Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
59. Masih Belum Ikhlas


__ADS_3

Gibran membalik keadaan. Pria itu menarik kerah baju yang dikenakan oleh Habibie, memojokkan pria itu ke dinding sampai terdengar suara punggung dan tembok yang beradu cukup kencang.


Bugh!


Habibie mendesis, pria itu ikut mendorong Gibran tapi kali ini Gibran sudah habis kesabaran. Kepalan tangannya berada di udara, satu bogeaman mendarat dengan sempurna pada wajah Habibie.


Bugh!


"Bajingan! Aku sudah tahu kamu akan melakukan ini, Habibie. Kamu itu lebih menjijikan dari hewan di jalanan. Kamu itu sudah beristri. Seharusnya kamu lebih membahagiakan istri kamu bukan malah berlarut-larut dengan masa lalu."


Bugh! Bugh! Bugh!


"Gibran! Stop!"


Tiba-tiba seseorang memekik sangat kencang. Kiara menarik adik iparnya untuk menjauh, perempuan itu berusaha untuk menolong suaminya yang sudah babak belur.


"Apa sih yang kalian ributkan? Kalian itu sudah besar. Dan ini adalah pernikahan kamu, Gibran."


Kiara menahan tubuh suaminya, perempuan itu merangkul Habibie, membawa Habibie pergi dari tempat itu sesegera mungkin. Tidak ada yang harus mereka hargai lagi, bahkan sejak awal, baik keluarganya atau Gibran, tidak ada satu pun yang menginginkan kehadiran mereka. Itu terbukti saat tak satu pun dari pihak keluarga mau mengabari mereka. Hanya memberi kabar di saat-saat terakhir, bahkan jika mereka tidak memaksakan untuk pulang, mereka sama sekali tidak akan bisa menghadiri pernikahan ini.


"Kiara!"


Ummi Amelia menghentikan anak dan menantunya. Di sana juga ada Abi Fawas yang selalu mendampingi istri tercinta. Kedua orang ini memang memiliki kisah cinta yang luar biasa, sudah lebih dari 35 tahun menikah, tapi keduanya tidak pernah goyah. Namun, hal itu tak semerta-merta membuat anak-anaknya memiliki kisah cinta yang sama.


"Ummi!" Kiara melepaskan suaminya sebentar kemudian memeluk Ummi Amelia dan Abi Fawas. Perempuan itu tersenyum meskipun tergambar dengan sangat jelas bahwa dia teramat sangat kecewa.


"Ummi, Ummi Kiara minta maaf, Kiara sama Mas Abie pamit pulang dulu ya. Mas Abie kayaknya kurang enak badan. Kado untuk Gibran nanti menyusul. Selamat untuk pernikahannya, Ummi. Gadis itu sepertinya sangat baik."


Mendengar hal tersebut, hati Ummi Amelia bagai tersayat pisau tajam. Dia tahu, Kiara pasti sakit hati dan takut kalau Humaira akan menggantikan posisinya, terlebih perempuan itu memang sudah memakai jilbab dengan baik. Tapi sumpah demi Allah, Ummi Amelia tidak mungkin bersikap tidak adil.


"Ya sudah, Nak. Kalian istirahat lah! Hati-hati."


Kiara dan Habibie mengangguk. Mereka pergi dari sana, meninggalkan semua orang yang menatap aneh terhadap mereka. Bahkan, kedua tangan Abi Fawas sudah terkepal, tapi Ummi Amelia mengusap punggung tangan itu dengan lembut.


"Abi pasti tahu apa alasan mereka berkelahi seperti ini."


"Iya, Ummi."


** ** **


Sampai di rumah, lebih tepatnya di kamar mereka, Kiara langsung mendudukkan suaminya di pinggiran ranjang. Pria itu menatap punggung Kiara yang berlalu lalang mencari kotak P3K.

__ADS_1


"Ya Allah, Mas Abie itu kenapa enggak ngelawan sih. Kiara tahu kalau Mas Abie lebih jago dari si Gibran, harusnya hajar balik."


Habibie diam, sejak tadi dia tidak bersuara dan hanya menerima apa pun yang Kiara lakukan padanya.


"Tahan sebentar, Mas."


Kiara mengobati sudut bibir sang suami yang sedikit robek tanpa lupa dia tiup pelan. Terpaan hangat napas yang mengenai bibir Habibie membuat pria itu tertegun, ia menatap wajah sang istri dari jarak yang sangat dekat, tangan pria itu tiba-tiba terulur, mengangkup wajah Kiara, mencium perempuan itu dengan sangat lembut. Itu tidak berlangsung lama, hanya sampai perempuan di depannya berhenti bergerak dan bersuara.


"Terima kasih, Kiara ... mas mandi dulu."


