Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
56. Kebahagiaan Kiara


__ADS_3

Sudah 5 jam setelah Ibu-nya Humaira masuk ke dalam ruang operasi tapi sampai sekarang pun belum ada kejelasan bagaimana kondisi ibunya di dalam sana, sejak malam Humaira tidak bisa tidur, bahkan sampai sekarang pun ia masih terjaga, perempuan itu terus berdzikir meminta pertolongan kepada yang maha kuasa untuk kelancaran dan juga kesembuhan ibunya. Jangan tanyakan dia menangis atau tidak sebab matanya saja telah membengkak.


"Humaira!"


Gibran duduk di samping perempuan itu. Dia sudah sempat pulang ke rumah, tapi saat kembali Humaira masih dalam keadaan yang sama, perempuan itu terlihat sangat kacau, wajahnya pucat sebab sejak malam tidak makan dan tidur.


"Humaira sebaiknya kamu makan dulu. Kita pergi ke kantin rumah sakit, ya. Jangan sampai kamu ikut sakit, kalau kamu sakit, bagaimana dengan ibu kamu."


Tetesan air itu kembali meluncur dengan bebas. Humaira menoleh, ia menatap Gibran dengan tatapan penuh luka. "Bagaimana saya bisa makan kalau nasib ibu saya saja belum pasti, Pak. Saya harus menunggu ibu saya di sini. Bagaimana kalau ibu ke luar dan mencari saya tidak ada."


Tangan pria itu terulur. Gibran mengusap punggung Humaira dengan lembut. Gibran tahu bagaimana perasaan Humaira saat ini. Tapi jika dia tetap kekeuh dengan apa yang dia lakukan saat ini, Humaira pasti akan tumbang juga.


"Humaira kamu percaya ada Allah bersama kita kan?"


Perempuan itu mengangguk.


"Kalau kamu tahu, jangan pernah sekalipun meragukan kasih sayang dan rahmat yang Allah berikan untuk mu. Ibumu akan baik-baik saja, percaya pada kebaikan Tuhan, Humaira. Kalau kamu terus seperti ini, Allah tidak akan suka. Kamu orang sehat, jangan membuat tubuh kamu sakit, jangan mengabaikan apa yang sudah Allah amanah kan padamu."


"Tapi, Pak!"


Gibran kembali menggelengkan kepalanya. Ia berusaha untuk membantu Humaira agar perempuan itu bisa berdiri tapi baru saja berpijak di atas kedua kakinya, Humaira lemas, ia kehilangan kesadaran dalam dekapan Gibran.


Pria itu sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi, ia langsung memangku Humaira dan membawa perempuan itu untuk mendapatkan pemeriksaan dari dokter.


** **


Tatapan Gibran sama sekali tidak beralih dari sosok perempuan yang sekarang sudah terbaring di atas ranjang rumah sakit. Dalam hati, pria itu memuji kesabaran dan keteguhan hati Humaira, setelah kejadian tadi pagi, Gibran mencari tahu siapa perempuan ini. Hanya orang biasa, tapi Gibran tahu jika Humaira bukan perempuan biasa.


Pada usianya yang baru menginjak 19 tahun, Humaira sudah harus menanggung beratnya beban keluarga, Humaira menjadi tulang punggung untuk ibunya yang sakit-sakitan juga adik perempuannya yang masih duduk di bangku SMP.


Humaira ini adalah gadis sederhana, Gibran tahu kalau perempuan di depannya itu telah menerima banyak luka. Jika hari itu Gibran berpikir akan menikahi Humaira untuk menyelamatkan rumah tangga kakaknya, kali ini alasan lain bertambah, Gibran harus menolong Humaira, menyelamatkan perempuan itu dari kekejaman dunia.

__ADS_1


"Aku harap niat ku tidak salah. Maafkan aku, Humaira."


** **


Sama halnya dengan Gibran, pria yang tak lain adalah kakaknya laki-laki tadi tengah menatap perempuan yang sekarang sudah terlelap. Mereka baru menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam, masih ada 6 jam tersisa sebelum mereka sampai di tempat yang sangat ingin mereka kunjungi.


"Mas Abie~~!"


Kiara bergumam dalam tidurnya. Mereka mengambil kelas VIP, sehingga Kiara bisa menyelonjorkan kakinya.


