
Humaira menatap Gibran dalam. Tidak bisa dipungkiri kalau pria di depannya ini sangat tampan, terlebih asal usulnya juga jelas, Gibran bukanlah orang sembarangan. Dia sudah mapan, berpendidikan juga sangat baik. Tapi, Humaira tidak tahu maksud dari kebaikannya ini karena apa. Masih tidak jelas, apa sebab Gibran mengajaknya menikah tiba-tiba seperti itu.
"Pak. Bolehkah saya menanyakan sesuatu?"
"Tanyakan saja," jawab Gibran. Ia tidak pernah melarang siapa pun untuk bertanya kepadanya.
"Saya tahu, saya sudah berhutang banyak, bahkan saya berhutang budi yang tidak mungkin bisa saya balas dengan uang."
Gibran hanya mengangguk saja.
"Tapi, saya akan menerima lamaran Bapak kalau alasan Bapak menikahi saya jelas dan bisa meyakinkan saya."
Pria itu tersenyum tipis. Bagaimana Gibran harus mengatakan ini kepada Humaira, salah satu langkah saja, Humaira pasti tidak akan mau menikah dengannya.
"Saya menikahimu karena Allah. Saya juga ingin mengajak mu untuk menyematkan rumah tangga seseorang. Saya tahu, kamu mungkin akan tersinggung karena kita menikah bukan karena cinta, tapi demi Allah, saya tidak memiliki niat buruk. Saya ingin merawat mu, Humaira."
Perempuan di depan Gibran tertegun, senyum simpul tersungging di bibirnya. Jawaban Gibran ini cukup berkesan. Memang, sejak awal pun Humaira tidak melihat niat buruk dari Gibran. "Baiklah, saya akan menerima lamaran Bapak kalau ibu saya menerimanya."
Alhamdulillah ... Gibran tersenyum, pria itu mengusap dadanya beberapa kali. Lega rasanya karena sudah mendapatkan lampu hijau dari Humaira, dia berjanji, Gibran tidak akan menunda pernikahannya.
"Saya akan meyakinkan Ibu. Intinya, kamu sudah menerima, kita akan langsung menikah setelah kondisi Ibu membaik."
"What?"
Gibran hanya tersenyum lebar. Pria itu menyukai wajah melongo Humaira. Gadis manis yang masih sangat belia itu membuatnya ingin tertawa.
"Bapak enggak salah 'kan?"
Gibran menggelengkan kepalanya. "Saya yang akan mempersiapkan segalanya. Tidak usah melakukan apa pun."
** **
__ADS_1
10 hari setelah Kiara dan Habibie pergi untuk berlibur, mereka kini sudah tidak lagi berada di Makkah, tepat dua hari yang lalu, mereka memutuskan untuk melanjutkan liburan mereka ke Jepang.
Suasana yang sangat sejuk, lebih sejuk sebenarnya karena mereka ada di daerah pegunungan. Telah masuk musim salju meskipun belum tebal.
"Sepertinya ini hari pertama turun salju ya Mas?"
Perempuan itu mengulurkan tangannya dari jendela kamar hotel mereka. Bangunan yang didominasi kayu itu terasa sangat hangat, sedang tangan Kiara yang sedang menadah salju rasanya begitu dingin.
"Alhamdulillah ... kita ke sini waktunya pas, Sayang."
Kiara mengangguk-anggukkan kepalanya. Perempuan itu berbalik, alisnya naik turun saat matanya bertemu tatap dengan sosok di depannya.
"Kiara mau main, Mas. Jangan minta Kiara pulang sebelum Kiara puas."
Perempuan itu berjinjit, mengecup pipi suaminya kemudian berlari ke luar terburu-buru. Ia terlalu takut kalau Habibie akan memintanya untuk tetap tinggal dengan alasan takut Kiara sakit.
"Dasar, Bocah!"
** **
Kiara membaringkan diri di atas tumpukan salju itu, kelopak matanya terpejam dengan tangan dan kaki yang terus bergerak seperti sedang membuat setengah lingkaran.
"Mas Abie!"
Kelopak mata Kiara mulai terbuka, perempuan itu menatap suaminya yang tengah menunduk, dengan payung hitam besar di tangannya. Pria itu berjongkok, Habibie membantu Kiara untuk berdiri agar dia bisa lebih mudah menaikan jaket kedua untuk istrinya.
