Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
60. Malam Pertama


__ADS_3

Sepasang pengantin baru duduk saling memunggungi, mereka berdua sama-sama berada di pinggiran ranjang, merasakan degup jantung luar biasa. Untuk Gibran, ini benar-benar membuatnya sangat gugup karena dia tidak pernah berada di dalam kamar berdua dengan perempuan yang bukan mahram, dan setelah memiliki mahram, ia justru kebingungan.


Perasaan ini berkecamuk, suhu kamar itu menjadi sangat panas padahal AC sudah dinyalakan.


"Humaira!"


"Pak!"


Dua orang itu bicara bersamaan. Mereka menoleh sedikit tapi kembali pada posisi semula.


"Kamu dulu aja," ucap Gibran.


"Enggak Pak. Biar Bapak dulu aja."


Gibran menyunggingkan senyum. Mereka sudah menikah tapi Humaira masih saja memanggilnya dengan sebutan Pak. Apa tidak ada panggilan lain, dia belum benar-benar tua, kenapa Humaira malah memanggilnya seperti itu?


"Apa aku sudah setua itu, Humaira?"


Perempuan itu tersentak, ia langsung berbalik, sehingga tatapan mereka bertemu untuk beberapa saat. Humaira kembali tertunduk sebab Gibran menatapnya lekat.


"Saya tidak bermaksud seperti itu, Pak! Saya hanya tidak terbiasa. Saya ini adalah orang kecil, saya---"


Kalimat itu terhenti begitu seseorang berdiri di depannya, mencubit samar dagunya sehingga Humaira mendongak.


"Kamu siapa?" tanya Gibran menunduk membuat jarak di antara mereka sirna.


"Sa-saya hanya karyawan biasa, Pak. Maafkan saya."


Gibran tergelak cukup keras, pria itu tertawa kemudian duduk di samping Humaira, ia kembali menatap orang itu dengan dalam, bukan itu yang Gibran maksud.


"Saya tanya kamu siapa untuk saya?"


Deg!


Humaira tidak bisa menjawab pertanyaan suaminya. Perempuan itu bungkam seribu bahasa, dia takut disebut mengaku-ngaku. Kenapa juga Gibran memojokkannya dengan pertanyaan seperti itu.

__ADS_1


"Humaira!"


"I-iya? Saya---!"


Hampir saja Humaira jatuh pingsan ketika tiba-tiba Gibran menahan kepala bagian belakangnya juga menyambar bibirnya begitu saja. Ia kebingungan, tangan dan kakinya gemetaran sebab hal ini belum pernah dia lakukan.


Jantung itu, ia seperti akan mati di tempat, entah bagaimana nasibnya nanti kalau Gibran sampai mengambil haknya malam ini.


Senyum simpul tersungging di bibir pria itu. Gadis kecil dalam genggamannya ternyata memang sangat polos. Sesuai dengan wajah lugu dan tampilannya yang sederhana, awalnya Gibran hanya ingin menunjukan siapa dan apa posisi Humaira untuknya, tapi perempuan itu ternyata sangat lucu sehingga Gibran menjadi sangat gemas dan pada akhirnya terjadilah malam itu.


Malam yang selalu dinantikan oleh sepasang suami istri yang sedang kasmaran, malam dimana setelah penantian panjang mereka bertemu dalam puncak kenikmatan.


Malam seperti ini tidaklah sulit terjadi pada orang-orang yang menikah tanpa cinta asal mereka tidak saling membenci dan memiliki komitmen untuk pernikahan mereka. Hal yang sangat wajar ketika sepasang suami istri melakukannya untuk memenuhi kebutuhan masing-masing juga kebutuhan pasangannya sendiri.


Gibran menggulingkan tubuhnya ke samping pria itu bernapas terengah-engah. Ia menoleh, menatap sang istri yang sudah terbaring lemah dengan kelopak mata terpejam. Tangan kanan pria itu terulur, menarik selimut untuk lebih menutup bagian dada istrinya.


"Terima kasih, Sayang."


Satu kalimat itu sukses membuat kelopak mata Humaira terbuka, ia ikut menoleh menatap Gibran dengan mata berkaca-kaca yang akhirnya, air bening itu meluncur tanpa bisa ia tahan.


"Astagfirullah ...." Gibran langsung berbaring menyamping. "Kenapa kamu menangis, ada apa? Saya melakukannya terlalu kasar?"


"Humaira~~~!"


