasilnya sekarang, dia sendiri yang kelimpungan.
"Ya sudah, kita makan aja. Mudah-mudahan Habibie enggak papa. Tunggu sampai besok, kalau masih enggak ada kabar juga, kita lapor ke kantor polisi."
"Baik, Abi!" jawab Gibran.
** ** **
Sementara itu sekitar pukul 10 malam, Habibie duduk termenung di samping pintu kamar Kiara. Pria itu memutuskan untuk tidak terlalu jauh dari sang istri. Habibie takut Kiara akan membutuhkan sesuatu tengah malam.
"Nak Abie!" panggil Ummi Rahma saat keluar dari kamar Kiara. Perempuan itu mengerutkan keningnya bingung. Habibie sudah diajak untuk tidur dikamar Risyam, tapi Kenapa malah duduk di sana.
"Kamu lagi ngapain, Nak? Bangunlah. Di sini dingin, cepat masuk ke kamar!"
Habibie menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin dia pergi saat hatinya tiga tenang. Umi Rahma pernah mengatakan kalau masa-masa ini adalah masa-masa tersulit untuk Kiara, Habibie ingin melakukan penebusan dosa agar istrinya mau menerimanya lagi.
__ADS_1
"Kiara sudah tidur Budhe?"
Ummi Rahma mengangguk. "Sudah, Nak. Tapi ya gitu, sering kebangun, nanti sebentar-sebentar ke kamar mandi, sebentar-sebentar gerah, sakit pinggang. Ya seperti itulah ibu hamil besar. Nak Abie mau nengok?"
"Bolehkah Budhe?" tanya Habibie dengan wajah penuh harap. Habibie merasa sangat senang hanya dengan mendapatkan tawaran seperti itu saja.
"Masuklah Nak! Tapi jangan sampai Kiara bangun, kasian dia."
Habibie mengangguk mengiyakan pria itu mengucapakan terima kasih lantas masuk ke kamar itu. Pandangannya langsung berpendar, mengelilingi setiap sudut ruangan tersebut. Hatinya kembali teriris, kamar ini hanya seperempat dari kamar yang mereka tempati dulu, ranjangnya juga bukan ukuran king. Tidak ada AC, tapi kipas angin berada tak jauh dari tubuh istrinya.
Pria itu berjongkok di samping Kiara yang tidur menyamping, ingin menyentuh helaian rambut sang istri akan tetapi Habibie tidak bisa melakukan itu. Ia terlalu takut kalau gerakkannya akan membangunkan sang istri.
"Maafkan aku Kiara, maaf mas udah bikin kamu kayak gini. Mas tahu kesalahan mas ini fatal, mas enggak masalah kalau kamu mau pukul mas sepuasnya juga mas ikhlas, Sayang." Habibie mengucapakan itu dengan suara yang sangat lirih juga dengan mata berkaca-kaca. Ia mampu menahan laju lelehan bening itu. Namun, saat matanya beralih pada perut buncit istrinya, air mata itu lolos begitu saja.
"Maafkan Papa, Nak. Papa salah karena sudah membuat kalian tersiksa seperti ini. Papa salah karena sudah membuat mama sama kamu menderita. Papa minta maaf."
"Budhe sakit," keluh Kiara lagi. Bukan pinggangnya yang sakit, tapi hatinya. Hatinya ikut terluka mendengar permintaan maaf Habibie, bukan padanya, tapi pada anak yang sedang dia kandung. Suara bariton yang sangat dia rindukan kembali terdengar, dan mungkin ini adalah suara pertama Habibie yang anak mereka dengar setelah bayi itu hadir menemani Kiara untuk 8 bulan ini.
Perempuan itu menangis dalam diam, hanya air mata yang mengalir sebab ia tidak ingin Habibie tahu kalau dia mendengar semuanya. Kini, pinggang Kiara yang hanya ditutupi daster tipis terasa sangat hangat saat telapak tangan besar mengusap pinggangnya perlahan. Tidak bisa dipungkiri kalau itu memang nyaman, terlebih dia tidak merasa sungkan malah ingin Habibie melakukan itu sampai pagi. Anggaplah Habibie sedang menerima hukuman karena selama ini dia selalu menyakitinya.
