
Perempuan di samping Habibie sejak tadi hanya diam membisu, tidak ada yang keluar dari mulutnya, dia benar-benar hanya fokus menatap jalanan yang sudah mulai dipadati kendaraan karena ini sudah mendekati jam-jam pulang bekerja.
"Apakah kau sudah mengonfirmasikan pertemuan kita dengan sekretaris Pak Hermawan?" Akhirnya keheningan itu pecah hanya karena pertanyaan Habibie untuk istrinya. Ekh, ralat. Untuk sekretarisnya.
"Sudah!" jawab Kiara ketus. Tanpa Habibie sadari, wajah perempuan itu sudah mulai pucat pasi. Kiara memejamkan matanya untuk beberapa saat. Namun, baru akan tiba di alam mimpi, perempuan itu harus kembali dibangunkan karena mobil mereka sudah sampai di depan restoran yang Habibie maksud.
"Mau turun atau tidak!" Pertanyaan Habibie yang lebih seperti sebuah pernyataan sarkastik.
Pria itu benar-benar keterlaluan. Kiara bukan sedang bermalas-malasan. Tapi perut bagian bawahnya keram. Rasanya sangat sakit dan mengganggu.
"Aku akan turun!" jawab Kiara singkat. Perempuan itu berusaha untuk menormalkan langkahnya. Mengikuti sang suami yang telah berjalan lebih dulu. Jelas saja, Kiara akan tenggelam jika dilihat dari depan. Dia tersembunyi dibalik punggung kokoh nan lebar Habibie.
" Assalamu'alaikum. Selamat sore, Pak!" sapa Habibie. Kiara ikut membungkuk dan tersenyum.
"Selamat sore, Pak Abie. Silahkan duduk!"
Habibie menganggukki hal tersebut. Dia mulai basa basi dan pada akhirnya sampai ke obrolan inti. Banyak hal yang mereka bahas, Habibie sepertinya sangat menikmati hal itu, tapi satu hal yang dia abaikan, Kiara. Perempuan itu mulai berkeringat dingin. Tubuhnya semakin melemah. Perempuan itu masih tetap bisa tersenyum meski tubuhnya sudah memberikan sinyal tidak baik.
"Saya permisi sebentar!" kata Kiara. Perempuan itu beranjak untuk mencari toilet. Jika dia tidak salah, ini adalah masa periode bulanannya. Kiara tidak mungkin salah karena dia memiliki jadwal tamu bulanan yang konsisten.
"Kan benaran. Untung udah sedia payung sebelum hujan."
Kiara kembali beranjak, perempuan itu berdiri di depan wastafel, menatap wajahnya dengan seksama sampai hembusan napas kasar itu keluar dari mulutnya. Kedua tangannya terulur, membasuh wajahnya agar tidak terlalu loyo, menampar pipinya beberapa kali dengan harapan itu akan sedikit melupakan rasa sakit di perut bagian bawahnya.
"Mbak!" sapa seseorang tiba-tiba. "Mbak baik-baik aja 'kan?"
Kiara menoleh dan tersenyum. "Saya baik-baik aja, Bu."
"Tapi mukanya udah pucat gitu lho. Kalau Mbaknya mau, saya bisa antar ke rumah sakit terdekat."
__ADS_1
Kiara menggelengkan kepalanya dengan yakin. Dia masih harus bertanggung jawab dengan tugasnya, tidak mungkin dia meninggalkan Habibie saat pria itu belum selesai dengan pekerjaan hari ini.
"Terima kasih, Bu. Saya masih harus bekerja. Saya permisi dulu!"
Ibu-ibu itu ingin menahan Kiara tapi Kiara sudah lebih dulu keluar dari toilet. "Apa mungkin dia dipaksa untuk bekerja terlalu keras? Bagaimana kalau dia ditekan atasannya."
Wanita paruh baya itu juga ikut keluar dari toilet. Dia juga masih harus kembali pada teman-temannya.
"Apa sekretaris Anda baik-baik saja, Tuan Abie. Maaf kalau saya lancang. Tapi sepertinya beliau sedang kurang sehat."
Habibie tersenyum, dia menoleh ke arah Kiara yang baru akan mendekatinya. Baru ingin berbicara, perempuan itu sudah terhuyung.
