
Habibie menggendong Kiara, membawa perempuan itu menuju UGD RS paling dekat dari pesantren. Dekat seperti apa pun, sebenarnya jarak tempuh perjalanan itu cukup jauh.
"Dokter! Dokter tolong istri saya, dokter!" Habibie berteriak dengan suara bergetar. Pria itu langsung meletakan Kiara di atas brangkar ketika seorang suster dan dokter jaga di UGD tersebut menghampirinya. Dengan tangan gemetaran Habibie masih menggenggam tangan sang istri, mengikuti istri cantiknya itu sampai dokter memeriksa kondisinya.
"Istri saya demam Dok! Tapi badannya menggigil. Itu, air ... air dari dalam perutnya keluar." Habibie mendadak blank. Pria itu lupa cairan apa yang tadi dikatakan oleh Budhe Rahma.
"Baik, Pak! Saya periksa dulu sebentar! Sus, tolong panggilkan dokter kandungan ya! Ada keadaan darurat di sini."
"Baik Dokter."
Habibie mundur beberapa langkah, pria itu menitikkan air mata saat istrinya membuka dan menutup mata seperti orang sadar tidak sadar. Jantungnya bergemuruh, lututnya lemas sebab wajah Kiara semakin lama malah semakin pucat.
"Ya Allah, selamatkan istri dan anak hamba." Habibie bergumam di tengah-tengah guncangan yang terjadi.
"Bagaimana kondisinya Dok?" tanya seorang dokter yang baru saja datang ke UGD.
__ADS_1
"Not good," sahut dokter itu.
Dokter kandungan itu langsung memeriksa keadaan Kiara, menanyakan beberapa pertanyaan yang memang harus mereka ketahui. "Kita USG dulu!"
** ** **
Habibie, Ummi Rahma dan Risyam menunggu di luar pintu UGD dengan seksama. Mereka benar-benar dibuat khawatir karena kondisi Kiara yang masih belum jelas seperti apa. Lima belas menit berlalu, seorang dokter keluar, menghampiri Habibie dan keluarganya.
"Bagaimana kondisi istri dan anak saya Dok?" tanya Habibie kelimpungan.
"Begini, Pak. Air ketuban istri Anda rembes , tapi InsyaAllah bayi dan istri Anda dalam kondisi cukup baik. Kalau Bapak setuju, besok pagi kita harus segera melakukan tindakan operasi sesar. Untuk sekarang kita fokus menurunkan demam istri Anda dulu sambil mempersiapkan semuanya."
Habibie mengadahkan kepalanya, pria itu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, hembusan napas berat itu terdengar. Alhamdulillah kalau istrinya masih dalam kondisi yang baik. Namun, operasi? Dokter memintanya untuk membuat keputusan?
"Bagaimana kalau istri saya kesakitan, Dok? Dia tidak tahan dengan rasa sakit." Wajah pria itu menunjukkan kepanikan dan ketakutan mendalam. Wajahnya ikut pucat bak dialah orang sakit sesungguhnya.
__ADS_1
Dokter laki-laki itu tersenyum, mengusap pundak Habibie, berusaha untuk membuat pria itu merasa lebih tenang. "InsyaAllah aman Pak. Kalau tidak segera mengambil tindakan, istri dan anak Anda tidak akan baik-baik saja. Kalau bisa, urus semuanya sekarang ya Pak. Tandatangani surat izinnya. Saya permisi!"
Habibie mengangguk, pria itu menoleh menatap Budhe Rahma dengan mata berkaca-kaca. Sungguh, Habibie benar-benar tidak ingin ini terjadi. "Bagaimana ini Budhe? Kasihan istri saya."
Ummi Rahma mengusap bulir bening yang mengalir dari sudut matanya. Menghampiri Habibie untuk menepuk lembut punggung pria itu. "IsnyaAllah, semuanya akan baik-baik saja. Kita hubungi semua orang ya Nak. Yakinlah kepada Allah."
"Risyam akan minta anak-anak di pesantren untuk mendoakan Kiara, Ummi. Kita semua akan berdoa bersama untuk keselamatan Kiara, Bang Habibie juga harus yakin kalau Allah akan menjaga Kiara dan bayi kalian."
"Tapi Syam ... kasihan Kiara."
Risyam mengangguk, dia mengerti bagaimana kalut dan takutnya Habibie, tapi ini sudah takdir yang harus mereka jalani, berdoa, berikhtiar dan tawakal adalah hal yang harus mereka lakukan.
"Allah maha baik, Bang. Percayalah!" Risyam berucap dengan sangat lirih. Sebenarnya dia juga sangat takut dan gugup, jantungnya berdetak di luar kebiasaan. Namun, jika dia ikut kalut, Risyam takut orang-orang ini akan semakin terpuruk.
"Saya mau telpon keluarga saya dulu," ucap Habibie dengan suara bergetar menahan tangis.
__ADS_1