Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
69. Upaya Habibie


__ADS_3

Kiara mendelik mendengar pertanyaan menohok dari Risyam. Keningnya mengkerut dengan mata memincing tajam. "Kalau mau ngusir aku bilang, Syam. Jangan kayak gini caranya!"


Tak!


Kiara meletakan gelas dalam genggamannya cukup keras, perempuan itu beranjak, ia berjalan kembali ke arah kamarnya. Namun, belum sempat membuka pintu, pergelangan tangan itu sudah ditahan oleh Risyam. Awalnya mereka berdua sama-sama terdiam, sampai pada akhirnya Risyam mengembuskan napas pelan dan meminta maaf.


"Maaf,Kia ... bukan itu maksud aku, tapi paling tidak, kamu kasih tahu ayah dari anak ini. Kamu sendiri tahu 'kan bagaimana sakitnya besar tanpa orang tua yang lengkap, lagipula aku yakin, kok. Kamu itu masih mencintai suami kamu!"


Kiara menepis tangan Risyam, perempuan itu masuk ke kamarnya tanpa memperdulikan Risyam yang saat ini tengah kebingungan. Ia merasa sudah mencoba mengatakan itu dengan kalimat yang lembut. Tapi kenapa Kiara masih tidak mendengarkannya.


"Nak!" panggil Ummi Rahma menepuk pundak anaknya. "Biarkan saja. Ummi juga tahu kalau ini sangat berat untuknya. Tunggu sampai Kiara melepaskan semua kesakitannya di masa lalu, jangan biarkan dia tertekan. Kasian dia."


"Tapi Ummi!"


"Sudah, sekarang kamu siap-siap, berangkat ke pesantren karena anak-anak pasti sudah menunggumu."


"Baik Ummi."

__ADS_1


Ummi Rahma menatap pintu kamar itu nanar. Mereka bukan tidak mau atau merasa keberatan jika Kiara berada di rumah mereka sangat lama, hanya saja ... konteksnya berbeda. Andai Kiara masih gadis, mungkin Ummi tidak akan mengkhawatirkan apa pun, tapi sekarang keadaanya sudah berbeda. Sudah tujuh bulan sejak Kiara datang ke sini, kasihan suaminya, apalagi Amzar bersikukuh tidak akan memberitahukan keberadaan Kiara pada menantunya.


"Semoga Allah memberikan jalan terbaik untukmu, Nak!"


Ummi mengusap pintu kamar itu lantas kembali ke kamarnya sendiri. Sementara di dalam kamar, Kiara terduduk ia membekap mulutnya setelah mendengar kalimat yang Ummi Rahma sampaikan. Kiara tidak tahu, apakah dia harus kembali demi anak yang dia kandung, atau haruskah Kiara pergi dari tempat ini.


"Kiara bukan enggak mau, Budhe, Kiara takut Mas Abie masih menyimpan semua cintanya untuk Mbak Aisyah, Kiara takut Mas Abie masih tidak bisa menghargai keberadaan Kiara."


Hidup dalam sebuah rumah tangga tanpa ada rasa cinta dan rasa hormat dari pasangan kita adalah hal yang sangat menyakitkan. Rumah tangga itu adalah kehidupan bersama, tidak bisa hanya satu pihak yang menjaga atau mempertahankan. Rumah tangga itu lebih dari sekedar tinggal bersama, untuk apa kebersamaan itu jika tidak dilandasi rasa nyaman dan ketenangan.


"Kiara serahkan semuanya kepada Allah. Apa pun hasilnya nanti, Kiara sendiri atau kembali, Kiara tidak akan mempermasalahkan hal itu."


"Alhamdulillah ... bayinya perempuan Pak!" ucap suster memberikan bayi mungil ke pangkuan Habibie. Bayi perempuan itu sangat lucu, cantik seperti mamanya.


"MasyaAllah ... assalamualaikum, Sayang. Selamat datang di dunia," kata Habibie dengan bibir tersenyum lebar. Bayi kecil itu menggeliat, tiba-tiba dia menangis kencang dan segerombolan orang masuk ke ruang operasi istrinya.


"Pasien mengalami pendarahan, Dok! Detak jantungnya semakin melemah!"

__ADS_1


"Kiara!" gumam Habibie dengan wajah pucat pasi.


"Tekanan darahnya ikut menurun Dok!"


Dokter dan para perawat di ruangan itu kelimpungan. Mereka semua sibuk, berusaha untuk menolong Kiara, menghentikan pendarahan dan mengendalikan fungsi semua organnya. Namun, sekuat apa pun mereka mencoba, pasien itu tetap tidak tertolong, monitoring jantung hanya mengeluarkan satu bunyi dan satu line saja di layar monitornya.


"Inalilahi wainailaihi rojiun!"


"Kiaraaaaaaaa!"


Habibie terbangun dengan jantung berdetak tak karuan, pria itu menunduk, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Habibie menangis lagi dan lagi. Entah mimpi ke berapa yang dia alami setelah Kiara pergi. Namun, baru kali ini ia memimpikan Kiara meninggal.


"Ya Allah, Kiaaa, maafkan mas Sayang ... mas janji mas akan cari kamu sampai ketemu. Jangan tinggalin mas kayak gini. Mas takut kehilangan kamu. Mas akan bawa kamu pulang. Maafkan mas, Sayang."


Habibie mengembuskan napas panjang. Pria itu mengusap bulir bening yang masih mengalir, menyambar jaket dan juga kunci mobil lantas keluar dari rumahnya.


Sekitar pukul 05:15, Habibie melajukan mobilnya ke tempat tinggal mertuanya. Pria itu menunggu dengan perasaan tak menentu, berkali-kali ia melirik rolex pada pergelangan tangan, belum ada siapa pun keluar padahal ini sudah jam 7 lebih. Hingga, mungkin 20 menit setelah itu, sepasang netra Habibie melihat sosok Amzar tengah berjalan tergesa dengan istrinya.

__ADS_1


Melihat hal tersebut, Habibie buru-buru menyalakan mobilnya, mengikuti mobil ayah mertuanya yang entah mau ke mana. Ia bertekad mau berapa hari, berapa minggu atau berapa bulan dia menguntit, Habibie tidak akan menyerah.


"Maafkan Habibie, Ayah."


__ADS_2