
Semua orang tengah duduk termenung dengan pikirannya masing-masing. Mereka semua masih tidak berhenti untuk bertasbih. Bahkan kini, orangtuanya Kiara juga ada di sana, mereka semua saling menguatkan dan saling menyakinkan satu sama lain kalau Kiara dan bayinya akan baik-baik saja.
Kepala mereka semua mendongak begitu pintu ruang operasi dibuka dari dalam. Seorang perawat mendorong sebuah kereta bayi dengan tergesa. Ia bahkan tidak mengindahkan Habibie yang saat itu hendak menanyakan kondisi kedua orang yang paling dia sayangi.
"Dok!" panggil Habibie sesaat setelah seorang dokter yang dia tahu adalah dokter anak keluar dari ruangan. "Bagaimana istri saya, bagaimana dengan anak saya?"
Ummi Amelia memeluk lengan Habibie, mengusapnya perlahan agar Habibie bisa lebih tenang.
"Istri Anda masih ditangani dokter, bayi Anda harus dibawa ke NICU. Kondisinya kurang baik karena bayi Anda juga lahir kurang bulan. Saya permisi dulu!"
"Astagfirullah!"
Semua orang dibuat heboh saat tubuh Habibie ambruk di lantai, tadi malam pria itu tidak bisa tidur, dan sekarang istrnya masih ada di ruang operasi dengan keadaan bayi mereka yang tidak baik-baik saja.
"Ya Allah ... istirahat dulu Bie," ucap Kiyai Salim. Ia dan Abi Fawas membantu Habibie untuk duduk di kursi tunggu.
"Habibie mau di sini dulu, Pakdhe. Habibie mau nemenin istri Habibie."
Semua orang saling menatap satu sama lain, mereka sedih melihat Habibie seperti ini. Apalagi Ummi Amelia, beliau sudah tahu sejak kapan anaknya menjadi murung dan tidak bersemangat, tapi hari ini, Ummi Amelia lebih terluka karena anaknya yang biasanya tidak terlalu memiliki emosi berlebihan kini malah jadi orang paling hancur.
__ADS_1
"Habibie!"
Amzar duduk di samping menantunya. Pria itu menarik tangan Habibie lantas menepuk punggung tangan menantunya itu cukup kuat. Ia sebenarnya sangat marah kepada Habibie. Namun, melihatnya hancur seperti ini membuat Amzar tidak tega. Tujuh bulan ke belakang Habibie sudah ratusan kali menanyakan keberadaan Kiara juga meminta izin untuk membuat laporan orang hilang ke kantor kepolisian tapi dengan cepat ia melarangnya juga tidak memberitahukan dimana keberadaan Kiara.
"Paling tidak sarapan dulu. Kasihan Kiara sama bayi kalian seandainya kamu tumbang. Kamu itu laki-laki, kamu harus kuat, Abie. Kalau kamu masih mau menjadi suami Kiara, tunjukan, jangan seperti ini."
Habibie mengembuskan napas pelan. Pria itu menoleh ke arah mertuanya lantas menghambur ke dalam dekapan pria itu. "Habibie minta maaf, Ayah. Habibie sudah mengecewakan Ayah. Habibie belum bisa membahagiakan istri Habibie dan malah membuatnya seperti ini. Habibie minta maaf."
Amzar menepuk punggung anak menantunya perlahan. Habibie ini memang orang baik. Pada dasarnya dia itu sangat baik, tapi karena beberapa hal, Habibie menjadi keras dan dingin.
"InsyaAllah, Ayah sudah memaafkan mu, Nak. Sekarang kamu makan, istirahat sebentar, apa kamu tidak ingin menemui bayi kamu?"
Semua orang tersenyum, ada kelegaan dalam hati mereka sebab Habibie tidak lagi keras kepala. Andai Ummi Rahma dan Ummi Amelia tahu kalau Pak Amzar bisa membujuk Habibie, mungkin mereka akan meminta tolong sejak tadi bukannya malah membiarkan Habibie seperti itu.
** ** **
Di dalam sebuah kamar khusus bayi, malaikat kecil yang sedang terlelap dengan beberapa alat penunjang hidup terlihat sangat lucu, seorang pria menempelkan telapak tangannya pada kotak berukuran sedang transparan. Ia tersenyum, bibirnya bergetar melihat betapa lucu dan mungilnya bayi tersebut.
"Papa bisikin adzan dulu sebentar ya Nak! Bismillah!"
__ADS_1
Pria itu membungkuk, benar-benar berbisik di telinga kanan malaikat kecilnya. Kembali pria itu menitikkan air mata, ada perasaan bahagia, haru dan juga tidak percaya kalau saat ini, dia sudah menjadi seorang ayah, ada bayi kecil yang akan memanggilnya dengan sebutan papa. Namun, Habibie juga sedih karena sampai sekarang ia belum bisa menemui istrinya yang masih ada di ruang observasi.
"Do'akan mama ya, Sayang. Semoga mama kamu bisa cepat sadar. Bilang sama mama kalau kita sangat membutuhkannya. Jemput mama yuk. Kamu juga harus kuat ya Nak. InsyaAllah, papa janji, kalau kalian udah sehat, kita akan pulang ke rumah baru. Kita mulai semuanya dari awal, Nak. Kamu, papa sama mama."
Pria itu mengecup bayi mungilnya dari balik kotak tersebut, membelainya seolah-olah dia menyentuhnya langsung padahal tidak karena kondisi bayi itu masih sangat rentan. Tidak sembarang orang bisa melihat juga jika ingin masuk ke sana, mereka harus benar-benar steril.
** ** **
Beberapa jam setelah dipindahkan dari ruang observasi ke ruang ICU, perempuan itu mulai mengerejapkan matanya, jari jemari Kiara bergerak perlahan, perempuan itu ingin bersuara tapi tenggorokannya kering dan sakit, ia menetap langit-langit kamar dengan seksama, dingin, itulah yang Kiara rasakan saat ini.
Namun, beberapa saat kemudian, ia duduk, menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri ia beranjak kemudian berdiri, menatap sekeliling dengan perasaan aneh. Sesaat setelah itu, segerombolan orang datang, ia tersenyum saat melihat suaminya ada di ambang pintu. Perempuan itu pun berjalan menghampiri Habibie. Tetapi, langkahnya tiba-tiba terhenti begitu salah satu dokter melewatinya begitu saja. Kelopak matanya melebar, Kiara bisa melihat bagaimana suaminya menangis dan meronta ingin masuk ke ruangan itu tapi ditahan oleh beberapa perawat.
"Denyut jantungnya berhenti, Dok!" ujar seorang perawat perempuan. Kiara refleks menoleh, perempuan itu kembali mematung dengan mulut ternganga saat Kiara melihat seorang perempuan berbaring dengan alat bantu penunjang kehidupan yang banyak. Anehnya, perempuan itu benar-benar sangat mirip dengannya.
"Siapkan defibrillator, Sus!" ucap dokter itu seraya mencoba untuk menolong Kiara.
Perempuan yang menyaksikan itu langsung ambruk, ia membekap mulutnya dengan keterkejutan luar biasa.
"Kenapa kalian melakukan itu, aku di sini, aku masih hidup! Mas Abie, Mas tolong Kiara. Kiara mau ketemu sama bayi Kiara dulu, Mas Abie~~!"
__ADS_1