
Kiara menginjakan kakinya di depan sebuah rumah mewah yang sangat megah. Ini benar-benar luar biasa, bahkan jika dibandingkan dengan rumah lamanya, ini bisa dua sampai tiga kali lebih besar dari rumah lama mereka.
"Sebenarnya, mas enggak beli rumah ini sendirian. Ummi, Ayah, sama Abi Fawas ikut memberikan hadiah ini untuk kamu, Sayang. Atas nama kamu, mas enggak punya hak apa pun."
Kiara menolehkan kepalanya dengan mata memincing, benarkah itu? Tapi, untuk apa rumah sebesar ini ... "Bi Arum, sama yang lainnya gimana? Devi sama Mang Agus masih kerja sama kita kan?"
Tepat ketika Kiara mempertanyakan masalah itu, dua pintu kayu menjulang tinggi di depan Kiara dan Habibie berbuka. Pasukan orang-orang itu muncul dengan ketiga personil intinya di depan.
Bi Arum langsung mendekati Kiara, memeluk Kiara dengan derai air mata. "MasyaAllah ... Nyonya kemana aja?" lirihnya tanpa bisa Bi Arum tahan. "Kita kangen sama Nyonya ... kenapa baru pulang?"
Tepukan demi tepukan menenangkan Kiara berikan di atas punggung BI Arum. Ia tersenyum, melirik ke arah Habibie, dan juga kedua mertuanya. Syukurlah, Habibie masih mempertahankan orang-orang ini. Kiara akan kesepian kalau sampai Bu Arum, Devi, Mang Agus sama yang lainnya tidak ada.
"Saya cuma lagi cuti melahirkan Bi," guyon Kiara yang mana hal itu malah semakin membuat tangis Bi Arum pecah. Di belakang Bi Arum, tak berbeda jauh keadaannya, Devi ikut menangis. Kiara ini sudah terlalu baik, meskipun dia memiliki segalanya, Kiara masih bisa memanusiakan manusia, mungkin itulah alasannya kenapa mereka sangat sedih saat Kiara tidak ada dan begitu bahagia ketika perempuan itu kembali ke hadapan mereka.
Sini, Vi!" ajak Kiara merangkul Devi untuk masuk ke pelukannya. Perempuan itu menurut, dia benar-benar sangat bersyukur karena bisa dipertemukan kembali dengan Kiara dan juga personil baru di rumah besar itu.
__ADS_1
"Mang Agus enggak usah!" kata Habibie.
Semua orang mendadak tersenyum. Mereka dibuat tertawa sebab tak kuasa melihat wajah malu Mang Agus. Padahal, Kiara pun tahu kalau Mang Agus tidak akan mungkin melakukan hal itu. Hanya saja, Habibie yang terlalu sensitif tidak bisa membiarkan kemungkinan sekecil apa pun terjadi.
** ** **
"Sayang ...!"
Habibie memeluk sang istri dari belakang, pria itu menumpukan dagunya di atas bahu sang istri untuk menghirup bau wangi istri cantiknya.
"Suka enggak sama rumahnya? Kalau enggak kita cari lagi yang lain."
"Ini sudah cukup, Mas. Kiara suka, yang terpenting itu bukan bangunannya, tapi siapa yang ada di dalam rumah itu."
Tangan Kiara terulur, menyentuh wajah sang suami, membelainya dengan sangat lembut. Apalagi yang kurang setelah Kiara mendapatkannya semuanya. Rumah itu juga sudah dilengkapi lift meskipun memang hanya ada tiga lantai dengan rooftop dan gazebo di bagian paling atas.
__ADS_1
"Mas lebih penting daripada ini semua. Kiara udah bukan Kiara yang dulu, Mas. Sekarang Kiara bisa hidup di tempat seperti apa pun. Kiara enggak harus selalu tinggal di rumah mewah. Kiara hanya ingin cinta Mas Abie, Kiara cuma mau Mas hargai Kiara sebagai istrinya Mas, bukan yang lainnya."
Habibie mengangguk. Pria itu menggenggam telapak tangan sang istri yang ada di atas pipinya. Menaruh jemari tangan mungil istri kecilnya di atas dada sebelah kiri. Tatapannya dalam menenangkan, juga senyum pada bibir pria itu begitu mendebarkan.
"Sayangnya mas sudah ada di sini. Tidak akan ada nama lain selain nama Kiara Aleema Jaleela. InsyaAllah, mas hanya akan menyimpan nama itu, tidak akan ada yang lain. Hanya kamu yang akan menjadi wanitanya, mas dan ibu dari anak-anak mas. I love you, I can't describe how much I love you, Baby. However, one thing you must know is that this love is really just for you, not for anyone else."
Kiara menyunggingkan senyum. Perempuan itu menutup kelopak matanya perlahan ketika Habibie semakin menunduk, menarik pinggangnya membuat jarak diantara mereka terkikis habis. Sapuan lembut yang sudah sangat Kiara rindukan itu benar-benar membuat hatinya menghangat setelah lama membeku.
Kiara mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami, merima dan memberi, keduanya terhanyut dalam buaian cinta yang selama ini terpendam cukup lama. Haru, bahagia ... semua perasaan itu bercampur menjadi satu.
"Mas!" Kiara melepaskan tautannya dengan napas terengah-engah. Bibir itu menyunggingkan senyum, ia memeluk suaminya, menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang suami seraya menatap ke arah bayi kecil yang ada di atas ranjang.
"Jangan membuat masalah, Kiara bisa membantu mas Abie. Tapi ... bagaimana dengan Kiara?"
Habibie mengerti. Pria itu mengangguk mengiyakan, berusaha menenangkan debaran menggila juga meredam gelora membara yang sudah naik ke ubun-ubun. "Mas akan menunggu ... seharusnya ini tidak akan lama," bisik pria itu membuat semburat merah mencuat dari pipi perempuan yang ada dalam dekapannya.
__ADS_1
"Kiara juga cinta sama Mas Abi, dari dulu sampai sekarang, perasaan ini tidak pernah berubah, Mas."
Habibie mengecup puncak kepala sang istri berkali-kali. "Mas tahu, terima kasih. Mulai sekarang, biarkan mas yang lebih mencintaimu."