"Kau baik-baik saja?" tanya Habibie menahan lengan istrinya. Dia menunduk, ingin melihat wajah sang istri tapi Kiara malah menepis tangannya.
"Kembali dan selesaikan pekerjaan Bapak. Saya tidak bisa pulang kalau pekerjaan Bapak belum selesai!" Suara lirihnya terdengar seperti sebuah bisikan di telinga pria itu.
Setelah hampir 40 menit, Habibie mengakhiri pertemuan itu. Dia meminta maaf karena tidak bisa berlama-lama. Lagipula, semuanya sudah dia persingkat namun masih sangat jelas, jadi Habibie pikir, Pak Hermawan juga tidak akan terganggu oleh hal itu.
"Terima kasih, Pak! Saya akan menandatangani kontrak setelah memikirkan ini kembali!" ucap pria itu. Dia melirik ke arah Kiara, perempuan itu lagi-lagi tersenyum meskipun Hermawan tahu kalau Kiara terpaksa melakukan itu.
....
Sampai di luar private room. Habibie menoleh ke belakang. Dia melihat semuanya, melihat Kiara yang sangat lemas seperti tanpa tenaga.
"Saya akan membantumu!" ujar Habibie memangku istrinya. Kiara hanya diam, tidak menolak karena rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Mungkin karena terlalu lelah dan stress, rasa sakitnya itu lebih parah dari biasanya.
Atensi semua orang teralihkan hanya karena Habibie dan Kiara yang baru saja akan keluar dari restoran itu. Tidak sedikit yang merasa itu, juga banyak yang menahan senyum, kagum karena tindakan yang dilakukan oleh Habibie. Mereka hanya belum tahu bagaimana tersiksanya Kiara selama berada di samping pria itu.
"Kita ke rumah sakit dulu, Ali!" titah Habibie.
__ADS_1
"Enggak usah!" lirih Kiara. "Aku cuma datang bulan. Tidak perlu berlebihan!"
"Tapi wajahmu pucat, Kiara. Kau juga sangat lemas. Bagaimana mungkin hal seperti ini bisa dikatakan cuma!"
Kiara mengembuskan napas kasar. Perempuan itu malah bergeser, duduk di tepian jok lantas berbaring menyamping dengan kepala di atas pangkuan suaminya.
"Biarkan seperti ini. Aku punya obat pereda neyri di rumah!"
Habibie tidak bisa melawan lagi. Dia melepaskan jas yang dia kenakan untuk menutupi paha dan juga tubuh bagian bawah istrinya. Habibie tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat perempuan datang bulan. Meski dia sudah pernah menikah, Allah belum pernah memberikannya kesempatan untuk melewati masa-masa seperti ini.
"Maaf sebelumnya, Tuan. Saya punya adik perempuan, dia juga selalu seperti ini saat datang bulan! Tuan bisa membantu Nyonya Kia untuk mengusap perutnya. InsyaAllah, itu bisa sedikit meredakan sakit yang Nyonya rasakan."
"Really?"
"Iya, Tuan!"
Habibie pun menunduk, dia kembali melihat ringisan pada wajah Kiara. Tangan itu menarik kasar dasinya kemudian mengulurkan tangannya untuk mengelus perut sang istri. Di luar dugaannya, Kiara menarik tangan itu, membawanya agak semakin ke bawah yang mana hal tersebut membuat Habibie mendadak panas dingin. Jantungnya berdegup sangat kencang, perasaan ini, kenapa selalu muncul saat dia melakukan sentuhan pisik dengan istrinya.
"Tangan Mas Abie hangat. Tolong diusap memutar Mas!" Permintaan ini sangat sederhana tapi tentu tidak bagi Habibie.
"Emmm ... ba-baiklah!" jawabanya gugup.
Ali yang ada di balik kemudi tersenyum. Melihat kegugupan pada wajah Habibie membuatnya merasa jika Kiara masih memiliki kesempatan. Mungkin agak lama, tapi kapan pun itu, Habibie pasti akan bisa menerima Kiara dalam hidupnya. Hanya saja, apakah Kiara kuat atau tidak, belum ada yang tahu tentang itu.
"Mas ...!"
"Hmmm ... jangan berhenti!"
"Saya sedang mengusahakannya, Kiara."
__ADS_1