
"Mas Abiiiiiieeeeee!"
Perempuan cantik berperawakan mungil itu berlari, langsung menghambur memeluk leher suaminya ketika Habibie sudah berada di undakan tangga terakhir.
"Kenapa harus berlari seperti itu, kalau jatuh gimana?"
Bukannya mendengarkan, Kiara malah mengecup pipi suaminya lantas menarik tangan Habibie untuk dia dudukan di kursi pada meja makan. Kiara mengambil piring, menyendok nasi goreng buatannya ke dalam piring sang suami.
"Ini adalah nasi goreng ke 59 yang pernah Kiara buat. Kiara yakin, hari ini rasanya enggak akan seburuk hari-hari kemarin. Mas coba ya?"
Pria itu tidak langsung menjawab, Habibie justru malah memperhatikan wajah sang istri, senyum yang Kiara tunjukan, Binar di wajahnya, perempuan itu terlihat sangat bahagia, dia begitu antusias dan bangga meskipun mungkin menurut orang di luaran sana membuat nasi goreng itu bukan hal luar biasa, tapi untuk Kiara, ini menjadi pencapaian hebat setelah mereka menikah juga Kiara ingin belajar banyak hal.
Habibie pernah dibuat tertawa saat untuk pertama kalinya, Kiara berjingkrak heboh sebab dia bisa memotong kukunya. Yups, untuk kita itu adalah hal sepele. Tapi untuk Kiara, selama 25 tahun, kali pertama ia memotong kuku-kukunya adalah setelah menikah dengannya.
"Mas mau disuapin?"
Perempuan itu bertanya karena Habibie tetap diam. Ia berkaca pada cermin di depannya, menelusuri wajahnya karena takut ada sesuatu yang aneh.
"Wajahku baik-baik saja."
Ia pun duduk, mengambil sendok untuk menyuapi sang suami.
"Aaa, buka mulutnya, Mas!"
Habibie tersenyum. Pria itu melakukan apa yang Kiara minta tanpa menolehkan kepalanya ke mana pun. Fokus menatap wanita cantik di depannya dengan kening mengkerut.
"Kenapa Mas, enggak enak ya nasi gorengnya?"
Kepanikan perempuan itu membuatnya langsung mengambil lebaran tissue yang dia letakan di bawah dagu suaminya.
"Muntaahin, Mas. Kiara mungkin belum berhasil. Jangan dimakan, nanti Mas Abie sakit perut."
Habibie menggelengkan kepalanya dengan cepat. Pria itu enggan untuk melakukan permintaan sang istri. Ia justru malah mengambil piring berisi nasi goreng itu kemudian menyendokaannya lagi ke dalam mulut.
"Lah, Mas Abieee~~~" Kiara merengek pertanda tidak suka kalau suaminya terlalu memaksakan diri. Kiara memang masih belajar, ia harap Habibie jujur daripada harus menyiksa dirinya sendiri.
__ADS_1
"MasyAllah. Ini enak banget, Sayang. Menurut mas, ini adalah nasi goreng terenak yang pernah mas makan."
"Benarkah?" tanya Kiara. Perempuan itu tidak percaya akan ucapan suaminya. Ia merebut sendok dari tangan sang suami kemudian menyuapkan nasi goreng itu.
"Gimana?" tanya Habibie. "Enak 'kan? Mas bilang nasi gorengnya enak. Kamu enggak percaya."
Perempuan itu menatap Habibie dengan mata berkaca-kaca. Beberapa detik kemudian perempuan itu malah menangis menjadi. Ia menatap Habibie dengan air mata bercucuran, Kiara meraung, perempuan itu membuat Habibie dan orang-orang di rumah itu khawatir karena suara tangisannya.
"Shuttt! Ada apa, kenapa malah menangis?"
Habibie menarik kursi istrinya, memeluk perempuan itu juga mengusap punggung sang istri dengan usapan-usapan lembut. "Kenapa? Mas bikin salah lagi ya?"
Kiara menggelengkan kepalanya kuat. Perempuan itu bukan menangis karena orang lain. "Kiara enggak papa, Mas Abie, Kiara cuma seneng aja. Akhirnya Kiara bisa bikin makanan yang cocok untuk Mas Abie. Kiara seneng karena Kiara ada gunanya untuk Mas Abie."
"Ya Allah, Nyonya Kiara sampai segitu senengnya. Padahal cuma nasi goreng, gimana kalau Nyonya udah bisa bikin rendang, kayaknya gempar dunia."