Kiara hanya mengangguk dengan pipi kemerah-merahan. Perempuan itu menangkup wajahnya sendiri setelah sang suami pergi. Lagi dan lagi, Kiara merasakan debaran itu. Entah kenapa, ia selalu bertingkah seperti anak ABG sedang kasmaran kalau suaminya menyentuh dia tiba-tiba.


** ** **


Malam harinya, Kiara tetap melakukan tugasnya dengan baik, malah setelah kepulangan mereka dari acara bulan madu itu, Kiara menjadi lebih perhatian dan lebih menunjukkan kasih sayangnya untuk sang suami.


"Nasi goreng kesukaan, Mas Abie." Kiara meletakan piring di depan sang suami, ia juga mengambilkan telor mata sapi untuk suaminya itu.


"Terima kasih," ucap Habibie. Kiara mengangguk mengiyakan.


"Tapi Mas, maksudnya Gibran itu apa sih, kenapa tiba-tiba dia menikah sama perempuan yang mirip sekali dengan Almarhumah? Apa dia sengaja melakukan itu?"


"Enggak usah bahas masalah itu ya Kia, kita makan aja dulu."


"Mas Abie masih sayang ya sama Mbak Aisyah? Mas Abie enggak berpikir kalau Humaira itu adalah istri pertama Mas Abie 'kan?"


Untuk kesekian kalinya Habibie bungkam saat ditanya masalah itu. Matanya bergerak gelisah, Habibie tidak yakin untuk memberikan jawaban pada istrinya.


"Mas angkat telpon dulu, ya."


Syukurlah Ali menelpon di saat yang tepat, dia menjadi bisa mencari alasan tanpa keraguan. Perempuan itu juga sepertinya tidak terlalu perduli karena Kiara diam saja dan menikmati makan malamnya.


"Assalamu'alaikum, Ali."


"Wa'alaikumssalam, Tuan. Tuan Boss, Tuan. Ada masalah sama proyek yang sebelumnya itu. Mereka bilang, kontruksi pembangunannya buruk."


Kening pria itu mengerut dalam, Habibie tidak mengerti, kenapa hal ini bisa terjadi. "Baiklah Ali. Saya akan ke sana sekarang. Bilang pada beberapa staf yang bertugas untuk menunggu saya di ruang rapat."


"Baik, Tuan."


Habibie langsung menemui istrinya setelah mendapatkan kabar seperti itu, ia mengecup kening Kiara membuat perempuan itu kebingungan.

__ADS_1


"Mas kenapa?" tanya Kiara.


Habibie mengusap kepala sang istri perlahan. "Ada masalah di kantor, Mas pergi dulu, ya. Jangan ditunggu. Tidur aja lebih dulu."


Belum sempat Kiara menjawab, pria itu sudah melesat pergi meninggalkan Kiara seorang diri. Perempuan itu tersenyum getir, tidak bisakah Habibie menunggu dia berbicara dulu. Se urgent apa itu sampai Habibie mengesampingkan perasaan istrinya.


"Kiara cuma mau bilang hati-hati, Mas Abie."


Perempuan itu menatap nanar piring suaminya, nasi goreng buatannya tidak habis, jangankan habis, sepertinya itu baru dimakan dua sampai tiga sendok.


"Nyonya!"


Bi Arum memanggil. Kekecewaan jelas tergambar pada wajah perempuan itu karena matanya juga berkaca-kaca.


Seulas senyum tersungging di bibir Kiara, ia menarik kursi meminta Bi Arum duduk di sampingnya. "Nasi gorengnya masih banyak, Bi. Ajak yang lain makan yuk. Saya enggak nafsu kalau makan sendirian."


Bi Arum awalnya sungkan, ia ragu untuk mengiyakan. Tapi saat Kiara beranjak kemudian menarik tangannya, Bi Arum pun menuruti apa yang majikannya mau.


"Bibi duduk aja. Biar Kiara aja yang panggil Devi sama Mang Agus."


Tatapan itu tidak lepas dari sosok Kiara, entah kenapa, Bi Arum seperti melihat kesedihan di sana, padahal hari ini majikannya itu baru pulang dari acara bulan madu.


*


*


*


*


Bestie!!!!! ... author mau minta tolong, nih. Mau promo, barangkali ada yang suka. Minta tolong sambangi karya temen author ya. Sebelumnya terima kasih. Sehat-sehat untuk kalian. Love sekebon pokoknya. ♥️♥️♥️♥️♥️



Blurb


Cantik, mandiri dan sukses tak menjamin akan mendapatkan suami yang setia.


Ini kisah wanita kuat yang memiliki suami doyan selingkuh hingga akhirnya ia jatuh ke dalam pelukan keponakan suaminya sendiri setelah mengalami pahitnya penghianatan yang berkali-kali dilakukan oleh suaminya.


Akankah dia berakhir bersama dengan keponakan suaminya, atau dia tetap memilih suaminya meski sudah sangat menyakiti hatinya?

__ADS_1


__ADS_2