
Habibie mengembuskan napas kasar. Pria itu menendang ponselnya sampai mendekat ke arah pintu kamar guna tidak terinjak oleh orang lain.
"Mas enggak boleh marah-marah lho. Mas Abie itu harus sabar. Bukannya Allah sayang orang yang sabar?"
"Sabar yang seperti apa dulu. Kamu itu sengaja nguji kesabaran saya, Kiara!"
"Loh, kok malah nyalahin Kiara. Mas Abie yang kesebarannya setipis tisu dibelah tujuh!"
"Emang kamu pikir jembatan Shirothol Mustaqim!"
Kiara mengerucutkan bibirnya, dia masih anteng ada dalam gendongan sang suami padahal mereka telah sampai di dalam kamar mereka.
"Turun! Kiara!"
"Enggak mau! Ada kurma jadi-jadian Mas Abie. Jijik, kalau terbang gimana?"
"Astagfirullah ... mana mungkin di sini ada kecoa. Kamar ini selalu dibersihkan dengan baik!"
Kiara mendelik, dia mendorong bahu suaminya sehingga mereka menjadi bertemu tatap dengan jarak yang sangat dekat. Pria itu mengerutkan kening, sementara Kiara menatapnya memincing.
"Mas pikir Kiara bohong? Mas mau nuduh Kiara melakukan hal yang membuat Kiara marah? Mas pikir Kiara melakukan ini karena Kiara mau nemplok sama Mas! Ya Allah, Mas. Mas itu kepedean. Mana ada Kiara mau disentuh sama Mas Abie. Udah galak, minim akhlak, pelit juga!"
"Heiii!"
Kiara memekik cukup keras ketika Habibie melemparkannya ke atas ranjang. Pria itu menatap Kiara dengan tatapan aneh, lututnya mulai naik, merangkak mendekati Kiara sedikit demi sedikit.
"Apa yang mau Mas lakuin? Mas cuma nakut-nakutin Kiara 'kan?"
Bukannya menjawab, Habibie malah menarik ujung bibirnya sinis. Pria itu menatap Kiara bak singa lapar sehingga perempuan yang ada di depannya mulai ketakutan. Perempuan itu mundur sedikit demi sedikit, matanya bergerak gelisah, Kiara menoleh ke samping, mencari kesempatan untuk kabur dari suaminya.
"Kau pikir saya tidak berani? Kau sudah menjadi istri saya, Kiara. Kau ... sudah menjadi milik saya! Apa pun yang kau lakukan, sekeras apa pun kau menolak, kau tidak akan bisa kabur dari sini!"
Glek!
Kiara menelan saliva susah payah. Perempuan itu semakin ketakutan karena Habibie telah membuka kancing kemeja yang dia kenakan satu per satu. Lutut perempuan itu gemetaran, Kiara takut kalau Habibie benar-benar akan meruda paksa dirinya.
__ADS_1
"Dasar Brengsek!"
Bughhhhh!
Kiara meloloskan diri dengan berlari keluar dari kamar itu setelah memukul kepala suaminya dengan bantal. Ia berteriak, meminta pertolongan kepada Bi Arum saking takutnya dia melihat Habibie dengan mode on seperti itu.
"Ikhhhh ... kok mendingin ya!" katanya seraya mengusap tengkuk karena bulu kuduknya yang berdiri.
Sementara di dalam kamar, Habibie malah tersenyum, membaringkan tubuhnya dengan posisi terlentang. Semakin lama senyumannya semakin melebar, Kiara ini sangat lucu. Sok berani tapi ditakuti seperti itu saja sudah kalah.
"Tengil enggak ketulungan. Tapi penakut! Dasar perempuan!"
....
Keesokan harinya, lebih tempatnya jam 5 pagi, Kiara kembali dibuat menangis karena sang suami yang membentaknya berkali-kali. Dia benar-benar tidak tahan, Kiara sudah mencoba untuk menghafal surat-surat pendek lebih dulu, tapi itu seperti percuma.
"Jangan menangis! Kau itu sudah besar, cara mengucapkan huruf - huruf itu memang belum tepat. Jika terus seperti ini, akan kebawa ke surah-surah selanjutnya!"
"Hiksss!" Kiara kembali mencoba untuk mengulang apa yang telah Habibie contohkan.
"Masih belum tepat!"
"Ulangi!"
"Apa yang ada dalam otak mu! Mangkanya, punya lisan itu dijaga, jadi tidak sulit untuk diajak melakukan hal baik seperti ini!"
