
Kiara mengerutkan kening. Perempuan itu menghempaskan tangan Habibie, menatap pria di depannya dengan tatapan tajam.
"Apa? Aku sudah bilang kita berpisah saja. Jika kau tidak membutuhkan ku, biarkan aku menikah dengan Gibran. Dia lebih baik dan perhatian. Tidak pernah menyakitiku juga sangat pengertian."
Setelah mengucapakan itu, Kiara menarik tangan Gibran, perempuan itu membawa Gibran untuk menjauh dari suaminya. Wajah Habibie sudah tidak baik-baik saja. Kedua tangan pria itu terkepal dengan kuat. Ia kesal dan tidak suka saat Kiara mengacuhkannya. Apalagi sekarang bukan hanya mengacuhkan, tapi perempuan itu berani mengucapkan kata-kata yang sangat tabu dan tidak pantas.
**
**
"Maafkan aku, Gibran. Aku terpaksa melakukan itu. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu tidak nyaman. Aku hanya---!"
"Aku mengerti," jawab Gibran. Ia melepaskan tangan Kiara. Pria itu menatap Kiara dengan tatapan teduh menenangkan. Kedua tangannya ia letakan di atas bahu kakak iparnya guna membuat Kiara mengerti apa yang sedang ia rasakan.
"Kak Kiara ... aku tidak tahu apa yang kalian alami. Kak Habibie adalah orang yang baik terlepas dari apa yang telah dia lakukan padamu. Ummi mungkin tidak bisa mengatakan ini karena dia sungkan terhadap mu. Tapi aku, aku tidak bisa diam saja. Percayalah ... tidak pernikahan yang lolos dari ujian. Ibadah ini sangat besar pahalanya karena tidak mudah untuk menjalani bahtera rumah tangga tanpa percekcokan."
"Langsung ke intinya, saja Gib!"
Pria itu mengembuskan napas berat. "Kasih kesempatan untuk Kak Habibie memperbaiki segalanya. Maafkan dia, Kak Habibie juga manusia, dia bukan malaikat yang tidak memiliki cela, aku yakin, suatu saat Kak Habibie akan bisa membuatmu bahagia, Kak."
__ADS_1
Perempuan itu melepaskan kedua tangan Gibran dari bahunya. Kiara menepi pada dinding yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri. Kiara bingung, dia tahu Habibie sudah sangat keterlaluan, meminta perpisahan sekarang bukanlah hal yang baik. Tapi bagaimana dengan hatinya.
"Enggak bisa semudah itu, Gibran. Aku takut Mas Dugong itu akan kembali melakukan kesalahan yang sama."
"Dugong?" bingung Gibran.
Kiara mengangguk. "Iya Dugong, apa kau tidak merasa kalau Mas Habibie itu mirip Dugong?"
Untuk sesaat Gibran terbengong dengan wajah bodohnya. Namun, beberapa saat kemudian setelah bayangan dimana wajah Habibie berubah bentuk menjadi hewan yang tadi Kiara sebutkan, Gibran tidak kuasa untuk tidak tertawa. Pria itu sampai menunduk memegangi perut ratanya.
"Ya ampun, kau benar-benar membuatku tidak tahan untuk tidak tertawa."
Kiara mengangkat kedua bahunya acuh. Perempuan itu tidak bermaksud untuk melucu. Habibie memang mirip Dugong. Malah lebih baik Dugong daripada dia.
**
Setelah Kiara kembali ke kamarnya, Gibran keluar dari rumah. Pria itu bermaksud untuk berangkat bekerja. Namun, belum sempat masuk ke dalam mobil, Habibie sudah menarik kerah baju yang dia kenakan lantas meninju wajah Gibran tanpa ampun.
"Astagfirullah!" kaget seorang asisten rumah tangga saat melihat kejadian itu.
__ADS_1
Bughhhhh!
Bughhhhh!
Bughhhhh!
Habibie tak henti-hentinya memukul wajah Gibran. Adiknya itu juga tidak melawan. Dia membiarkan Habibie untuk memukul wajahnya sampai puas.
"Sudah?" tanya Gibran dengan senyum menyeringai. Pria itu membuat ancang-ancang dan ....
Bughhhhh!
Hanya satu kali, Gibran memukulnya hanya satu kali tapi penuh kesungguhan. "Aku tahu Kak Gibran memukulku karena aku terlalu dekat dengan Kak Kiara. Jadi bagaimana? Apakah menyenangkan diperlakukan seperti itu oleh pasangan mu sendiri?"
Gibran mengusap sudut bibirnya yang berdarah. "Kak Abie bisa melampiaskannya dengan memukul wajahku, tapi, apa Kak Kiara bisa melampiaskan kemarahannya pada Kak Aisyah? Tidak bukan? Itu tertahan dalam hatinya sendiri."
"Brengse*!" Habibie menggeram. Dia kembali menarik kemeja yang dikenakan oleh Gibran. Tangannya pun sudah melayang di udara tapi Gibran malah tersenyum.
"Stop!" pekik Kiara dari arah dalam. "Cukup Mas Abie!" Kiara menarik paksa tangan suaminya. "Jangan memukul orang baik dengan kemarahan mu. Kau itu tidak pantas memukul Gibran seperti ini!" Kiara bersungut dengan kemarahan pada matanya. Perempuan itu dibuat sangat kesal atas apa yang Habibie lakukan. Dan sekarang, ia memalingkan wajah lantas memasukan Gibran ke dalam mobil.
__ADS_1
Habibie kembali mematung. Pria itu menatap kepergian mobil yang ditumpangi Kiara dan Gibran dengan tatapan tajam. Kedua tangannya terkepal di samping tubuh. Habibie seolah lupa kalau sudut bibirnya juga terluka. Namun, harga dirinya ternyata lebih terluka.
"Kalian sudah sangat keterlaluan, Kiara. Gibran. Apakah kesalahan saya sefatal itu?"