
Kata orang, penyesalan itu selalu datang belakangan. Habibie mulai mengerti keadaan sedikit demi sedikit. 7 Bulan yang lalu, ia kehilangan sosok istrinya, Habibie sudah akan mencari dengan melibatkan kepolisian tapi Amzar menolak. Saat itu terjadi, Habibie mengetahui satu hal bahwa ayah mertuanya mungkin sudah tahu Kiara ada di mana. Habibie sudah puluhan bahkan mungkin ratusan kali menanyakan keberadaan Kiara pada ayah mertuanya, tapi tidak pernah ada hasil.
Apakah Habibie menyerah? Tidak, tidak mungkin dia menyerah begitu saja. Habibie mengandalkan uang, koneksi dan juga orang-orang berpengaruh di sekitarnya. Namun, tetap saja tidak pernah ada kabar baik.
"Kak!" panggil Gibran pelan.
Pria baik itu telah berdamai dengan keadaan. Tidak mungkin Gibran terus marah kepadanya Habibie saat dia tahu kalau kakaknya tidak baik-baik saja setelah kepergian Kiara. Bahkan, setelah kejadian itu, Habibie enggan untuk melihat sosok Humaira, hatinya selalu sakit jika melihat perempuan itu.
Ini memang murni kesalahan Habibie, tapi jika Humaira tidak hadir, mungkin ini semua tidak akan terjadi, Habibie tidak akan kehilangan orang yang sangat dia cintai.
"Aku memang bodoh, Gibran. Apakah aku harus selalu menyadari perasaan ku setelah kehilangan? Kenapa setelah Kiara pergi aku baru mengerti bahwa aku sangat mencintainya?"
Gibran menarik napas panjang. Pria itu tidak tahu harus mengatakan apa. Tujuh bulan bukan waktu yang sedikit untuk Habibie bisa menerima kenyataan ini. "Kak Kiara pasti kembali, Kak Abie. Sekarang sudah malam. Pulanglah! Kakak harus sehat, jangan sampai ketika Kak Kiara pulang, Kakak malah sakit dan enggak bisa ngelakuin apa-apa."
Settt!
Brukk!
Dalam waktu seperkian detik, Habibie mampu menarik kerah kemeja yang dikenakan Gibran juga memojokannya pada meja kerjanya sehingga sebagian besar dari barang-barang yang ada di atas meja itu berhamburan ke bawah.
"Kamu itu enggak bakalan negerti bagaimana aku saat ini, Gibran. Kiara pergi karena ulah ku, dia pergi karena aku sudah terlalu banyak menyakitinya. Kamu bisa mengatakan itu karena kamu tidak merasa bersalah, bagaimana dengan aku ... bagaimana Gibran!"
Pria itu melepaskan cengkeramannya pada baju Gibran. Wajah tampannya semakin acak-acakan. Tidak ada kehidupan, Habibie benar-benar hancur setelah Kiara pergi meninggalkannya tanpa sepatah kata pun.
"Aku mencintainya, Gibran. Aku membutuhkannya."
__ADS_1
"Kalau kau sangat mencintainya, buktikan Habibie. Jangan merengek seperti seorang wanita. Kamu itu laki-laki. Cari istrimu sampai ke pelosok negri. Jika perlu, mata-matai ayah mertuamu agar kamu bisa menemukan istri kamu."
Habibie terdiam, pria itu duduk pada sofa yang ada di ruangannya. Bagaimana mungkin Habibie melakukan itu semua, tidak mungkin Habibie memata-matai ayah mertuanya sendiri, ini keterlaluan. Jika Amzar tahu dia melakukan itu, Amzar pasti aka sangat kecewa.
"Saya tidak bisa melakukan itu, Gibran."
Pria itu mengangkat kedua bahunya acuh. Terserah lah bagaimana maunya Habibie. Gibran hanya mencoba untuk memberikan solusi tapi sepertinya Habibie tidak bisa mengambil solusi darinya.
"Jangan sampai kamu menyesal Habibie!"
** ** **
Sekitar pukul 03:30, Kiara bergerak gelisah dalam tidurnya, perempuan itu sudah berusaha untuk miring ke kiri, miring ke kanan, tapi rasanya nyaman itu tidak bisa dipertahankan. Kiara akhirnya membuka mata dan menyalakan lampu kamar, dia duduk mengambil kipas manual yang di kibas-kibaskan ke bagian lehernya.
Usia kandungannya telah menginjak 8 bulan, semakin hari, Kiara semakin kesulitan untuk beraktivitas. Bukan karena apa, tapi perutnya semakin berat, pangkal pahanya juga sudah tidak nyaman saat digunakan untuk beraktivitas lama. Pinggangnya sakit, untuk tidur pun Kiara harus mencari posisi ternyaman tapi tidak pernah dia temukan.
"Keluar bentar deh."
Perempuan itu membuka pintu kamar pelan-pelan takut kalau dia akan membangunkan orang-orang.
"Dek!" panggil Risyam tiba-tiba.
"Risyam," sahut Kiara yang berjalan dengan tangan di pinggang. Khas bumil-bumil yang perutnya sudah sangat besar. "Aku bangunin kamu ya? Enggak sengaja, Syam. Aku kegerahan, di kamar panas."
" Enggak kok. Tapi, bukannya di kamar kamu ada kipas angin, Dek. Kenapa enggak dinyalain?"
__ADS_1
"Aku takut anak aku masuk angin, Syam!"
Pria itu menggelengkan kepalanya mendengar jawaban absrud dari Kiara. Bisa-bisanya perempuan ini mengatakan hal konyol seperti itu.
"Ya jangan di arahin ke perut atuh kipas anginnya." Risyam meladeni Kiara. "Mau dibuatkan minum?"
"Bolehkah?"
"Boleh dong. Tapi jangan minta air es. Yang lain aja."
"Eishhh ... baru saja mau minta es jeruk." Kiara bergumam dengan kekesalan dalam hatinya. "Ya sudah, minta jeruk anget aja deh."
Risyam pun mengangguk mengiyakan. Dia tersenyum melihat Kiara yang duduk dengan bibir mengerucut tinggi. Pria itu tahu kalau Kiara ingin meminta es jeruk alih-alih jeruk hangat. Tapi di jam seperti ini minum air es? Risyam takut mengganggu kesehatan adik sepupunya.
"Beginilah kalau bocil sudah mau punya bocil, enggak ada perubahan."
Stelah beberapa saat, Risyam membawa teh hangat dan juga jeruk hangat di tangannya. Ia meletakan teh di depannya, dan jeruk hangat di depan Kiara.
"Makasih!"
"Sama-sama, Kia," jawab Risyam dengan senyum di bibirnya. "Dek!" panggilnya lagi.
"Kenapa?" tanya Kiara masih menunduk menikmati jeruk hangatnya.
"Maaf sebelumnya, tapi, apa kamu enggak niat buat kasih tahu suami kamu kalau kamu ada di sini? Status kalian masih suami istri lho, enggak baik mengabaikan suami terlalu lama. Kalian itu masih terikat tali pernikahan."
__ADS_1