
Telapak tangan Kiara menempel pada dinding benda yang mirip kaca di depannya. Perempuan itu menitikkan air mata melihat betapa mungil anak manusia di itu. Lucu dan rapuh, itulah kata yang bisa Kiara ucapkan untuk buah hatinya.
"Waktu itu, dokter bilang anak kita perempuan Mas. Tapi Alhamdulillah, ternyata anak kita laki-laki. Apa mungkin, dia berubah tepat sebelum Kiara memalukan operasi? Karena enggak mau dikasih nama mantan istri Mas Abie?"
Habibie mengusap lengan sang istri tanpa mau menjawab. Ia sebenarnya tidak ingin Kiara membahas masalah Aisyah. Setiap kali Kiara mengungkit hal tersebut, Habibie merasakan sesak teramat sangat di dadanya. Bayangan dimana dia telah menyakiti sang istri tidak bisa diterima akal sehatnya.
"Mas enggak mau kamu mengungkit masalah Almarhumah lagi, Sayang. Mas minta tolong, jangan menyiksa hatimu dengan hal ini. Mas mau dalam jilid yang baru hanya ada kita, bisakah kalau kita enggak usah buka buku sebelumnya?"
Senyum pun merekah dari bibir pucat Kiara, ia kembali duduk di atas kursi roda setelah pamit dari bayi mungil itu. Alhamdulillah ... semuanya berjalan dengan baik meskipun banyak drama yang harus dilewati. Kiara mengusap punggung tangan sang suami yang berada di atas bahunya.
"Anter Kia ke kembali, Mas. Kia mau ketemu sama dokter laktasi."
Habibie mengangguk. Mereka meninggalkan bayi mungil itu bersama dengan dokter yang menjaga dan juga menitipkannya pada penjagaan Tuhan. Ia kembali mengingat kalimat istrinya beberapa menit yang lalu. Jika mendengar dari cerita Ummi Rahma, Kiara sudah sering melakukan USG, hasilnya memang bayi itu adalah bayi perempuan. Namun, entah keajaiban apa yang Tuhan berikan sampai bayi mungil itu lahir dengan gender lain dari prediksi para dokter.
Sehabis bertemu dengan dokter Laktasi, Kiara telah kembali duduk di atas ranjangnya. Ini sudah malam tapi dia tiba-tiba kelaparan. Ummi Rahma dan keluarganya sudah pulang, baru akan kembali besok. Kiara meminta ayah dan ibunya untuk menginap di hotel, dan kini di ruangan itu hanya ada dia, Habibie dan Ummi Amelia. Kasihan Abi Fawas karena harus tidur sendirian.
"Mas suapin ya?!" pinta Habibie mengambil bubur dan juga sayur daun katuk di atas meja.
"Itu udah dikasih daun kelor juga Bie. Kalau bisa habiskan ya, Nak!" ujar Ummi Amelia.
Kiara mengangguk. InsyaAllah akan dia lakukan, Kiara harus sehat dan memakan banyak nutrisi agar ASI-nya lancar dan dia bisa memompa ASI untuk bayinya.
"Bismilah dulu," kata Habibie saat ia sudah siap menyuapi istrinya. Kiara pun melakukan hal tersebut. "Aaaaa! ... pinter, makan pelan-pelan aja ya. Kata dokter, biar ASI-nya banyak, jangan terlalu fokus pada kuantitas makanan. Mau kamu makan sebanyak apa pun, kalau kualitasnya enggak baik percuma, apalagi kalau banyak pikiran. Stres bisa bikin ASI Sayang seret, jadi harus tetep happy."
__ADS_1
Ummi Amelia mengangguk. "Bayi kalian udah dikasih nama belum?" tanya Ummi pada Kiara dan Habibie.
"Belum Ummi," jawab Kiara.
"Ayolah Abie. Masa belum dikasih nama." Ummi Amelia menyuapkan telur rebus yang sudah dibelah menjadi empat bagian ke mulut menantunya.
"Biar istri Habibie aja yang kasih nama Ummi, Kiara lebih berhak karena dia yang paling kepayahan, Kiara yang selama ini berkorban untuk lahirnya anak kami."
Hening, ruangan itu mendadak sunyi setelah kalimat mengharukan itu keluar dari mulut Habibie.
Pengalaman tidak menyenangkan sebelumnya membuat Kiara merasa jika Habibie yang sekarang memang sangat jauh berbeda, sikapnya lebih lembut, dia lebih sabar dan lebih penyayang. Habibie tidak lagi egois dan lebih mementingkan perasaannya.
