Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
22. Salah Sangka


__ADS_3

Kiara menatap suaminya dengan tatapan memincing. Perempuan itu terus saja menggerutu karena suaminya yang tidak memiliki hati nurani itu. Bisa-bisanya Habibie melilitnya dengan selimut bagai telur gulung. Yang lebih tidak menyebabkannya lagi, Kiara diletakan di atas karpet sedangkan Habibie tidur di atas ranjang.


"Kau benar-benar Iblis manusia, Tuan!" geram Kiara. Bibir perempuan itu mengerucut tinggi. Jika dia berteriak, Kiara takut orang rumah mendengar dan dia akan dibuat malu oleh kelakuannya sendiri. Habibie mungkin penurut kepada ibunya, tapi Kiara juga tidak bisa membiarkan orang-orang itu kesulitan di tengah malam begini.


....


Keesokan paginya, perempuan itu bangun karena suara ketukan pintu dari luar kamar. Matanya mengerejap beberapa kali, ia ingin memekik meminta pertolongan tapi ternyata dia sudah tidak dalam gulungan selimut lagi. Malah sekarang dia telah berbaring di atas ranjang.


"Apa dia yang memindahkan ku," gumam Kiara. Tepat setelah mengucapkan itu, Kiara menoleh ke arah kamar mandi, matanya memincing menatap Habibie yang sudah berpakaian rapi. Mungkin dia mau berangkat ke mesjid. Pikir Kiara.


"Kenapa Ummi?" tanya Habibie. Perempuan di depannya itu tersenyum.


"Kiara belum bangun?"


Mendengar suara Ummi Amelia. Perempuan yang tadi hendak memejamkan mata pun langsung melompat, merapikan pakaiannya dan berteriak. "Kiara udah bangun Ummi!"


Habibie juga Ummi Amelia tersenyum. "Ya sudah, wudhu dulu ya Nak! Shalat subuh sama Ummi! Nanti Ummi ajarkan ngaji juga!"


"Siap Ummi OTW!"


Kekehan kecil lagi-lagi keluar dari mulut Ummi Amelia. Dia menepuk lengan Habibie, mempersilahkan sang anak untuk segera keluar dan pergi ke mesjid. Urusan Kiara biar Ummi yang handle, mungkin Habibie memang membutuhkan bantuan darinya.


....


Pulang dari mesjid, Habibie tidak langsung pergi ke kamarnya, dia malah berbelok ke mushola yang ada di rumahnya itu, bekal penasaran dan juga khawatir, Habibie melangkahkan mendekat. Lagi-lagi Habibie tersenyum ketika Kiara tengah membacakan ayat-ayat Al-Qur'an meskipun masih terbata.


"Ummi. Yang ini apa?" tanya Kiara.


Ummi Amelia pun menjelaskannya sedikit demi sedikit. Kiara terlihat sangat antusias. Padahal perempuan itu biasanya akan kembali tidur setelah shalat subuh.


"Contohlah Ummi kamu, Kazzem!" kata ayahnya Habibie seraya menepuk lengan sang anak. "Kiara ini terlalu manja dan masih belum dewasa. Menurut Abi, karena masalah dia menyangkut masa kecilnya, ia menjadi seperti itu. Rawat dia dengan baik. Abi percaya kok, Kiara akan menjadi istri shalihah."

__ADS_1


Habibie hanya tersenyum, sesekali dia melirik ke arah Kiara, perempuan ingusan itu, Habibie mungkin memang harus menjinakkan Kiara dengan cara yang baik.


"Terima kasih, Abi!"


"Hmmm ... Abi percaya kamu bisa!"


....



Habibie bisa sedikit bernapas lega saat melihat pakaian yang Kiara kenakan. Pasalnya, sejak Kiara mau berinteraksi dengan ibunya itu, Kiara seperti belajar menggunakan pakaian yang lebih sopan. Apa mungkin Kiara melakukan ini hanya untuk pencitraan, atau memang dia takut tidak diakui menantu oleh Ummi Amelia?


"Bengong aja, tar kesambet!" Kiara menyenggol bahu Habibie. Pria yang tengah berdiri di belakang bagasi mobil itu tidak bisa untuk tidak menghela napas. Perempuan yang baru saja menerjang dirinya adalah istrinya sendiri, tapi kenapa Kiara sangat ketus padanya.