Devi mengangguk. Ia mengusap sudut matanya, menahan sesak itu sulit. Devi tahu bagaimana usaha Kiara untuk bisa menghidangkan makanan. Tidak perduli dia sedang kurang enak badan, entah berapa pak plaster yang ia habiskan untuk membalut luka pada jari jemarinya, sampai pernah suatu ketika dapur hampir kebakaran.
Melihat kebahagiaan bosnya, Devi ikut merasakan kebahagiaan itu. Kerja keras Kiara membuahkan hasil. Makanan sederhana itu mampu membahagiakan Kiara. Perempuan yang sangat mencintai suaminya.
Anggukan kepala perempuan itu berikan. Kiara melepaskan dekapan suaminya. Perempuan itu mengusap air matanya kasar kemudian beranjak.
"Mas Abie makan dulu ya. Kiara mau nelpon Ayah sama Ummi Amelia. Mereka pasti ikut seneng kalau mereka tahu Kiara udah bisa masak."
"Pergilah! Tapi jangan lama-lama. Kamu juga harus makan, Kiara."
"Siap, Boss!"
Dengan gerakan cepat perempuan itu berlari menuju lantai atas, Kiara benar-benar harus mengabari ayahnya. Perempuan itu mengambil ponsel dari atas nakas kemudian mencari nomor ayahnya untuk dia telpon.
"Assalamu'alaikum Ayah. Ayahhhhhh Kiara punya kabar baik. Kiara senenggggggg banget. Ayah juga pasti seneng. Coba tebak Kiara seneng kenapa Yah?"
Terdengar gelak tawa dari sebarang telepon. "Wa'alaikumssalam, Nak. Kamu kok nanya ayah sih, harusnya kamu yang ngasih tahu ayah. Suka aneh kamu ini."
"Ikh Ayah. Jangan kayak gitu, Kiara kasih tahu ya ... Kiara udah bisa bikin nasi goreng, Ayah. Nasi gorengnya enakkkkk banget, suami Kiara suka, Yah."
__ADS_1
Perempuan itu berjingkrak heboh. Ia benar-benar sangat bahagia, apalagi ayahnya meninggapi ceritanya tak kalah antusias. Amzar tersenyum, ia mengusap sudut matanya, pria yang sudah tidak muda lagi itu tidak bisa menahan kebahagiaan. Ia terharu, anaknya sudah mau menyentuh dapur pun Amzar bersyukur, apalagi kalau Kiara sudah bisa mem membuat makanan.
"Alhamdulillah. Syukurlah kalau kamu sudah bisa melakukan hal-hal baik seperti itu. Ayah bangga sama kamu, Nak. Sehat-sehat ya. Jangan lupa mampir ke rumah ayah kalau kalian senggang."
Setelah bercengkrama cukup lama, Amzar menutup panggilan teleponnya. Ia duduk pada sofa seraya terus mengucapakan kata alhamdulilah. Allah mengabulkan doa-doa nya. Kiara, bocah itu sekarang sudah besar. Dia bukan lagi Kiara si anak manja pembuat onar, Kiara sudah dewasa.
"Ayah sayang sama kamu, Nak. Semoga Allah selalu membahagiakan putri - putri ayah."
** **
Tok Tok Tok!
"Masuk!" sahut Gibran dari dalam ruangannya. Pria itu menjawab tanpa mengangkat kepalanya sama sekali. Lebih tepatnya belum.
"Permisi, Pak. Bapak manggil saya?"
Gibran tersenyum. Pria itu mendongak, menatap Humaira dari bawah sampai ke atas. Jadi, seperti inilah sosok Humaira, wanita yang Habibie anggap sebagai almarhumah istrinya.
Jika Gibran boleh julid, dilihat dari sisi mana pun Kiara jelas-jelas lebih baik. Humaira memang mengenakan kerudung, tapi bukan berarti Kiara tidak bisa.
"Duduklah!" titah Gibran.
Humaira mengangguk. Perempuan itu menarik kursi di depannya dengan sangat hati-hati.
"Saya ingin menanyakan satu hal kepada mu, Humaira. Itu nama mu bukan?"
Humaira mengangguk. "Iya, Pak. Saya Humaira."
"Saya hanya akan menanyakan ini satu kali, dengarkan baik-baik dan jawab dengan jujur."
"Baik, Pak. InsyaAllah."
Gibran menarik ujung bibirnya. Pria itu mencondongkan tubuhnya agak ke depan, menatap Humaira yang sudah mulai gelagapan.
"Kamu masih single kan?"
__ADS_1