"Kiara mau kasih nama anak Kiara Elkhan Samudera Alqais. Dia tetap darah daging mu, Mas. Biarkan dia membawa namamu sebagai tanda kalau dia adalah Habibie junior, anak suamiku."
Perempuan itu tersenyum, menatap dua manusia di depannya yang tengah menatapnya dengan mata berembun. Mereka tiba-tiba memeluk Kiara. Kelegaan yang teramat sangat itu menghampiri keduanya. Dengan ini, mereka tahu kalau Kiara akan kembali kepada mereka. Dengan ini, mereka tahu jika Kiara tidak akan pergi lagi.
Ruangan itu dipenuhi dengan tangis haru ketiganya. Kini, bukan hanya Ummi Amelia dan Habibie, tapi Kiara juga merasa sangat lega setelah ia melepaskan beban terberat dalam hatinya. Perempuan itu berharap, keputusannya kali ini tidak salah. Pengorbanannya akan membuahkan hasil dan Habibie tidak akan lagi menyakitinya.
"Mas sayang sama kamu, Mas cinta sama istrinya, Mas. Terima kasih karena sudah menghadirkan pangeran Elkana untuk kita semua. Maafkan mas yang belum bisa merawat luka hati kamu dengan baik, Sayang. Mas janji, mas akan menebus semua kesalahan mas. Terima kasih."
** ** **
Dua minggu setelah menunggu kondisi baby El stabil, dokter sudah memberikan izin kepada Kiara dan juga pihak keluarga untuk membawa baby El pulang. Namun, saat itu terjadi, kesedihan melanda keluarga Ummi Rahma.
__ADS_1
Perempuan yang sudah tidak muda lagi itu tengah menangis sesenggukan. Air matanya mengalir sangat deras. Ummi Rahma sudah menganggap Kiara seperti anaknya sendiri, dan sekarang ... dia seperti harus mengikhlaskan putrinya pergi dengan keluarga suaminya.
"Budhe~~!" Kiara memanggil dengan suara yang sangat lembut, perempuan itu duduk si samping Budhe Rahma, memiringkan posisinya agar mereka bisa saling bertemu tatap.
"Budhe, kata Budhe, Kiara harus menjadi perempuan saleha, Kiara harus jadi istri dan ibu yang baik, Kiara akan melakukan itu, Budhe. Kiara akan menuruti apa yang Budhe minta, Budhe sudah Kiara anggap seperti ibu kandung Kiara sendiri. Terima kasih untuk 7 bulan yang sangat berharga. Kiara benar-benar berterima kasih, untuk Budhe, Pakdhe, Kak Risyam, Ayesha juga anak-anak santri di sini. Kiara sayang kalian semua."
Tidak ada satu pun dari para santri wanita yang selama ini menjadi teman Kiara yang tidak menangis. Mereka semua saling memeluk satu sama lain dalam kebahagiaan berbalut air mata. Mereka senang karena Kiara akan kembali kepada keluarganya. Namun, di sisi lain, mereka sedih karena sudah pasti mereka tidak akan sering bertemu dengan Kiara, atau mungkin tidak akan bertemu lagi.
"Mbak tinggal di sini aja atuh, ajak aja si Aanya tinggal di sini, Baby El, biar kita yang jaga, Mbak Kiara enggak usah capek-capek." Salah satu santri putri menangis sesenggukan dengan bahu bergetar hebat.
Kiara menghampiri santri tersebut dan memeluknya.
"Bukankah kalian yang bilang, kalau seorang istri harus manut terhadap suaminya, harus ikut ke manapun suaminya pergi. Tugas Mbak adalah patuh kepada suami Mbak, dan tugas kalian adalah belajar. Mbak akan sesekali mengunjungi pesantren. Jangan sedih ya."
Setelah lebih dari 15 menit meyakinkan semua orang, Kiara akhirnya bisa masuk ke dalam mobil dengan Habibie yang membukakan pintu mobil itu untuknya. Sedang baby El sudah ada di pangkuan Ummi Amelia yang duduk di jok belakang dengan Abi Fawas. Mereka memang sempat pulang, dan kembali saat menjemput Kiara dan baby El.
"Hati-hati, Nduk! Kabari Budhe kalau sudah sampai."
"Jangan lupa sering-sering VC sama kita, Kia!" pekik Risyam. Perempuan itu mengangguk.
"Kia pulang dulu, ya. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam."
__ADS_1
Ummi Rahma kembali meraung dalam dekapan Kiyai Salim. Perempuan itu benar-benar tidak menyangka jika kepergian Kiara membuat luka sedalam ini untuknya.
"Semoga kamu bahagia, Nduk."