
"Kiara ... Sayang, bangun. Udah mau subuh!"
Habibie mengusap wajah istrinya dengan usapan yang sangat lembut. Pria itu tidak sekalipun menyerah meski telah puluhan kali dia mencoba.
"Kiara ....!"
Lagi-lagi Habibie membangunkan sang istri dengan kasih sayangnya. Dia mungkin belum mencintai perempuan ini. Namun, seperti janjinya tadi malam, Habibie akan mulai menerima Kiara sebagai istrinya. Wanita yang harus dia bahagiakan meski itu sangat sulit.
"Kiara~~!"
"Eummmmm ... Kia masih ngantuk Mas Abie. Badan Kia sakit semua. Ngilu banget. Kia tidur bentar lagi ya!"
"Enggak bisa," jawab Habibie lagi. "Saya mau ke mesjid. Kalau saya tinggal kamu di sini, saya yakin, kamu enggak mau bangun sendiri."
Tanpa menjawab, Kiara merentangkan tangannya. Perempuan itu meminta Habibie untuk menggendongnya ke kamar mandi. Meski saat ini dia hanya mengenakan kain tipis, Kiara sudah tidak malu lagi. Bukan tidak, rasa kantuknya membuat dia tidak bisa memikirkan hal lain selain meminta sang suami untuk membantunya.
"Yakin?" tanya Habibie.
"Hmmm ... Kiara masih ngantuk Mas Abie. Kiara mau digendong aja."
"Enggak takut?"
Dengan cepat Kiara menggelengkan kepalanya yakin. "Katanya harus mandi. Anterin dulu. Temenin, abis itu baru Mas Abie boleh ke mesjid."
__ADS_1
Habibie tersenyum. Dia menarik tangan sang istri untuk dia kalungkan ke lehernya. Pria itu membopong tubuh sang istri dengan senyum evil. Baiklah, jika terlalu sulit untuk membuka mata, Habibie akan membantunya untuk melakukan hal tersebut.
"Yakkkkk! Mas Abie mau apa?" Terdengar suara pekikan cukup keras dari arah kamar mandi. "Tunggu Mas Abie. Kiara masih ... ekh, Mas Habibie ampun."
....
Perempuan di atas tempat tidur itu mengerucutkan bibirnya sangat tinggi. Ia kesal, sangat kesal dengan tingkah suaminya. Oh sungguh, Kiara akan memotong kaki Habibie jika dia berani. Bisa-bisanya orang ini membuatnya tidak bisa berjalan.
"Mas Abie sengaja kan bikin Kiara kayak gini, biar Kiara enggak bisa ke mana-mana?"
Perempuan itu menatap suaminya dengan mata memincing. Sedang yang ditatap malah tersenyum kecil.
"Saya harus pergi ke luar kota hari ini. Mungkin baru akan pulang besok malam."
Lagi-lagi Habibie hanya tersenyum. Dia menyodorkan susu hangat setelah sarapan istrinya itu habis.
"Saya pergi untuk bekerja, buka untuk jalan-jalan. Nanti kita kosongkan jadwal dulu baru liburan. Carilah tempat yang ingin kamu kunjungi. Nanti saya yang urus semuanya."
"Mas Abie enggak bohong 'kan?" tanya perempuan itu dengan mata berbinar.
Pria itu menggelengkan kepalanya dengan yakin.
"Saya berangkat dulu. Hati-hati di rumah!"
__ADS_1
Habibie beranjak, mengecup kening perempuan itu kemudian pamit mengucapkan salam.
Kiara dibuat meleleh. Tubuh perempuan itu masuk ke dalam selimut, Kiara hanya menampakan matanya saja. Seluruh permukaan wajahnya terasa sangat panas dan memerah. Debaran jantungnya semakin tidak terkendali. Saat pria itu berubah menjadi pria yang baik, Kiara sangat menyukainya.
"Ya Allah ... aku enggak mungkin jatuh cinta 'kan? Kenapa Mas Abie manis banget."
Perempuan itu kembali menyembunyikan tubuhnya di bawah selimut. Kakinya terus saja bergerak, membayangkan senyum di bawah Habibie, sikap lembutnya, Kiara akan menjadi ubur-ubur karena terlalu senang.
Sementara itu, di luar pintu kamar, Habibie masih menyandarkan punggungnya ke pintu. Pria itu menatap layar ponselnya dengan dalam. Matanya berembun ketika wajah istri pertamanya terlihat dengan sangat jelas. Senyum perempuan itu. Wajah cantiknya, meskipun tidak secantik Kiara, tapi Habibie masih belum bisa melupakannya.
"Maafkan mas Asiyah. Maafkan suamimu."
Habibie mengembuskan napas berat. Pria itu kembali menatap pintu kamar, tapi itu tidak lama, setelahnya, dia langsung pergi meninggalkan rumah tanpa sepatah kata pun. Janji tetaplah janji, dia harus tetap membahagiakan Kiara meski hatinya belum leluasa.
Malam itu, Kiara kembali sendirian, mengingat hari ini suaminya tidak ada, perempuan itu memilih untuk berkeliling di lantai atas rumah tersebut. Dia sudah cukup lama berada si sana, tapi ... belum semua tempat dia ketahui.
Langkah kaki Kiara berhenti di depan sebuah pintu kamar yang selalu terkunci. Perempuan itu menatap pintu itu dengan seksama. Rasa penasaran dalam dirinya mencuat karena tidak pernah sekalipun dia melihat pintu kamar ini terbuka.
"Sebenarnya apa yang ada di dalam kamar ini?"
Kiara mencoba untuk membuka pintu itu. Barangkali memang terbuka, atau Habibie lupa penguncinya. Dan ... ketika ia menggerakkan handle pintu, ternyata itu memang tidak terkunci.
"Loh kok enggak dikunci. Mas Abie lupa ya?"
__ADS_1