
Sekitar pukul 7 pagi, keluarga Pak Fawas susah bersiap - siap untuk pergi ke tempat dimana pernikahan akan dilangsungkan. Gibran terlihat sangat gagah. Ia dan Humaira memilih konsep Malaysian untuk pakaian yang mereka kenakan. Gibran mengatakan kalau dia tidak ingin membuat pesta meriah, hanya akan melangsungkan akad pernikahan setelah itu barulah acara syukuran, sedekah dan berbagai makanan dengan anak-anak yatim. Bukan tidak mengundang orang, tapi tidak akan ada hiburan.
"Ayok, Nak. Nanti terlambat, jangan lupa periksa lagi penampilan kamu itu."
Ummi Amelia mengingatkan, ia sendiri sudah keluar dari dalam rumah, melihat orang-orang yang membawa barang-barang untuk diserahkan kepada pihak mempelai wanita.
"Gibran udah siap, Ibu."
Pria itu tersenyum. Ia keluar daru rumah dengan gagahnya. Pria itu masuk ke dalam mobil, diikuti oleh ibu dan juga ayahnya. Mereka terdiam cukup lama. Pikiran itu melayang, membayangkan bagaimana reaksi Habibie saat kembali, ia meminta Ummi dan Abi untuk menunda akad pernikahan, tapi mau bagaimana, Gibran tidak ingin melakukan hal itu, yang butuh adalah Gibran, terlebih setelah bertemu dengan Humaira, mereka tahu alasan kenapa Gibran mau menikah dengan perempuan itu.
Niat baik Gibran untuk menolong pernikahan Habibie dan Kiara juga untuk merawat Humaira tidak bisa dianggap remeh. Ini adalah yang terbaik untuk Habibie mereka harus menikahkan Humaira dan Gibran secepatnya.
"Gibran deg-degan, Abi."
Abi Fawas tersenyum, menggenggam tangan Gibran dan berucap, "Wajar kalau gugup, Abi dulu juga gitu, malah sampai ngulang akad 3 kali."
"Iya kah?" Gibran terkejut, Abinya ini adalah orang hebat, publik spikingnya bagus, terlebih ilmunya juga sangat luas, tapi masa iya ketika ijab kabul sampai harus diulang-ulang.
"Abi sungguh-sungguh. Tanya aja sama Ummi kamu. Iya enggak Mi?"
Perempuan di samping Gibran mengangguk. Bukan hanya mengulang tiga kali, tapi lutut pria itu tremor, Fawas bahkan harus bolak-balik ke kamar kecil. Jika kembali mengenang masa-masa itu rasanya mereka ingin tertawa saja.
"Pokonya kamu harus ingat satu hal, kegugupan akan menghancurkan segalanya. Kamu harus rileks supaya enggak berakhir seperti Abi kamu itu."
"Siap, Ummi."
** ** **
Sudah hampir sembilan jam diperjalanan, dimulai dari persiapan dan juga sekarang mereka sedang berada di dalam mobil, Kiara dan Habibie tengah harap-harap cemas, masalahnya, Kiara tidak tahu menahu tentang perempuan yang akan menikah dengan Gibran, pria itu juga cukup dekat dengannya, tapi tidak mengabarinya kalau dia akan melepas masa lajang.
"Mas!" Kiara memanggil sang suami. Tidak ada jawaban, Habibie bungkam sambil menatap jendela kaca pada mobil itu. Kiara pun tersenyum, dia pikir mungkin suaminya hanya sedang lelah saja, jadi ia pun memutuskan untuk tidak berbicara.
__ADS_1
Sekitar pukul 9 pagi, mobil yang ditumpangi Habibie dan Kiara telah sampai di depan gedung pernikahan Gibran dan Humaira. Mereka jelas melihat puluhan rangkain bunga ucapan selamat dari relasi bisnis dan juga dari teman-teman Gibran.
"Mas Abie!"
Lagi-lagi Kiara memanggil, tapi bukannya menjawab, Habibie malah berjalan lebih dulu. Dia begitu tergesa untuk masuk. Kedua kalinya Kiara mencoba untuk bersabar, mungkin karena Habibie ingin melihat pernikahan adiknya, dia sangat terburu-buru. Pria itu lupa kalau Kiara masih jet leg, perempuan itu hampir saja jatuh jika tidak berpegangan pada mobil. Menarik napas, mengembuskannya perlahan, perempuan itu baru melangkah setelah yakin kalau dia bisa berdiri dengan tegak.
