Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
46. Ingin Memulai Kembali


__ADS_3

Sampai di kantor suaminya. Kiara tetap melakukan pekerjaan dengan baik. Perempuan itu hilir mudik menemui suaminya untuk meminta tanda tangan dengan profesional. Tidak ada pembahasan berarti. Kiara tetap dengan keteguhannya. Perempuan itu masih enggan untuk memaafkan suaminya. Kesakitan yang saat itu dia rasakan benar-benar membuatnya hilang respek kepada sang suami.


"Tanda tangan di sini, Pak," ucap Kiara menyodorkan sebuah dokumen kepada pria di depannya.


Habibie tidak langsung mengambil dokumen itu. Dia diam dan lebih fokus ke laptopnya padahal dalam laptop itu pun tidak ada yang dia lakukan.


"Pak!" panggil Kiara.


"Pak Habibie." Perempuan itu kembali memanggil.


Helaan napas panjang terus keluar dari mulut perempuan tersebut. Kiara benar-benar dibuat kesal. Tangan perempuan itu terulur, menutup laptop Habibie dengan paksa.


Pria itu menarik ujung bibirnya, pancingan yang dia lakukan ternyata berhasil membuat perempuan itu bereaksi. Ia mendongak, sepasang mata bening itu menatap mata di depannya dengan dalam. Tatapannya seolah menanyakan, kau mau apa?


Kiara berdecak pinggang menatap Habibie dengan amarah menggebu-gebu. "Jika tidak ingin bekerja, sebaiknya tidak usah datang ke sini. Kenapa harus mempersulit orang lain," keluh Kiara. "Kalau tidak suka melihat saya di sini, seharusnya Bapak pecat saya saja. Kenapa malah melakukan hal tidak manusiawi? Aahhhh ...." Kiara tersenyum. "Aku lupa kalau Bapak bukan manusia. Mana mungkin Bapak mengerti."


Wajah itu berpaling. Kiara berbalik meninggalkan Habibie akan tetapi pria itu tiba-tiba beranjak, menarik tangannya lantas memojokkan Kiara ke sisi meja.

__ADS_1


Perempuan itu tertegun. Napasnya tercekat begitu Habibie menatapnya dari jarak yang sangat dekat. Wangi maskulin pria ini membuatnya tidak bisa berkutik. Kedua lengan Habibie yang ada di kedua sisi tubuhnya membuat Kiara tidak bisa melakukan apa pun.


Deru napas Habibie, debaran jantungnya juga tatapan teduh pria itu membuat bongkahan es dalam hatinya seketika mencair. Namun, saat bayangan istri pertama suaminya muncul, Kiara langsung berpaling kembali. Dia hendak meninggalkan Habibie tapi pria itu malah menarik pinggangnya dan mendudukkannya di atas meja.


"Mas Abie!" gumam Kiara. Belaian tangan sang suami pada wajahnya membuat gelenyar aneh itu muncul. Tubuhnya itu selalu memberikan respon yang sangat aneh. Kiara seperti mendapatkan sengatan-sengatan listrik yang tersalur dari tubuh suaminya.


Perlahan tapi pasti, Habibie mulai menunduk. Awalnya hanya sebatas kecupan, semakin lama, pria itu semakin menuntut, tangannya merangkul pinggang Kiara saat perempuan itu berusaha untuk menghindar.


Kelopak mata keduanya terpejam. Kiara hanya menerima setiap ciuman yang Habibie berikan. Perempuan itu mencengkram erat lengan suaminya seiring dengan semakin intens apa yang Habibie lakukan padanya.


Pria itu pun seperti telah kehilangan kendali. Tangan besarnya merayap perlahan. Satu per satu kancing teratas kemeja perempuan itu mulai terbuka. Habibie tidak melewatkan satu inchi pun dari apa yang dia sukai. Naluriahnya selalu menolak ketika dihadapkan dengan tubuh molek itu.


Pria itu mendongak. Alangkah terkejutnya Habibie sebab perempuan itu tengah menangis. Ya, istrnya menangis tanpa suara. Habibie mengusap buliran itu kemudian memeluk Kiara. Membawa perempuan itu masuk ke dalam dekapannya.


"Maafkan saya, Kiara. Maafkan saya!"


Perempuan itu tidak menjawab, tangisannya malah semakin menjadi. Tangan perempuan itu memukul punggung suaminya berkali-kali. Meluapkan setiap emosi yang dia rasakan.

__ADS_1


"Aku memang bodoh Mas Abie. Aku terlalu bodoh karena memiliki perasaan padamu. Seharusnya aku tidak memiliki perasaan seperti ini. Aku sudah tahu kalau cinta yang aku miliki tidak akan pernah terbalaskan. Tapi Aku tetap mencintaimu. Bukan cuma hatiku, tapi tubuhku yang bodoh ini juga tidak bisa menolak mu. Aku mencintaimu, Habibie. Aku mencintaimu!"


Kiara mengucapakan itu dengan suara yang sangat lirih. Dia kembali menangis, meraung sampai tenggorokannya terasa sakit dan serak.


Habibie semakin merapatkan pelukannya. Pria itu tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Namun, mendengar pengakuan dari mulut istrinya membuat Habibie merasa sangat bersalah.


"Maafkan aku, Kiara. Maafkan aku." Habibie melepaskan pelukannya. Pria itu mengangkat dagu sang istri, kembali mengusap air mata dari wajah istrinya dengan usapan yang sangat lembut. Matanya terpejam untuk beberapa saat. Bisa-bisanya dia melakukan hal seperti itu di kantornya. Tangan besar itu kembali mengancingkan baju yang istrinya kenakan dengan penuh kehati-hatian.


"Kiara," gumam Habibie. Perempuan itu bergeming. Dia memalingkan wajah tapi Habibie kembali menyentuh pipi istrinya.


"Kiara dengarkan saya. Saya minta maaf, saya janji saya akan menyingkirkan semua barang almarhumah. Saya akan menyumbangkan barang-barang itu untuk orang yang membutuhkan. Saya akan---


"Mencintaiku?" potong Kiara membuat Habibie tertegun. Perempuan itu menyunggingkan senyum sinis. Kiara tahu, Habibie tidak akan pernah mau memberikan hati untuknya. Hanya dia yang mencintai pria itu tapi Habibie tidak sama sekali.


"Mas enggak bisa kan? Bahkan untuk mencoba saja Mas Abie takut," sarkas Kiara. "Sudahlah. Jangan mengatakan hal-hal seperti itu lagi. Mencintai Mas Abie itu seperti menghitung bintang di langit. Bukan sangat banyak, tapi sia-sia."


Kiara melengos. Perempuan itu mengusap sudut matanya yang lagi-lagi tidak bisa menahan desakan air mata. Kiara tidak meminta Habibie untuk mencintainya sekarang. Yang Kiara inginkan hanya kemauan Habibie untuk mencoba.

__ADS_1


"Sejak awal aku tahu kalau kamu tidak pernah menginginkan aku, Mas Abie. Aku saja yang bodoh karena terlalu percaya diri."


__ADS_2