Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
Bab 24. Masa Lalu


__ADS_3

Perempuan itu bersorak heboh ketika Habibie berhasil memancing ikan dengan ukuran sangat besar, ia menyerobot ikan itu dari tangan Habibie lantas mengangkatnya dengan kedua tangan. Senyum di bibirnya sangat lebar. Dia menunjukan ikan itu kehadapan Fawas dan Amelia dengan sangat bangga. Padahal, yang memancing ikan itu bukan Kiara, melainkan suaminya.


"Punya Kiara besar banget, Ummi! Abi Fawas kalah nih sama Mas Habibie. Ekh, ekh!"


Raut wajah perempuan itu tiba-tiba berubah ketika ikan yang ada di genggaman terus saja bergerak tak kalah heboh darinya. Habibie dan kedua orangtuanya hanya bisa melihat itu dari kejauhan, mereka bingung harus melakukan apa karena tidak mungkin mereka ikut memegangi ikan tersebut bukan.


"Yah ... Ummiiii!"


Byurrrrrrr!


Ikan mas dengan ukuran besar itu kembali masuk ke dalam kolam.


"Hei!" Habibie memekik, tangan pria itu terulur dan dengan cepat menarik pinggang Kiara, perempuan itu refleks berbalik. Tangan dan lengannya mendarat dengan sempurna di depan dada suaminya juga sepasang netra saling menatap untuk menyelami tatapan satu sama lain.


Fawas dan Amelia saling senggol, mereka tersenyum lantas mengendap-endap menjauhi tempat tersebut. Rasanya sangat membahagiakan melihat Habibie kembali memeluk perempuan. Iya, karena sejak kepergian Aisyah. Istri pertamanya, Habibie tidak pernah ingin dekat dengan perempuan mana pun. Hal itu tentu saja membuat mereka sangat takut. Menduda lima tahun tanpa menyentuh perempuan, bagaimana mungkin mereka tidak khawatir.


Jika dilihat dari sudut pandang yang baik, mungkin Habibie hanya tidak bisa move on. Tapi jika kurang baik, bisa jadi ... wes naudzubillah.


"Kita dulu kayak gitu enggak ya, Bi?"

__ADS_1


Amelia bertanya masih dengan sesekali melirik ke arah Kiara dan Habibie.


Fawas tersenyum, jika dia Habibie bisa lebih romantis dan bisa lebih sabar menghadapi Kiara, mungkin mereka akan terlihat seperti duplikat Amelia dan Fawas di masa lalu. Tapi, Fawas tahu kalau Habibie masih belum bisa menerima Kiara dengan hatinya.


"Kita masuk aja, shalat ashar terus masak buat nanti malam!"


Amelia pun mengangguk. Ia tidak mau mengganggu waktu Kiara dan Habibie. Sepasang suami istri itu masih terlihat sangat canggung. Jadi, dia memang harus memberikan waktu banyak untuk keduanya agar bisa lebih dekat.


Kiara kembali merasakan itu, degup jantung yang tidak karuan, juga tatapan yang tidak bisa beralih dari sosok di depannya. Mata bening Habibi, dada bidangnya, aroma pria itu, semuanya complicated untuk Kiara yang belum pernah sedekat ini dengan pria mana pun.


Hal yang lebih membuat Kiara takut, debaran jantung itu dibarengi desiran aneh. Darahnya mengalir semakin hangat, napasnya agak berat sehingga dia refleks mendorong dada pria itu. Kiara gelagapan. Perempuan itu berlari meninggalkan Habibie lantas masuk ke dalam vila.


Pria itu hanya memantung di tempatnya, tidak bisa bergerak juga hanya menatap punggung Kiara dengan dalam. Tangannya masih terambang di udara, perlahan, kepalanya menunduk, menatap jari jemari yang semakin hari semakin tidak sopan. Semakin sering menyentuh Kiara seolah memanfaatkan kesempatan padahal tidak, dia hanya ingin menolong Kiara yang akan jatuh ke dalam kolam ikan.


....


"Jangan cengeng! Kalau kau mau makan ikan, kita bisa keringkan kolamnya! Kau bebas mau makan ikan berapa pun yang kau mau."


"Abiee~~" Ummi menyenggol lengan anaknya. Habibie ini tidak peka sekali. Mereka semua tahu alasan kenapa Kiara menangis, tapi kenapa Habibie malah mengolok-olok Kiara seperti itu.

__ADS_1


"Apa Ummi?" Habibie malah berekspresi seperti tidak ada rasa bersalah.


Ummi Amelia mendengus. Perempuan itu memukul lengan Habibie lantas duduk di samping Kiara. "Jangan sedih, Sayang ... enggak papa kalau ikannya loncat lagi ke kolam, itu artinya, ikan tersebut masih memiliki umur, dan untuk kita masih belum rejekinya."


"Tapi Ummi."


"Enggak papa. Kita baik-baik aja kok. Makanan juga banyak. Enggak usah khawatir. Sekarang makan ini saja, bukannya wortel ini tadi kamu yang ambil! Rasanya pasti sangat enak."


Senyum simpul tersungging di bibir perempuan itu. Dia menerima lauk pauk yang disodorkan mertuanya dan menikmati itu masih dengan linangan air mata.


Jika boleh jujur, bukan ikan itu yang membuat Kiara menangis, tapi kenangan pahit yang terjadi belasan tahun lalu. Keluarganya, ibunya ... Kiara selalu merasa jika dia adalah anak yang tidak beruntung.


....


Hujan besar mengguyur kawasan tersebut kala itu. Kilat menyambar juga suara petir menggelegar membuat seseorang yang tengah menikmati teh malam sambil melihat pekerjaan termenung. Tangan besarnya melepaskan kacamata baca dari tulang hidung, Habibie menoleh kanan kiri, tidak ada Kiara, pengganggu itu tidak berkeliaran.


Karena penasaran, Habibie pun beranjak dari kursi dan meja yang dia gunakan untuk bekerja sambilan. Amelia dan Fawas sudah kembali ke kamar mereka untuk beristirahat, tapi sejak itu, dia tidak melihat lagi keberadaan istrinya.


Langkah Habibie berhenti tepat di depan pintu kamar yang sudah dia buka. Tidak langsung masuk, melainkan mengitari kamar tersebut dengan netranya untuk mencari kemana Kiara pergi.

__ADS_1


Ketika pintu tertutup perlahan, langkah Habibie pun membawanya masuk sedikit demi sedikit, lampu kamar temaram membuatnya tidak leluasa, dan ketika Habibie menyalakan lampu utama, alangkah terkejutnya dia ketika melihat sosok perempuan yang tengah dia cari sedang meringkuk di samping ranjang dengan tubuh bergetar seperti orang yang menggigil.


"Kiara!"


__ADS_2