** ** **
Keesokan paginya, Kiara keluar dari rumah untuk berjalan-jalan di kawasan pesantren. Ada beberapa warung yang jaraknya memang cukup jauh tapi sangat recommended untuk didatangi sebab warung itu menjual bubur ayam yang sangat enak.
Sementara Kiara berjalan tanpa alas kaki, Habibie mengikutinya dari belakang. Pria itu terlalu takut membiarkan Kiara berjalan sendirian, apalagi ini masih sangat pagi, kawasan itu juga adalah kawasan sepi penduduk, lebih tenang kalau Habibie mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
"Eishhhhhhh ... dia pikir dia ini apa," ketus Kiara. Perempuan itu melirik Habibie dengan sudut matanya, berjalan tergesa karena tidak ingin Habibie berbuat seenaknya. Kiara bukan anak bayi, kenapa harus diikuti seperti itu.
"Lah ... Kiara ke mana?" Habibie celingukan, pria itu melirik kanan kiri mencari sosok sang istri tapi tidak dia temui. Habibie hanya berpaling beberapa saat karena ada tanaman merambat yang mengganggu kakinya. Kenapa Kiara sudah hilang saja.
"Kiara kamu ke mana?" Habibie mulai mencari ke area perkebunan teh. Pria itu berharap istrnya sedang bersembunyi atau mungkin Kiara memang sedang ingin mengikuti para pemetik teh yang bekerja mengambil pucuk-pucuk daun hijau tersebut. "Kiaaa~~!" Habibie semakin jauh menelusuri area kebun teh tersebut.
"Pergi jauh-jauh sana! Ngapain sih sok care banget." Perempuan itu keluar dari balik pohon Pinus, berjalan kembali sampai akhirnya dia menemukan warung yang menjual bubur ayam itu.
"Assalamualaikum, Bu, satu porsi, kayak biasa ya."
"Wa'alaikumssalam. Siap, Neng. Ustadz Risyam enggak ikut nih?"
Kiara tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. "Ustadz jadi-jadian itu lagi sibuk, Bu."
Penjual bubur itu tertawa mendengar Kiara memanggil ustadz Risyam ustadz jadi-jadian. Orang-orang di sekitar pesantren itu sudah tahu bagaimana hubungan Kiara dengan Ustadz kesayangan mereka, jika tidak berkelahi, Kiara dan Risyam akan menjadi soulmate yang tidak terpisahkan.
Sekitar pukul 7 : 30. Kiara sudah kembali sampai di rumah Ummi Rahma. Perempuan itu masuk dengan mata berbinar juga wajah cantiknya berseri-seri. "Assalamualaikum, Budhe. Budheeee! Kiara dikasih ubi sama Pak Diman."
Perempuan itu mengacungkan sekantong ubi ungu saat melihat Ummi Rahma keluar dari dalam rumah.
"Wa'alaikumssalam, Kia. Alhamdulillah, mang Diman itu memang baik," ujarnya mengambil alih kantong kresek hitam itu dari tangan Kiara.
Namun, belum sempat Kiara masuk, Ummi Rahma dibuat kebingungan. Ia celingukan melihat ke seluruh sudut, bahkan Ummi Rahma sampai berjalan ke dekat pagar yang bisa melihat langsung ke luar jalan.
"Suami kamu mana Kia?" tanyanya khawatir.
__ADS_1
Kiara mengangkat kedua bahunya acuh. "Suami apa? Mana Kiara tahu, kan Kiara berangkat sendiri."
Astagfirullah ... Ummi Rahma menepuk keningnya. "Ya Allah Nak. Suami kamu tadi ngikutin kamu. Katanya khawatir kalau biarin kamu pergi sendirian. Gimana kalau dia nyasar."