
Sudah dua minggu sejak Habibie mengatakan kalau dia akan belajar untuk mencintai Kiara. Perempuan itu semakin hari semakin berseri. Seperti hari ini, ia berjalan dengan langkah anggun di lobby perusahaan. Perempuan itu menenteng makan siang buatannya pada tangan kanan, sedang tangan kirinya membawa laptop yang semalam dia bawa ke rumah.
Kelakuan Kiara semakin hari semakin menjadi, Habibie yang menjadi Boss, tapi Kiara sebagai pengatur segalanya. Perempuan itu sesekali akan datang sebelum jam makan siang, Kiara berdalih jika perut suaminya lebih penting daripada apa pun. Kiara juga bisa mengerjakan hal-hal yang tidak terlalu penting di rumah.
Bukan berarti Kiara sok iyeh, tapi dia tahu kapan harus ada di samping sang suami kapan waktunya dia bisa melonggarkan jadwal.
"Ikh, gimana cara mencetnya." Kiara menoleh kanan kiri, tidak ada siapa pun di sana. Perempuan itu sudah akan menaruh laptopnya di atas lantai tapi tiba-tiba seseorang datang membantunya untuk memencet lift itu.
"Terima kasih," ucap Kiara pada cleaning servis perempuan yang baru saja menolongnya. Kiara baru akan mencari tahu nama perempuan itu tapi pintu lift sudah lebih dulu tertutup.
"Ya sudahlah, nanti juga ketemu lagi. Mas Abie pasti seneng aku masakin menu baru."
Perempuan itu kembali berlari menuju ruangan suaminya. Sayang, saat itu Kiara tidak bisa merapikan penampilan karena tangannya terlalu sibuk membawa barang.
"Assalamu'alaikum!" Kiara menerobos masuk pintu ruangan sang suami dengan cara mendorong pintu itu menggunakan tubuhnya. Ia langsung meletakan kotak bekal sebesar gaban juga laptop miliknya ke atas meja kerja sang suami, mengitari meja itu untuk duduk di atas pangkuan suaminya.
"Wa'alaikumssalam, Sayang ... di si--"
Cup!
Kiara mengecup pipi sang suami, meninggalkan bekas lipstik di sana sebagai tanda kepemilikan. Tidak cukup sampai di sana, Kiara juga mengecup pipi lain, kening dan terakhir mengecup bibir sang suami cukup lama.
"Kiara kangen, Mas Abie. Mas Abie enggak kangen sama Kiara? Kok Mas Abie jahat sih."
Kiara meraih tangan Habibie merapatkan pelukan tangan Habibie di pinggangnya juga mengarahkan tangan Habibie yang lain untuk mengusap kepalanya.
"Kiara suka di elus, Mas Abie. Jangan lepasin Kiara, Mas."
"Ekhemmmm."
Kening perempuan itu mengerut dalam, ia mendekatkan telinganya ke leher sang suami untuk memeriksa apakah suara deheman itu berasal dari tenggorokan suaminya atau bukan.
"Suara siapa, Mas?" Kiara mendongak, ia menatap mata sang suami dengan binar tanda tanya.
Habibie dibuat ingin tertawa. Perut pria itu tergelitik mengetahui betapa polos dan apa adanya sang istri.
"Itu!" tunjuk Habibie menggunakan dagunya.
Kiara refleks menoleh, perempuan itu terbelalak dan langsung beranjak saat melihat Abi Fawas dan Gibran sedang menatapnya sambil tersenyum.
"Abi. Gibran!"
__ADS_1
Tangan perempuan itu mengambil selembar tissue, mengusap wajah suaminya yang malah dia obok-obok dengan tujuan untuk menghapus bekas lipstik di wajah itu.
Gibran dan Fawas tergelak cukup keras. "Jangan hancurkan wajah suamimu, Nak. Abi dan Gibran sudah selesai kok. Lanjutkan aja!"
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumssalam," jawab Habibie dengan senyum tertahan.
Kiara menunduk, wajah perempuan itu telah memerah menahan malu. Oh sungguh, jika itu hanya Ali atau cuma Gibran, Kiara tidak akan semalu ini. Tapi itu Abi Fawas, ayah mertuanya.
"Mas Abie~~~ Mas Abie sengaja 'kan bikin Kiara malu. Mas Abie kok tega sih!"
Bukannya menjawab, Habibie lebih memilih untuk menarik tangan Kiara yang mana hal tersebut membuat perempuan itu kembali terduduk di atas pangkuannya.