Kiara pun hanya menunduk. Dia kembali mencoba untuk mengulang hafalannya tapi itu kembali terjadi.
"Kiara kau!"
"Apa!" bentak Kiara tidak suka. "Mas Abie itu bisa enggak sabar sedikit. Kiara udah bilang Kiara enggak suka dibentak. Kalau Kiara salah, jangan marah seperti itu. Mas Abie itu jahat! Kiara enggak mau setor hafalan lagi!"
Habibie menarik sudut bibirnya. Ia tersenyum menyeringai lantas berucap, "Silahkan saja, tapi ingat apa yang telah kamu sepakati?"
Kiara yang sudah berdiri di ambang pintu berbalik juga mendelik tajam. Dia membuka kerudungnya lantas melemparkan kerudung itu kepada sang suami.
__ADS_1
"Jahat kamu, Mas!"
Ia benar-benar keluar dari kamar. Kiara membenci ini, air matanya semakin mengalir juga tangisannya malah semakin menyakitkan. Perempuan itu menagis sesenggukan, sesekali bersuara tapi kembali dia tahan.
Dinginnya pagi tak lantas membuat Kiara goyah, perempuan itu duduk pada bangku taman seraya menumpahkan segala kerisauan hatinya.
"Nyonya!" panggil Bi Arum dari belakang perempuan itu.
Kiara langsung mengusap sudut matanya tapi bahu itu masih bergetar dengan suara tangis tertahan yang malah terdengar ngik-ngikan.
"Bibi!" lirih Kiara yang sekarang duduk di sampingnya. Perempuan itu memeluk Bi Arum, kembali menumpahkan tangisannya setelah Bi Arum mengusap punggungnya dengan lembut.
"Saya enggak kuat, Bi! Saya mau kabur aja. Saya enggak mau setor hafalan sama Mas Abie. Mas Abie galak Bi. Saya enggak mau di bentak-bentak lagi! ... Hik!"
Bi Arum tersenyum kecil, ia kembali mengusap rambut Kiara dengan usapan yang sangat lembut, berusaha menenangkan meskipun mungkin itu tidak akan terlalu berarti.
"Yang sabar, Nyonya. Nyonya itu beruntung hanya di bentak-bentak. Dulu, waktu Bibi belajar ngaji sama guru Bibi, Bibi sering kena cambuk penggaris panjang kalau hafalan Bibi enggak sempurna. Tapi, mereka melakukan itu bukan karena benci, mereka hanya ingin kita lebih fokus dan lebih giat. Kalau kita sudah dapat ilmunya, percaya sama Bibi, rasanya itu manisssss banget. Lagipula, anggaplah ini sebagai cara untuk mendapatkan pahala yang banyak, Nyonya harus kuat. Kukuhkan Tuan Habibie. Kalau mau, nanti Bibi bantu ajarin Nyonya masak makanan kesukaan Tuan, mudah-mudahan bisa membantu meluluhkan hatinya!"
Kiara melepaskan pelukannya. Dia menatap Bi Arum masih dengan mata bengkak juga suara ngik-ngikan pun masih sangat jelas.
"Bibi enggak bohong 'kan?"
Bi Arum pun mengangguk mengiyakan. "Enggak Nyonya. Tian Abie itu orang baik, beliau tidak mungkin menolak perhatian dari Nyonya."
Perempuan itu pun mengangguk antusias. "Kalau saya berhasil meluluhkan hati Mas Abie. Bibi harus janji, Bibi harus buatkan ayam pop untuk saya tiap hari!"
"Setuju!" jawab Bi Arum.
Kiara pun tersenyum, dia menyandarkan kepala di bahu wanita paruh baya di sampingnya. Perempuan itu berharap, kali ini usahanya tidak akan gagal. Habibie harus menerima perhatian darinya untuk mempertahankan rumah tangga mereka. "Bibi tahu enggak Mas Abi takut apa?"
"Kodok!"
"What?"
Bi Arum kembali mengangguk. "Iya, Bibi enggak bohong."
__ADS_1
Gelak tawa keluar dari mulut perempuan di samping Bi Arum. Tawa jahat itu membuat wanita di sampingnya ikut melakukan hal yang sama. Mereka saling menatap dan tersenyum. Keduanya seperti konek padahal Bi Arum tidak tahu alasan kenapa majikannya tertawa sampai seperti itu.