"Humaira malu, Pak. Kenapa saya sama Bapak enggak pakai baju. Kita itu baru kenal beberapa minggu."


"What?"


Gibran seketika tergelak lagi. Pria itu tidak mengerti bagaimana Humaira bisa berpikiran sampai sejauh ini. Mereka adalah pasangan suami istri wajarlah hanya tidak berpakaian.


"Saya mendengar desa*an mu, Humaira."


"Bapakkkkk!"


Tiba-tiba selimut itu terbuka menampakan wajah Humaira yang memerah padam. Kelopak matanya melebar seketika, Humaira marah, tapi itu malah terlihat sangat lucu.

__ADS_1


"Marah lah! Saya suka melihat varian lain dari ekspresi wajah mu itu."


Gibran menarik pinggang sang istri membuat tatapan mereka kembali bertemu, dalam jarak seperti itu, Humaira kembali dibuat berdebar, berengsek memang, tidak bisakah Gibran berhenti menggodanya, Humaira sudah tidak tahan. Jantungnya seperti akan meledak seketika.


"Ada cinta di matamu!" ucap Gibran kembali membuat Humaira bingung.


"Cinta?"


Gibran dengan entengnya mengangguk. "Kalau orang sunda bilang, cileuh na mata, ailias belek," bisiknya halus, padahal Gibran hanya bergurau saja. Tapi hal itu sukses membuat Humaira mendorong dadanya.


"Jauh-jauh dari saya, Bapak! Ishhhh, menyebalkan."


"Cieeee ... baru sehari udah pandai merajuk."


"Bapakkkkkkkk!"


Hahahaha. Gibran lagi-lagi tergelak kencang pria itu hanya memejamkan mata ketika Humaira memukulnya dengan bantal-bantal itu.


"Pak Gibran bikin kesel ikh!"


.


.


.


Di tempat lain, seorang perempuan tengah menatap langit malam dari lantai balkon dengan bibir tersenyum samar. Perempuan itu memang tersenyum, tapi pikirannya berkecamuk, sekuat apa pun dia berusaha untuk meyakinkan hatinya kalau sang suami baik-baik saja, tapi Kiara bukan perempuan bodoh, ia jelas melihat kegelisahan dalam raut wajah suaminya itu. Tatapan marah Habibie untuk Gibran, itu bukan karena dia tidak terima karena tidak dilibatkan dengan pernikahan mereka, tapi ada hal lain yang Habibie sembunyikan.


Kiara selalu berusaha untuk menjaga pernikahannya. Bahkan, ketika mereka berada di tanah suci, hanya Habibie yang mendominasi do'a-do'a nya. Tidak ada orang lain. Kiara tidak tahu dimana letak kesalahannya, tapi ... apakah dunia memang belum bisa mengizinkannya untuk bahagia.


Tubuh perempuan itu luruh di lantai yang dingin, Kiara memeluk lututnya dengan tangis tertahan. Orang mengatakan, rasa sakit itu adalah penebusan dosa di masa lalu. Sebegitu banyak dosa yang sudah dia lakukan sampai di titik ini pun Allah masih mengujinya.


Ia masih ingat bagaimana Amzar mengatakan kalau kewajiban kita taat kepada suami adalah karena kita patuh terhadap perintah Allah bukan karena mengharapkan ingin disayang oleh suami kita, tapi ... jika dalam rumah tangga itu hanya Kiara yang berusaha untuk mempertahankan, Kiara juga manusia yang memiliki batas kesabaran.


"Kiara capek ya Allah, Kiara capek."

__ADS_1


Perempuan itu menangis dengan suara yang sangat memilukan, dinginnya angin malam tidak semerta-merta membuatnya terganggu, hawa dingin itu tidak bisa mengalahkan dinginnya hati Kiara saat ini, mengharapkan cinta dari orang yang tidak pernah berniat untuk mencintai kita adalah sebuah kebodohan, tapi Kiara harus bagaimana, meninggalkan pun tidak sanggup. Rasa cintanya kepada pria itu seakan mencegahnya untuk menagih kata talak.


"Aku mencintaimu, Mas Abie. Bisakah kau mendengarnya, tidak masalah jika masih belum bisa membalas, setidaknya jangan sakiti aku dengan menunjukkan bahwa kau masih belum bisa melupakan istri pertama mu dan sekarang malah menginginkan sosok lain untuk menggantikannya."


__ADS_2