"Kenapa, Sayang?" Habibie mencondongkan tubuhnya ke arah sang istri.


"Kiara mau dipeluk."


Habibie terkekeh kecil, dia mengusap wajah cantik istrnya itu kemudian mengecupnya perlahan. "Jangan sekarang, Sayang. Kita lagi di pesawat. Nanti, kalau sudah sampai mas peluk kamu sepuasnya. Boleh ya?"


Kiara mengangguk mengerti. Padahal ia sudah meminta Ali untuk mencari pesawat yang menyediakan kamar, tapi malah dikasih yang seperti ini. Untung dia sadar, jika tidak, Kiara mungkin akan mogok dan menolak perjalanan itu diteruskan.


Perempuan itu menarik tangan sang suami yang terulur, ia mengambil telapak tangan itu kemudian ia letakan di bawah pipinya.


"Tunggu sampai Kiara tidur, Mas."


"Iya, sekarang tidurlah!"


Perempuan itu mengangguk saja, Kiara memang selalu kesulitan untuk tidur saat sang suami tidak ada, meskipun hanya bau parfum sang suami, Kiara harus mencium itu agar bisa tidur nyenyak.


** **


Setibanya di kamar hotel yang letaknya tidak jauh dari Ka'bah, perempuan itu langsung berlari, ia menempelkan kedua tangannya pada dinding kaca di kamar hotel tersebut. Mereka yang berada di atas menara bisa melihat hampir semua pemandangan di sana.


"MasyAllah!" Tanpa sadar Kiara menitikkan air mata, perempuan itu tiba-tiba merasa sangat sedih. Sudah 25 tahun, Kiara sebenarnya bisa saja ke sini lebih sering sebab ayahnya pun memiliki banyak uang, tapi kenapa, kenapa baru sekarang ia melihat dan merasakan ketentraman yang belum pernah ia rasakan.

__ADS_1


"Alhamdulillah ... nanti, kita daftar untuk naik haji bersama, mau?"


Kiara mengangguk, perempuan itu mengusap punggung tangan sang suami yang melingkar indah di atas perutnya, dagu Habibie yang ditempelkan di bahunya terasa sangat geli, Kiara terkekeh kemudian berbalik, perempuan itu memeluk suaminya erat, berjinjit untuk mengecup pipi suaminya untuk berterima kasih.


"Kiara sayanggggg banget sama Mas Abie. Terima kasih karena sudah membawa Kiara ke sini, Mas. Kiara seneng banget."


Habibie mengangguk, ia membalas pelukan istrinya tak kalah hangat, pria itu mengecup kening sang istri berkali-kali. Habibie juga sangat bersyukur karena dia bisa ke tempat ini dengan istri kecilnya.


"Mas juga sayang sama kamu, Kia. Semoga Allah menyelamatkan pernikahan kita."


** **


Di sudut lain, seorang perempuan tersenyum bahagia karena ibunya sudah selesai menjalani operasi dan kini sudah kembali sadar, hanya saja, beliau memang masih harus menerima perawatan intensif sebab kondisi sang ibu juga masih ada dalam tahap observasi.


"Alhamdulillah, MasyaAllah. Humaira seneng karena Ibu udah sadar."


Perempuan yang terbaring lemah itu tersenyum. Dia belum bisa banyak bicara, bahkan untuk mengerakkan anggota tubuhnya saja rasanya begitu sulit.


Lirikan mata Bu Rini tertuju pada sosok laki-laki yang ada di samping putrinya. Pria itu terlihat masih sangat muda, tampan dan gagah.


"Assalamualaikum, Bu. Saya Gibran, saya adalah calon suaminya Humaira."


Deg!


Perempuan di samping Gibran melotot dengan biji mata hampir ke luar dari tempatnya. Perempuan itu bukan hanya terkejut, tapi dia tidak percaya kalau Gibran akan sangat terburu-buru seperti ini.


"Pak!"


Humaira menarik tangan Gibran, ia membawa pria itu berdiri di sudut ruangan.


"Bapak itu bagaimana, ibu saya baru selesai operasi, kenapa Bapak malah bilang seperti itu? Bagaimana kalau----!"

__ADS_1


"Shutttt! Bu Rini tidak akan marah. Saya serius ingin menikah dengan mu, Humaira."


__ADS_2