**
Habibie mematung. Langkah pria itu melambat saat matanya melihat perempuan yang mirip dengan Aisyah berdiri di samping Gibran, perempuan itu terlihat sangat cantik. Binar di matanya juga menunjukkan kalau dia sangat bahagia dengan pernikahannya dan Gibran.
"Ekh!"
Humaira menoleh begitu Gibran menarik pinggangnya padahal mereka sedang membalas ucapan selamat dari para tamu undangan.
Pria itu sama sekali tidak merasa bersalah, Gibran menyunggingkan senyum begitu melihat Habibie berjalan mendekat ke arahnya.
"Gibran!"
"Ada yang harus kita bicarakan, sebaiknya ikut aku sebentar!"
Di ujung sana, Ummi Amelia dan Abi Fawas terlihat sangat gugup. Mereka takut kalau Habibie dan Gibran akan berkelahi karena sebuah masalah yang menyangkut perempuan.
"Apa mereka akan baik-baik saja, Abi?"
Abi Fawas menggenggam tangan istrinya kuat. Entahlah, dia juga bingung, tapi Abi Fawas berharap kalau Habibie tidak bersikap kekanakan.
Perempuan di ambang pintu aula itu pun mematung layaknya sang suami sebelumnya. Ia menatap lurus ke depan, melihat Humaira, sosok pengantin yang sedang berdiri di depan pelaminan tanpa sosok Gibran. Awalnya Kiara pikir dia salah ruangan, tapi setelah itu Kiara menutup mulutnya yang ternganga. Ada Ummi dan Abinya. Itu artinya, perempuan cantik di depan sana adalah iparnya?
"Subhanallah ... kenapa sangat mirip dengan Mbak Asiyah. Dan ke mana orang-orang itu pergi?"
Yang Kiara tanyakan adalah sosok suaminya. Kiara melangkahkan semakin mendekat, berdiri di depan Humaira tanpa memperdulikan orang-orang yang berlalu lalang bahkan ada yang sempat menyenggol bahunya.
__ADS_1
"Mbak Aisyah!"
Kalimat yang keluar dari mulut Kiara membuat senyum di bibir Humaira memudar begitu saja. Untuk kesekian kalinya Humaira mendengar orang lain memanggilnya dengan nama itu.
"Maaf, Mbak. Saya Humaira."
Kiara menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin, tidak mungkin ini Humaira, jelas-jelas perempuan itu adalah Asiyah. Kiara yakin dia adalah istri pertama suaminya.
"Astagfirullah Abi! Bagaimana ini?" Ummi Amelia kembali dibuat takut. Bagiamana dia tidak takut kalau Kiara dihadapkan dengan perempuan yang mungkin saja tidak dia sukai.
** ** **
Kedua pria itu sampai di tempat yang sepi. Detik-detik pertama masih biasa saja, semuanya aman tanpa kendala. Namun, beberapa saat kemudian, Habibie menarik bahu Gibran agar adiknya itu bisa menatapnya.
"Apa maksud kamu menikahi Humaira Gibran? Kamu tidak mencintainya bukan? Kenapa kamu menikahinya? Apa karena dia mirip dengan Almarhumah?"
Gibran menyunggingkan senyum sinis. "Kalau iya kenapa?"
Bughhhhh!
Satu pukulan telak mendarat di pipi Gibran. Pria itu bukannya marah malah tersenyum, ia mengusap sudut bibirnya yang sedikit berdarah. Belum sempat ia berdiri dengan tegak, Habibie sudah kembali menarik kerah baju yang dia kenakan dan berniat untuk mengajar wajahnya lagi.
"Apa? Mau pukul? Pukul Kak! Pukul aku sekarang juga!"
Gibran kehilangan kesabaran. Apa salahnya jika dia menikah dengan Humaira.
"Kakak juga mau menikah dengannya? Dengan perempuan itu? Karena Humaira mirip dengan Almarhumah? Lalu bagaimana dengan Kak Kiara? Mas mau bikin Kak Kiara nangis lagi hah?"
Rahang Habibie mengetst dengan kuat. Pria itu mengeram seraya melepaskan cekalan tangannya pada baju Gibran.
"Kenapa harus Humaira Gibran? Kenapa tidak mencari wanita lain hah? Kenapa?"
__ADS_1