Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
62. Positif


__ADS_3


"Boleh ceritakan keluhannya, Mbak!" kata dokter cantik di depan Kiara.


Perempuan itu berusaha mengingat, hal spesifik yang membuatnya memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter.


"Eumm ... begini, Dok. Saya merasa saya baik - baik saja. Tapi saat pagi itu, saya suka tiba-tiba meriang, mungkin sekitar pukul 9'nan gitu, kadang juga sampai mual muntah, penciuman saya juga lebih sensitif. Saya enggak bisa nyium bau kulkas, kepala saya sering pusing dan lebih banyak ngantuknya, Dok."


Dokter di depan Kiara itu malah tersenyum, ia meletakan pulpennya, Kiara ini terlalu polos atau bagaimana. Tanda-tanda yang dia sebutkan sudah lebih dari cukup untuk memeriksakan kandungannya. Atau mungkin dia bisa melakukan tes kehamilan.


"Mbak. Mbak ada suami?" tanya dokter itu. Nadia mengangguk mengiyakan. "Kalau gitu, Mbak enggak usah khawatir. Kapan terakhir kali Mbak datang bulan?"


Lagi, Kiara mengerutkan kening. Perempuan itu berusaha untuk kembali ke masa-masa dimana dia mengalami nyeri haid, kalau tidak salah ... sebelum dia pergi bulan madu dengan suaminya 'kan?


"Saya sudah telat 2 minggu lebih, Dok!"


Dokter itu mengangguk dan tersenyum. Sementara Kiara masih loading, ia menatap si dokter tanpa mengatakan apa-apa. Namun, beberapa saat kemudian ....


"Apa saya hamil Dok?"


Dokter itu pun mengangguk, "Kemungkinan iya, Mbak. Sebaiknya Mbak datang ke dokter kandungan saja. Atau kalau belum yakin, Mbak bisa melakukan test kehamilan sendiri di rumah."


Baru mendengar itu pun, Kiara sudah berkaca-kaca. Ini masih belum jelas, tapi Kiara tidak bisa membayangkan kalau seandainya ia benar-benar hamil. "MasyAllah." Ia menutup mulutnya dengan tangan. "Terima kasih, Dok. Saya akan membeli testpacknya dulu."


Dokter itu mengangguk, melihat kebahagiaan pada mata Kiara, dokter itu ikut berkaca-kaca. Ia menunduk, mengusap perutnya dengan usapan yang sangat lembut. "Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad. Semoga Allah segera menitipkan bayi di sini."


Bukan hanya karena di seorang dokter, ia tahu tentang tanda-tanda kehamilan, tapi ia sudah mempelajari semua itu, ia sudah sangat ingin merasakan apa yang tengah Kiara rasakan saat ini. Rejeki untuk setiap orang itu berbeda, ia hanya harus bersabar, berdoa, berikhtiar dan selalu berpikiran baik tentang Allah.


** ** **


Tangan perempuan itu bergetar tat kala testpack yang dia pegang menunjukkan garis dua yang sudah sangat jelas. Kiara membekap mulutnya dengan air mata menyeruak tanpa diminta.


"Aku hamil?" gumamnya. Kiara mendongak. Ia berusaha menahan debaran jantung yang menggila, napasnya begitu sesak, ya Tuhan ... Allah telah mempercayakan bayi kepadanya. Dalam perutnya ada makhluk lain.

__ADS_1


Perempuan yang masih berada di dalam toilet rumah sakit itu langsung beranjak, ia menggenggam benda itu kemudian berlari. Namun, beberapa saat kemudian, Kiara melambatkan langkahnya, perempuan itu mengusap perutnya dengan lembut. "Maafkan Mama, Nak. Mama lupa kalau ada kamu, pasti kamu terguncang ya!"


Orang-orang berbisik menatap Kiara heran. Tampilan Kiara itu terlihat sangat sempurna tapi kenapa tingkahnya begitu aneh, ia berbicara sendiri dengan perutnya?


"Apa mungkin dia sedang hamil? Kenapa sangat aneh?"


"Sepertinya masih kecil. Mungkin belum mengerti apa-apa."


Kiara memang tidak mendengar hal itu, ia berjalan tergesa menuju mobilnya. Ia berniat untuk memberitahu suaminya kalau dia hamil. Habibie pasti akan sangat bahagia, mungkin dengan kehamilannya, Habibie akan mulai melupakan Almarhumah dan juga Humaira. Kiara yakin, Habibie bisa mengorbankan perasaannya demi janin yang sedang dia kandung.


"Ya Allah, Mas. Alhamdulillah ... mungkin ini pertolongan dari Allah untuk kita. Allah maha baik!"


Kiara memeluk testpack itu dengan satu tangannya, sedang satunya lagi dia gunakan untuk memegang setir mobil. Perempuan itu kembali menangis, ia benar-benar sangat bahagia untuk kehadiran calon buah hatinya. Anugrah dari Allah yang tidak akan pernah Kiara sia-siakan.


** ** **


"Kalau bisa, kita harus pergi ke Bali besok pagi Li."


