Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
39. Malam Pertama Untuk Kiara


__ADS_3

Perempuan cantik itu tersenyum. Wajah cantiknya dipenuhi dengan bulir bening. Ya, hampir tiga jam dia berkutat di depan kompor, akhirnya kegiatan itu selesai juga, meskipun hampir seluruh jarinya dipenuhi dengan plaster, Kiara tidak mempermasalahkan hal itu.


"Bi. Alhamdulillah, saya beneran bisa masak lho. Bibi keren!"


Bi Arum dan Devi ikut bahagia melihat keceriaan pada wajah majikannya. Mereka berdua semakin yakin jika hubungan Kiara dan Habibie mungkin sudah semakin membaik.


"Ini usaha yang Nyonya lakukan untuk Tuan Habibie. InsyaAllah, pahalanya besar, Nyonya."


Semakin lebar lah senyum pada bibir gadis mungil itu. Dia melepaskan apron. Sebentar lagi sudah mau magrib, suaminya belum pulang karena mungkin banyak pekerjaan.


"Saya mandi dulu, Bi. Nanti saya balik ke sini kalau udah shalat."


Kedua orang itu hanya tersenyum. Mereka menatap punggung Kiara dengan mata berkaca-kaca. Selama tiga jam ini, Kiara sudah sangat berusaha untuk melakukan yang terbaik. Saat anak manja sepertinya mau bekerja keras, itu sudah merupakan pencapaian yang luar biasa. Terlepas dari hasilnya, begitupun sudah alhamdulilah.


Kiara terus saja melirik ke arah luar jendela kamarnya, melihat ke arah gerbang barangkali sang suami sudah pulang. Tadi dia sempat menunggu setelah magrib, dan kini, sudah masuk waktu isya, Habibie masih belum pulang juga.


Perempuan itu menatap jam di atas nakas. Sudah jam 8 lebih, Kiara kembali turun ke bawah, tapi sebelum itu, dia merapikan penampilannya, memakai sedikit lip tint agar tampilannya tidak terlalu pucat.


Detik berganti menit, menit berganti jam, dan Habibie masih belum pulang. Ini sudah mau jam 9, kenapa Habibie belum pulang juga. Pundaknya mendadak lesu, tidak mungkin Habibie belum makan kalau sudah malam seperti ini. Kiara menutup makanan itu dengan tudung saji.

__ADS_1


Kakinya membawa Kiara kembali ke kamar. Wajahnya tidak lagi seperti tadi. Hanya kesedihan yang tersisa, padahal Habibie sudah tahu kalau dia mau belajar memasak, tapi apa yang terjadi, jangankan pulang cepat. Ini sudah melewati kata terlambat.


Perempuan itu membaringkan tubuhnya di atas ranjang, untuk beberapa saat, sepasang netranya hanya menatap lurus tidak jelas. Tatapannya kosong, Kiara benar-benar kesal, saat matanya mulai terpejam, sudut-sudut itu mengeluarkan lelehan bening. Entah kenapa Kiara sangat terluka padahal masalahnya sepele seperti ini.


Tak berselang lama setelah itu, mobil Habibie tiba di depan rumahnya. Pria itu masuk dengan keadaan basah kuyup.


"Ya Allah, Tuan. Tuan kenapa hujan-hujanan? Mobilnya bocor?" Bi Arum yang polos itu membuat Habibie ingin tertawa.


"Tadi ada kecelakaan, Bi. Banyak banget yang jadi korban, jadi saya ikut membantu dulu."


Bi Arum tersenyum. Dia kembali mengunci pintu akan tetapi Habibie malah berhenti di dekat meja makan, dia membuka tudung saji itu dengan perlahan.


Senyum simpul tersungging di bibirnya, dia melirik rolex pada pergelangan tangan. Ini sudah hampir jam 11 malam, kasihan perempuan itu. Dia pasti sudah lama menunggu. "Saya ke atas dulu, B!"


Tangan besar Habibie membuka pintu kamarnya. Pria itu memasuki kamar dengan perasaan harap-harap cemas. Sangat cemas karena lagi-lagi dia telah membuat kesalahan. Pria itu tidak langsung mendekati sang istri, semua bajunya basah, jadi dia melewati ranjang begitu saja.


"Mas Abie!" Kiara tiba-tiba memanggil. Perempuan itu duduk, memperhatikan lantai yang tadi dipijak oleh suaminya telah menjadi basah. Dia pun turun, menghampiri sang suami masih dengan kesadaran belum kembali sepenuhnya.


"Kiara ~~!"

__ADS_1


"Mas Abie kenapa hujan-hujanan? Mas Abie nggak papa 'kan? Mobilnya mogok atau bagaimana? Ini sudah malam, kenapa enggak ngabarin Kiara. Kiara khawatir Mas Abie kenapa-napa."


Jemari tangan mungil perempuan itu terangkat, Kiara membantu Habibie melepaskan dasi yang melingkar di leher kekar sang suami.


"Kiara sebenarnya marah sama Mas Abi. Kiara sedih, udah hampir 3 jam Kiara masak, berjam-jam menunggu, tapi malah jadi sia-sia. Tadi Kiara mimpi buruk pula, syukurlah Mas Abie baik-baik saja."


Habibie tertegun. Pria itu menunduk, menatap jemari tangan sang istri yang telah dipenuhi dengan plaster. Padahal, tadi siang masih baik-baik saja. Sekeras apa perempuan ini mencoba untuk menyenangkannya sampai dia harus terluka seperti ini.


Perempuan itu terus saja mengoceh, dia yang sudah berhasil menarik dasi suaminya tiba-tiba dibuat terkejut ketika Habibie menarik tengkuknya dan menciumnya begitu saja. Pria itu memberikan kecupan-kecupan yang membuat Kiara tidak bisa berkutik, lututnya lemas, Kiara sudah akan tumbang jika saja Habibie tidak menggiringnya, menyandarkan Kiara pada meja rias. Habibie melepaskan tautannya untuk beberapa saat, dia menatap manik mata sayu di depannya, deru napas kedua orang itu tidak terkendali, tetesan - tetesan air dari rambut basah Habibie mulai berjatuhan membasahi pipi perempuan di bawahnya.


"Kiara ... bolehkah saya---"


Pertanyaan itu tidak berlanjut karena Kiara sudah lebih dulu memberikan lampu hijau, perempuan itu menarik kepala Habibie, dia mulai mengikuti setiap cara yang suaminya lakukan padanya.


Malam itu, di bawah guyuran hujan tengah malam. Kewajiban yang seharusnya mereka lakukan sejak lama baru saja terjadi malam itu. Alunan merdu dari napas keduanya menjadikan suasana kamar itu menjadi sangat hangat. Lampu temaram, tangisan Kiara, Habibie menyukai semuanya.


"Terima kasih, Kiara," ucap Habibie dengan suara serak masih sedikit terengah.


Pria itu mendekap tubuh polos istrinya dari balik selimut yang mereka kenakan. Setelah malam ini, Habibie janji, dia akan lebih berusaha untuk menerima Kiara sebagai istrinya yang utuh.

__ADS_1


__ADS_2