"Mas tadi udah mau bilang kalau di sini ada Abi sama Gibran, tapi kamu enggak kasih kesempatan Mas buat ngomong."
Kiara mengerucutkan bibirnya tinggi. Perempuan itu memukul dada sang suami tapi Habibie meredam kemarahan sang istri dengan memeluk dan mengusap punggungnya penuh perhatian.
"Enggak usah malu. Kan enggak sengaja. Ini salah mereka yang datang ke kantor mas 'kan?"
Kiara mengangguk. Perempuan itu mengiyakan meskipun dia tahu kalau Habibie hanya bercanda, sebab, di sini yang salah adalah dirinya, bukan Abi Fawas atau Gibran.
"What? Jangan ngaco, Neng. Gimana ceritanya kodok bisa kamu masak."
Kiara terkekeh. Perempuan itu menuntun Habibie untuk duduk di sofa kemudian dia letakan kotak bekalnya di depan sang suami.
"Kiara cuma bercanda, Mas Abie. Ini daging ayam, Kiara pilih paha ayam khusus yang sebelah kanan aja."
Kening pria itu mengkerut mendengar penuturan istri cantiknya. "Beli di mana? Kok bisa?"
"Bisa dong," jawab Kiara dengan wajah berbinar. Dia mengambil nasi, olahan asparagus dan juga daging asam manis filet paha ayam sebelah kanan ke dalam sendok. "Kiara sengaja nyari yang kanan, kan kalau yang kiri identik dengan hal-hal kurang baik. Biar afdol aja Mas Makannya."
Byurrrrrrr!
Habibie menyemburkan air dari dalam mulutnya. Kali ini Habibie sudah tidak bisa menahan tawanya lagi. Mau makan siang aja harus mendengar lawakan dulu. Sejak kapan paha ayam bisa merujuk pada hal-hal kurang baik. Astagfirullah.
"Ikh Mas Abie enggak percaya sama Kiara."
Habibie menggelengkan kepalanya. "Enggak, bukan kayak gitu, tapi mas baru denger aja, Sayang. Kok bisa gitu si Emangnya jual paha ayam sebelah kanan doang."
"Yang jual ibu-ibu, Mas."
__ADS_1
Semakin keras lah tawa Habibie, ia tidak bisa membayangkan bagaimana dongkolnya ras terkuat di bumi menghadapi perintah dari ibu ratu paling ngabrut dalam kelompoknya.
"Maaf, Sayang. Mas malah ketawa terus. Mas baca do'a dulu."
Kiara mengangguk. Perempuan itu menunggu dengan antusias. Wajahnya terlihat sangat bahagia saat satu suapan mulai masuk ke dalam mulut suaminya.
"Enak enggak, Mas?"
Habibie mengangguk seraya mengacungkan kedua jempolnya. "MasyAllah, ini enak banget, Sayang."
Tidak, Kiara tiba-tiba merasa sangat curiga setelah alis Habibie bergerak gelisah.
"Kiara juga mau nyoba."
"No, ini buat Mas aja. Nanti mas belikan makanan kesukaan kamu. Jangan dimakan ya. Nanti mas enggak kenyang."
Semakin curiga lah Kiara. Perempuan itu merebut sendok dari tangan suaminya dan segera memasukan daging asam manis itu ke mulutnya.
"Huekkkk!"
Kiara menutup mulutnya dengan tangan. Perempuan itu mengambil tissue dan memuntahkan apa yang baru saja ia makan. Padahal belum sempat ia kunyah, tapi rasa ayamnya terlalu ....
"Mas ini enggak enak, asem banget, Mas. Jangan di makan ikh."
Kiara merebut kotak bekal itu dari tangan sang suami. Melihat Habibie sudah akan mengambil kotak bekal itu lagi, Kiara langsung berlari menjauh untuk menyingkirkan masakannya.
"Nanti makan di kantin perusahaan aja, Mas!"
Perempuan itu berteriak. Habibie hanya menggelengkan kepalanya, pria itu menatap bayangan Kiara dengan senyum di bibir.
"Kamu itu sangat lucu, Kiara."
.
.
.
.
Selamat malam, Guys. Mohon maaf update rada telat. Udah sebulan ini lagi di kampung halaman, agak susah menyesuaikan waktu. 🙏🙏 Makasih untuk kalian yang masih setia. Love sekebon untuk kalian. Sehat-sehat ya. 🤗🤗🤗💜💜💜
__ADS_1