"Terima kasih," ucapnya membungkuk kecil. Humaira tersenyum, tapi saat mendongak, senyum itu hilang seketika. Humaira kembali menundukkan kepalanya sebab takut untuk menatap aura gelap dari wajah Habibie."Maaf Pak!"


Habibie tidak menjawab. Pria itu menegakkan tubuhnya, tidak dipungkiri kalau dia memang sedikit mencuri pandang pada adik iparnya itu. Habibie masih berusaha memastikan kalau Humaira memang sosok lain, dia bukan Aisyah. Tidak ada yang harus dia takutkan. Semuanya sudah selesai.


"Kamu mau ke kantor Gibran?" tanya Habibie memecah keheningan.


"Iya, Pak!" jawab Humaira gugup. Aura Habibie dan aura Gibran ini sangat berbeda. Habibie terlalu dingin dan menyeramkan, ia tidak sanggup untuk menatap Habibie.


"Tunggu!" ucap Habibie saat Humaira akan keluar dari dalam lift tersebut. Habibie mengajak Humaira untuk pergi bersama, sedang Ali diberikan isyarat jika dia harus meninggalkan mereka.


"Kenapa Pak? Apa saya melakukan kesalahan?" tanya Humaira bingung. Ia tidak merasa pernah mencari masalah dengan Habibie, tapi tatapan Habibie ini terlalu menghunus matanya.


Tidak ada jawaban. Mereka berdua sama-sama terdiam untuk beberapa waktu. Habibie pun hanya menunduk dengan perasaan tidak menentu. Humaira ini memang mirip dengan Aisyah, tapi setelah dilihat dengan seksama, tidak ada yang indentik. Hanya wajahnya yang mirip, apalagi Humaira ini masih sangat muda.


"Kenapa kamu menerima lamaran dari Gibran?"

__ADS_1


Kening Humaira mengerut dalam. Setelah pernikahan mereka berlangsung, baru kali ini Humaira mendapatkan pertanyaan seperti itu.


"Kamu tidak menikahinya karena kamu mengincar uangnya 'kan?"


"Kak Habibie!!!"


Tiba-tiba Gibran muncul dengan tangan terkepal. Rahang pria itu mengetat begitu mendengar pertanyaan sarkastik yang Habibie tunjukkan pada istrinya. Bentuk penghinaan tak langsung yang Habibie lakukan itu membuat harga dirinya terluka.


"Brengsek!" geram Gibran. Sejurus kemudian, ia sudah menarik kerah baju yang dikenakan oleh Habibie dan meninju wajah kakaknya itu dengan kuat. Dentuman keras terdengar, Habibie tersungkur tapi dia malah tersenyum.


"Apa yang kau lakukan hah? Kau mempertanyakan kenapa Humaira menikah dengan ku? Kau mau jawabannya?"


Gibran merentangkan tangannya, menyembunyikan Humaira di balik punggung, perempuan itu sudah ketakutan karena kelakar yang dia lakukan. Gibran tidak bermaksud untuk membuat Humaira takut, tapi dia terlalu gemas dengan sikap Habibie.


"Apa yang melandasi pernikahan kalian hah? Kalian hanya ingin membuatku tersiksa bukan? Kamu itu munafik Gibran!"


Habibie yang sudah berdiri menarik kasar dasinya. Ia berjalan mendekati Gibran dengan langkah pelan juga seringai di bibir.


"Kamu pikir saya tidak tahu kalau kamu menyukai istri saya? Kamu pikir saya tidak tahu kalau kamu mencintainya? Kenapa tidak bertukar istri saja?"


Bugh!


Sekali lagi Habibie tersungkur. Kali ini bahkan lebih kencang daripada sebelumnya. Humaira mundur perlahan, perempuan itu menempelkan punggungnya pada dinding, membekap mulutnya mencoba untuk menahan isakan. Humaira tidak tahu apa yang sedang terjadi, ini terlalu rumit untuknya, Humaira pusing.


"Dasar an*ing! Kau tahu Habibie. Aku menyesal karena sempat berpikir kalau kau akan berubah, aku menyesal karena membiarkan Kak Kiara mempertahankan pernikahan kalian. Kau itu sudah gila. Mulut dan hatimu itu---" Gibran tidak bisa melanjutkan kalimatnya. "Aku menikah dengan Humaira karena aku ingin menyelamatkan pernikahan kalian. Aku menikahinya karena aku tahu, Allah akan memberikan rahmatnya setelah kami menikah, tapi apa yang kau lakukan? Kau masih bergelut dengan masa lalu! Brengsek kau Habibie!"


Tanpa mereka sadari, sejak tadi seseorang tengah menahan kemarahan dalam hatinya, kecewa, merasa diduakan, juga hilang kepercayaan. Kiara berusaha keras untuk tidak menangis. Perempuan itu meremas testpack yang ada dalam genggaman dengan segala emosinya.


"Setidak berharga itu aku di matamu, Mas Abie. Apakah aku lebih hina dari seekor kucing di jalanan? Kau ingin menukar ku dengan Humaira? Dimana hati nurani mu!"


"Nyonya!" Ali bersuara. Pria itu ingin menanyakan sebab Kiara menangis dengan tubuh bergetar, tapi Kiara sudah lebih dulu meninggalkannya.


"Kiara!" gumam Habibie dan Gibran bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2