
Perempuan itu mendelik ketika berpapasan dengan Habibie. Ia sama sekali tidak mengindahkan suaminya yang kini tengah menatapnya penuh kebingungan. Langkah riangnya membawa Kiara turun ke lantai bawah dengan wajah ceria.
"Dasar aneh!" ketus Habibie mengangkat kedua bahunya acuh.
"Biiii!" panggil Kiara.
"Iya Nyonya, ada apa?"
Kiara tersenyum memperlihatkan lesung pipinya. Perempuan ini sangat cantik, apalagi jika tengah bahagia seperti sekarang ini.
"Saya mau belajar cara bikin Teh sama kopi. Mas Abie suka itu pan?" Kiara berbicara dengan berbisik. Perempuan itu takut kalau Habibie akan mengetahui rencananya yang akan mulai belajar untuk meluluhkan hati sang suami.
Bi Arum menanggapi itu dengan senyuman. Ia membawa Kiara ke pantry dry kitchen, mengambil beberapa toples jenis kopi dan teh yang biasanya Habibie minum.
"Astagfirullah ... ini apa Bi? Kok banyak banget. Ini semua bisa diminum?"
"Bisa atuh Nyonya. Kalau Tuan mah biasanya emang lebih suka teh herbal, jenis kopi yang diminum pun hanya beberapa yang ada di toples ini. Setiap toples memiliki rasa dan aroma yang berbeda, juga tidak semuanya bisa dibuat menjadi latte!"
Alamakkkkk. Habislah Kiara, baru akan memulai sudah dihadapan dengan hal-hal seperti ini. Dia pikir, dia hanya akan belajar memahami dua benda saja, teh dan kopi, tapi kenapa malah merambat seperti ini.
"Kalau teh herbalnya gimana, Bi? Apa yang harus saya buat?"
"Kalau malam, biasanya Tuan akan minta dibuatkan Teh Linden Lemon. Ini baik untuk meredakan stress atau mencegah insomnia, pokonya banyak khasiatnya."
"Kalau siang?" tanya Kiara.
__ADS_1
"Siang jarang sih, Tuan soalnya biasa di kantor, tapi kalau libur suka tak buatkan teh rosemary atau teh jerami gandum untuk menghilangkan penat."
"Kalau pagi?"
Bi Arum tertawa kecil. "Kalau enggak teh hijau, biasanya kopi pahit tanpa gula. Tergantung Tuan maunya apa. Dan untuk Teh Linden, kita enggak bisa sembarang kasih, karena kalau ada indikasi kesehatan tertentu, tekanan darah yang mengonsumsi teh tersebut bisa turun sampai ke dasar!"
"Owalaa ... kok susah banget sih Bi. Saya jadi bingung, gimana kalau saya salah bikin ramuan terus Mas Abie masuk rumah sakit. Bisa dipecat saya sebagai istri! Ikh, ngeri."
Perempuan itu mengerucutkan bibir, ia menatap toples - toples kaca itu dengan tatapan sendu. Ingin menyerah tapi tidak mungkin, Kiara tidak boleh kalah dari suaminya yang sangat pemarah itu.
"Nyonya pasti bisa kok! Sama satu lagi, Tuan Habibie alergi kacang-kacangan. Efeknya bisa sangat fatal untuk beberapa jenis kacang tertentu!"
Kiara mengangguk mengerti. Ia mencoba untuk mengingat semuanya. "Kalau gitu saya mau belajar menghafal semuanya dulu Bi. Nanti malam baru saya belajar buat tehnya. Boleh 'kan Bi?"
"Boleh dong, Nyonya. Saya senang kalau Tuan sama Nyonya akur. Ademmmm kayaknya rumah ini."
....
Siang harinya, Kiara masih berkutat dengan buku kecil dan juga pulpen di tangannya, sesekali ia memperhatikan jenis-jenis teh yang ada di dalam toples kemudian dia cari informasi tentang teh herbal tersebut di internet lantas dia catatkan di atas buku miliknya.
"Alhamdulillah!" gumam Kiara. Perempuan itu merenggangkan tubuhnya, tersenyum karena tugas utama Kiara sudah selesai. Kini tinggal harus menghafal surah-surah yang tadi dia setorkan pada suaminya.
"Nyonya, ini sudah siang, mau makan dulu?" tanya Bi Arum.
"Nanti aja Bi. Saya mau shalat dulu. Nanti saya turun lagi kalau sudah lapar!"
__ADS_1
"Tapi Nyonya!"
Belum sempat Bi Arum menyelesaikan kalimatnya, Kiara sudah pergi menjauh. Perempuan itu berlari naik ke lantai atas dengan semangat 45.
Selesai dengan shalatnya, Kiara tidak menepati janji, perempuan itu malah mengambil mushaf Alquran, membuka lembaran itu juga mengambil ponselnya, Kiara harus mencari referensi yang bagus agar bacaan dan hafalan nya tidak melintas ke kamana-mana.
Cukup lama perempuan itu mendengar dan mengucapakan apa yang dia pelajari, duduk di atas sofa panjang, pindah ke meja rias, kembali berbaring di atas karpet, dan sekarang persinggahan terakhirnya adalah di atas ranjang. 3 jam lebih perempuan itu terus menghafalkan apa yang tadi pagi suaminya ajarkan, mungkin karena terlalu lelah, Kiara tertidur dengan mushaf dia atas dadanya.
"Nyonya!" panggil Bi Arum. Ketukan demi ketukan perempuan itu lakukan, tapi Kiara masih tidak menyahut. Takut terjadi sesuatu, Bi Arum membuka pintu kamar itu perlahan. Betapa senangnya, Bi Arum melihat kesungguhan Kiara, perempuan itu tertidur dengan perut kosong.
Bi Arum mengambil ponsel yang ada di dalam sakunya, kening perempuan itu mengerut saat melihat nama Habibie ada di sana.
"Assalamu'alaikum, Tuan!"
"Wa'alaikumssalam!" jawab Habibie. "Kiara ada di rumah enggak Bi? Tolong jangan dibiarkan keluar dulu ya! Kiara masih belum boleh bertemu temannya!"
"Enggak Tuan, Nyonya ada di rumah kok. Hari ini Nyonya bekerja keras untuk memperbaiki hafalannya, Nyonya sampai tidak makan siang, sekarang malah ketiduran!"
Habibie menyunggingkan senyum, pria itu melepaskan kacamata baca dari atas tulang hidungnya. Perasaan bersalah tiba-tiba muncul, apa mungkin dia terlalu keras terhadap perempuan itu.
"Ya sudah, Bi. Nanti kalau bangun tolong diingatkan untuk makan ya. Saya pulang agak malam!"
"Baik, Tuan!"
Habibie mengembuskan napas berat, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kebesarannya. Kepalanya mendongak, hembusan napas kasar keluar begitu saja.
__ADS_1
"Apa yang sedang kau rencanakan, Kiara!"