Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
70. Syok Berat ???


__ADS_3

Habibie. Pria itu masih mengikuti Amzar dan Sabina yang malah masuk ke supermarket. Mereka terlihat sangat antusias begitu memberikan beberapa kertas kepada pelayanan di supermarket tersebut. Namun, satu kertas yang lain Amzar dan Sabina sendiri yang membawanya, mereka masuk ke dalam sebuah toko pakaian. Tetapi yang membuat Habibie heran adalah orang-orang itu masuk ke dalam toko pakaian dan peralatan bayi termasuk untuk ibu menyusui.


"Kenapa mereka di sini?" gumam Habibie, pria itu menunduk, melihat perut Sabina barangkali ibu mertuanya sedang hamil lagi. Tapi sepertinya tidak karena perutnya rapat-rapat saja.


"Yang ini cantik, Mas. Kayaknya cocok deh. Mbak Rahma bilang InsyaAllah anaknya perempuan. Jadi beli yang warna pink aja."


"Yang Biru juga bagus kok. Enggak papa, kita beli yang warna biru sedikit ya!"


Sabina mengangguk. Dia menurut meskipun sebenarnya tidak terlalu setuju. Jika bisa warna pink saja, kenapa harus dengan warna biru juga. Kan aneh Amzar ini. Tapi, mungkin karena Amzar banyak uang jadi dia membeli dengan jumlah yang sangat banyak.


"Mbak Rahma?" gumam Habibie lagi. Pria itu berusaha untuk mengingat nama itu barangkali Kiara pernah menyebutkannya. Namun, lagi-lagi hasilnya nihil, Habibie tidak menemukan apa pun.


Hampir dua jam mengikuti Amzar dan Sabina, akhirnya Habibie mengetahui satu hal bahwa Amzar dan Sabina ingin mengirimkan semua barang yang mereka beli dengan sebuah truk.


Menempuh perjalanan yang cukup lama, hampir 6 jam Habibie mengikuti truk yang dikirimkan oleh Amzar. Pria itu mengerutkan kening begitu melihat truk itu berhenti di depan sebuah pesantren yang letaknya sangat jauh dari pusat kota. Ia melihat mobil itu masuk, tapi karena tidak memungkinkan untuk mobil Habibie mendekat, ia hanya bisa berhenti di depan gerbang pesantren tersebut. Habibie diam mematung, pria itu memperhatikan dengan seksama bagaimana para santri datang mengerumuni truk itu.


"Sopirnya mau ke mana?" gumam Habibie. Ia jelas melihat kalau sopir itu membawa kardus-kardus besar ke tempat lain.

__ADS_1


"Assalamualaikum Pak!" sapa satpam yang berjaga di tempat itu.


Habibie gelagapan. Pria itu berusaha untuk tenang tapi matanya benar-benar tidak berhenti menatap para santri dan juga si sopir yang sudah menghilang entah kemana.


"Wa'alaikumssalam, Pak! Saya mau mencari Bu Rahma, apa benar di sini tempatnya?"


Belum sempat satpam itu menjawab, suara motor dibelakang Habibie membuat satpam itu bergegas untuk membukakan gerbang pesantren.


"Assalamualaikum Pak!" Risyam memekik.


"Wa'alaikumssalam, Ustadz. Abis dari mana?" tanya satpam tersebut.


Pak Satpam tertawa mendengar ucapan Risyam. Sedang perempuan yang duduk menyamping di belakang motor Risyam tidak bersuara satu patah kata pun. Dia bungkam seribu bahasa, napasnya seakan berhenti berdetak begitu saja.


Tak berbeda jauh dengan Kiara, Habibie pun menunjukkan ekspresi yang sama. Jantung pria itu berdebar sangat kencang. Jangankan untuk berkedip, ia seolah lupa memberikan pasokan oksigen pada kedua paru-parunya. Pria itu menunduk, memegangi jantungnya yang tiba-tiba sakit.


"Kiara," gumam Habibie. Pria itu berusaha mengingat perempuan yang 7 bulan tidak dia temui, sekalipun orang yang duduk di belakang Risyam itu mengenakan hijab, Habibie sangat yakin kalau itu adalah Kiara.

__ADS_1


"Pak! Pak Anda baik-baik saja?" tanya satpam memegangi lengan Habibie. Namun, belum sempat mendapatkan jawaban, Habibie sudah ambruk dan hilang kesadaran di tempat.


** ** **


"Gimana Mas?" tanya Humaira yang sekarang tengah duduk di sebuah sofa khusus di ruang kerja suaminya.


Pria yang ditanyai itu menggelengkan kepala, ia menatap Humaira dengan tatapan khawatir. "Tetep enggak bisa dihubungi, Dek. Gimana ya? Mana hari ini ada rapat penting."


Humaira ikut berdiri, dia memegangi perutnya yang sudah membuncit, bulan ini kehamilannya sudah genap 6 bulan, hanya berbeda 2 bulan dari Kiara. ia mengusap pelan perut buncitnya itu lantas memeluk suaminya lembut.


"Kak Abie pasti baik-baik aja. Mas. Enggak usah terlalu khawatir. Beliau sudah dewasa. Bagaimana kalau Mas Gibran dulu yang ngurus masalah rapat. Mas juga mampu 'kan?"


Gibran mengembuskan napas berat. Pria itu melepaskan pelukan sang istri, berjongkok di depan perut istrinya itu lantas mengecupinya berkali-kali.


"Do'akan ayah biar bisa bantu Pakdhe mu, Nak. Do'akan juga, mudah-mudahan Budhe cepet ketemu ya!"


"Aamiin," sahut Humaira, perempuan itu mengusap kepala sang suami dengan usapan-usapan lembut. Entah keberapa ribu kali Humaira harus mengucapkan syukur atas nikmat luar biasa ini. Kehamilan yang lancar, juga suami baik selembut dan seperhatian Gibran Allah berikan padanya.

__ADS_1


Sekarang Humaira semakin mengerti, kenapa orang-orang bisa menikah tanpa cinta. Karena, diperlakukan seperti ini pun rasanya sudah sangat luar biasa. Cinta pada manusia itu adalah sesuatu hal yang tidak bisa abadi, lebih baik seperti ini, saling menyayangi, menghargai dan menghormati satu sama lain. Meskipun, Humaira sadar, dia sudah sangat lama menaruh rasa cinta pada laki-laki yang ada di depannya.


"Terima kasih, Mas." Humaira membatin dengan mata berkaca-kaca.


__ADS_2