"Pegang ini dulu," kata Habibie menyerahkan payung yang dia pakai. Kiara menurut saja, bahkan ketika Habibie menjadikannya boneka percobaan, Kiara sama sekali tidak keberatan. Perempuan itu menerima perhatian dari suaminya, tangan-tangan cekatan Habibie menantunya untuk memakai jaket, syal dan juga topi hangat, tidak hanya itu, pria di depannya sampai membawakan sarung tangan, saking protektif nya Habibie terhadap Kiara.
"Jangan sampai sakit, kita masih punya waktu 5 hari di sini, jangan sampai lima hari kita dihabiskan dikamar saja. Banyak tempat yang harus kita kunjungi. Apa kamu paham?"
Perempuan itu mengangguk. Matanya terpejam begitu Habibie mengecup bibirnya singkat.
__ADS_1
"Aku benar-benar mencintaimu, Mas Abie."
** **
Siang harinya, Habibie dan Kiara kembali melanjutkan acara jalan-jalan mereka. Kedua orang terlihat sangat bahagia dan menikmati waktu senggang yang mereka luangkan. Tidak banyak kesempatan untuk mendapatkan moment seperti ini. Bukan Kiara yang tidak bisa, tapi Habibie lah biang keroknya. Pria itu selalu sibuk dengan pekerjaan. Jika tidak dipaksa atau terdesak, tidak mungkin dia mau meninggalkan pekerjaan yang sudah mendarah daging untuknya.
"Mas Abie! Mas tahu enggak sih kalau Kiara itu bahagia banget sekarang. Kiara pikir, Kiara enggak akan bisa kayak orang lain, jalan-jalan eksklusif seperti ini. Waktu Bunda masih hidup, Kiara sama Ayah sering banget jalan-jalan, tapi setelah Bunda meninggal, Ayah udah jarang banget inget liburan, boro-boro liburan, tiap hari Minggu pun, Ayah lupa untuk mengajak Kiara keluar rumah."
Habibie tidak mengatakan apa-apa. Dia kali ini menjadi pendengar yang baik, berada dalam kereta gantung bersama dengan Kiara, rasanya memang sangat berbeda. Habibie tipe orang yang tidak terlalu suka jalan-jalan, tapi dia janji, kalau mulai sekarang, Habibie akan belajar untuk menghargai dan mencoba untuk mengimbangi hobi istrinya.
"Kiara harap ini bukan kali terakhir kita ke sini, Mas Abie. Masih banyak tempat yang ingin Kiara kunjungi. Mas Abie mau kan nemenin Kiara?"
Kali ini Habibie mengangguk, ia mengecup kening sang istri, memeluk istri cantiknya itu dengan hangat. "Apa pun untuk mu, Sayang."
** **
Setelah enam hari di sana, Habibie dan Kiara sudah merasa cukup untuk liburan mereka. Malam ini adalah malam terakhir mereka ada di sana, agak sayang memang, Kiara terlalu enggan untuk kembali, dia takut Habibie menjadi kembali sibuk dan lupa kepadanya.
"Angkat dulu teleponnya, Mas!"
Habibie menggelengkan kepala. Pria itu malah memeluk Kiara semakin erat. Habibie sedang tidak ingin melepaskan Kiara, ini terlalu sayang untuk dibuang.
"Mas Abie ikhh ... HP nya nyala terus itu. Pasti penting, angkatlah dulu!"
Kiara melepaskan pelukan suaminya. Perempuan itu berbalik memunggungi sang suami dengan mata yang masih terpejam. Sementara itu, Habibie sudah duduk menempelkan punggungnya pada sandaran ranjang.
"Assalamu'alaikum!" sapa Habibie pada orang di sebrang telepon.
"Wa'alaikumssalam, Kak. Kak Habibie. Maaf mengganggu, Gibran cuma mau kasih kabar kalau besok Gibran mau nikah."
Habibie, pria itu mengerutkan kening. Ia langsung beranjak dari atas ranjangnya yang mana hal tersebut membuat Kiara yang sudah tidur pun kembali terjaga.
__ADS_1
"Kenapa mendadak. Kamu nikah sama siapa Gibran?"