"Kiara udah bawa pancingannya, Ummi!"


Perempuan itu memekik dengan wajah berbinar.


"Makan buah dulu! Kau baru saja sembuh. Jangan terlalu capek! Biarkan saja para lelaki yang bekerja!"


Kiara mengangguk antusias. Perempuan itu memakan suapan demi suapan dari tangan Ummi Amelia dengan riangnya, sementara Habibie dan ayahnya sedang berjuang keras untuk mengeluarkan barang bawaan mereka.


"Kenapa harus kita yang capek, Zem! Bukankah mereka yang menginginkan ini semua!"


Habibie hanya terkekeh kecil. "Sudahlah! Kalau Abi tidak ingin Ummi marah-marah. Lakukan saja. Ini memang sudah menjadi tugas kita Abi!"


"Sok bijak!" keluhnya. Habibie hanya tertawa kecil. Baginya, rengekan sang ayah ini terdengar sangat lucu.


Lagi-lagi kehebohan terjadi setelah semua orang siap untuk memancing, Kiara, perempuan itu malah asik bermain gelembung, entah dari mana dia mendapatkan itu, tapi sepertinya Kiara sangat menyukai hal tersebut. Tidak malu kepada mertuanya, apalagi pada sang suami yang dia anggap hanya angin lalu.


"Kiara!" panggil Ummi Amelia.

__ADS_1


"Iya Ummi!"


Habibie tersenyum. Dia benar-benar merasa, keluarga ini agak lain setelah ada Kiara di tengah-tengah mereka. Yang biasanya sepi dan monoton, mereka malah seperti menemukan anak kecil tersesat kemudian mereka pungut dan mereka jadikan keluarga. (Jahat nya pemikiran mu, Abie🥲🤣)


"Ummi mau ngambil sayur! Ikut Ummi yuk!"


"Ayok!"


Kiara dengan hebohnya menarik tangan Ummi Amelia. Perempuan itu perlahan-lahan mulai terbiasa dengan keluarga ini. Sepertinya karena Ummi dan Abinya memiliki banyak waktu luang, Kiara menjadi senang karena tersebut, tidak dia dapatkan dari ayah kandungnya.


"Ummi. Kia mau ambil Aloevera!" Kiara berlari menuju tanaman hijau.


Ummi Amelia mengerutkan kening. Dia sepertinya tidak menanam aloevera di area sayur mayur, kenapa Kiara ingin mengambilnya.


"Aloevera mana, Kiara?"


"Ini Ummi. Yang ini." Kiara menunjuk sekumpulan daun hijau di bawahnya. "Cantik banget. Kiara ambilkan ya!"


Ummi Amelia tertegun untuk beberapa saat. Dia melongo tapi pada akhirnya tertawa terbahak-bahak. "Itu mah daun bawang Kiara, bukan aloevera. Astagfirullah." Ummi Amelia sampai harus berjongkok sambil memegang perutnya karena terlalu lama tertawa.


Kiara pun ikut tersenyum, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menunduk untuk melihat sayuran itu lagi. "Sejak kapan kamu ganti nama. Perasaan ini benaran aloevera deh!" Kiara masih kekeuh dengan pemikirannya yang di luar nalar itu. Padahal sudah jelas jika itu adalah daun bawang dengan ukuran yang cukup besar.


Hampir empat puluh menit mereka mencari sayur mayur untuk makan malam, dan sekarang sudah waktunya untuk kembali ke tempat pemancingan. Namun ... ketika Ummi Amelia berdiri dari berjongkoknya karena sedang mencabut wortel, Ummi Amelia kebingungan. Kiaranya hilang entah ke mana.


"Kiaraaa! Kiaraaa!"


Ummi Amelia terus saja meneriakkan nama itu akan tetapi Kiara masih tidak muncul.


"Kiaraaa! Kamu di mana, Na?"


Bakul yang ada di tangannya terhempas begitu saja. Ummi Amelia melepaskan sarung tangan yang dia kenakan lantas berlarian mencari Kiara sambil menelpon Habibie.

__ADS_1


"Abieeee ... istri kamu hilang, Kiara enggak ada Bie!"


__ADS_2