Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
72. Janji Habibie


__ADS_3

Pria di depan Risyam itu menggelengkan kepalanya. Ia sudah menyadari semuanya, ia tahu ia salah, ia tahu ia keliru. Saat Kiara ada di dekatnya, Habibie merasa aman karena perempuan itu ada, dia tidak menyadari perasaannya karena dia pikir Kiara lah yang mencintainya, seperti itu. Habibie tidak pernah membayangkan jika hal ini akan terjadi, dan ketika Kiara pergi, Habibie mulai menyadari jika rasa cintanya kepada Kiara lebih besar dari rasa bersalahnya kepada almarhumah. Dia juga sadar bahwa Humaira tak sama sekali membuat hatinya bergetar, bahkan saat Kiara jauh darinya, tak sekalipun Habibie memikirkan perempuan lain. Hanya Kiara yang ada dalam hatinya saat ini, rasa cinta, penyesalan, kecewa pada dirinya sendiri. Habibie merasakan semuanya, rasa ingin mati juga putus asa, hanya karena Kiara ia melawati hari - hari tergelap yang pernah datang pada kehidupannya.


"Saya sangat mencintai, Kiara Bang. Saya sangat mencintai istri saya. Saya tahu ini terlambat, tapi saya ingin meminta kesempatan ke tiga, saya janji, kali ini saya benar-benar akan membahagiakan dan menjaga Kiara, saya akan mencintainya dengan seluruh hidup saya. Saya mohon, bantu saya untuk bertemu dengan Kiara."


Kiyai Salim dan Risyam saling menatap satu sama lain, kedua orang itu mengangguk, mereka melihat kesungguhan dari mata pria ini, Habibie benar-benar mencintai istrinya, tidak sewajarnya mereka memberikan jarak kepada orang-orang ini karena Tuhan pun tidak akan menyukainya.


"Tinggallah di sini untuk beberapa waktu. Tapi jangan harap Kiara akan mau sekamar dengan mu, Bie!" ucap Kiyai Salim.


"Biar Bang Habibie tidur sama Risyam aja."


Habibie tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada orang-orang baik itu, dia berjanji untuk tidak menyusahkan mereka semua. Habibie akan mengikuti apa pun yang orang-orang ini mau agar dia bisa kembali memeluk istrinya.


** ** **


Siang harinya. Kiara, Ummi dan Ayesha tengah berkutat di dapur untuk membuat makan siang, mereka terlihat begitu happy tapi tidak dengan seseorang yang tak jauh dari sana, pria itu terus saja memperhatikan Kiara tanpa berkedip sama sekali. Bahkan, Ummi Rahma sampai bingung, kenapa Habibie tidak pegal, berdiri di dekat tembok hanya untuk memperhatikan Kiara.


"Suami Mbak itu baik kayaknya, tapi otaknya agak terganggu," kata Ayesha. Kiara memilih untuk tidak perduli, perempuan itu mengangkat kedua bahunya acuh.


"Shhhhh!" Kiara mendesis seraya memegangi perut bagian bawahnya yang sakit.


Perempuan itu menunduk membuat Ummi, Ayesha dan pria tadi kelimpungan, takut Kiara kenapa-napa.


"Ada apa? Kiara sakit? Ayok saya antar ke rumah sakit," kata Habibie. Kiara mendelik mendengar kalimat sok perhatian dari suaminya. Perempuan itu kembali berdiri seperti biasa seolah tidak terjadi apa pun padanya.


"Kamu itu siapa sih? Enggak usah sok akrab bisa 'kan?"

__ADS_1


Kiara menepis tangan Habibie kemudian meninggalkan pantry dan duduk di sofa yang tak jauh dari sana. Perempuan itu mengibaskan tangannya, berusaha mencari udara karena setelah ia hamil besar memang tubuhnya lebih sering kegerahan.


"Enggak papa, Budhe. Biar saya aja yang kipasi!" pinta Habibie mengambil kipas manual dari tangan Ummi Rahma.


Pria itu berdiri di dekat Kiara mengibas-ngubaskan kipas tersebut tapi bukannya nyaman, Kiara malah semakin kesal.


"Aku juga bisa Bang. Enggak usah ganggu bisa 'kan?" ketus Kiara menatap suaminya tidak suka. Sungguh, amarahnya benar-benar tidak bisa dia tahan saat membayangkan bagaimana kejamnya Habibie dulu membuat rasa sakit itu kembali. Entah apa maksud pria ini datang, tapi Kiara masih enggan untuk memaafkan.


"Saya pijitin ya?" Habibie menawarkan diri. Pria itu sudah akan berjongkok tapi Kiara langsung beranjak.


"Ikh males ikh, udah dibilangin jangan deket-deket juga. Kamu itu enggak bisa denger ya? Cakep-cakep budek."


"Astagfirullah!" Budhe Rahma mengusap dadanya melihat kemarahan Kiara yang masih sangat meluap-luap. Memang, Habibie sudah banyak melakukan kesalahan. Namun, jika seperti ini cara Kiara membalas, Budhe Rahma sangat kasihan kepada Habibie.


"Nak!" Budhe menepuk punggung Habibie pelan. "Jangan dimasukan ke hati. Kiara pasti sedang dalam mood yang kurang baik. Selama ini dia juga sudah melewati banyak kesulitan."


"Budhe, saya boleh minta tolong enggak, ceritain apa saja kesulitan Kiara saat dia tinggal di sini?"


Budhe Rahma mengangguk seraya tersenyum. Beliau menuntun Habibie untuk mengikutinya memasak, sedang Ayesha diminta untuk menemani Kiara karena mungkin sekarang perempuan itu tengah ada di sudut taman untuk menenangkan diri.


"Kiara itu anak yang malang, 7 bulan lalu, dia datang dalam kondisi menyedihkan, seluruh tubuhnya basah, kakinya berdarah-darah karena dia harus berjalan kaki selama dua jam untuk sampai di sini. Kiara juga sama seperti Nak Abie, pingsan di depan gerbang. Bedanya, saat itu Risyam yang menemukan Kiara."


Habibie tertegun, pria itu kembali merasakan sakitnya menjadi seorang Kiara, tengah malam, berjalan sendirian dalam kondisi hamil, apa mungkin saat itu Kiara datang ke kantor untuk memberitahunya bahwa dia sedang mengandung? Astagfirullah ... sungguh kejam mulutnya saat itu.


"Bagaimana dengan kehamilannya Budhe?"

__ADS_1


"Not good, but, tidak buruk juga, hanya saja, Kiara mengalami masa-masa yang sulit saat kehamilannya masih muda, dia mual muntah. Sekarang juga mungkin fase sulit itu akan kembali dia alami, susah tidur nyaman, kegerahan dan tulang panggul yang sakit. Kiara membutuhkan support dari mu, Nak."


Habibie menganggukkan kepalanya. Kembali ia mengusap bulir bening yang menetes tiba-tiba. Dia harus bisa membujuk Kiara, Habibie harus bisa membuat Kiara mau menerima uluran tangannya agar dia bisa membantu perempuan itu.


** ** **


Ketika makan siang tiba, Habibie tak langsung makan, pria itu memastikan kalau Kiara makan dengan baik, memberikan lauk pauk untuk istrnya juga menambahkan air putih pada gelas sang istri.


Orang-orang itu saling melirik satu sama lain, mereka membiarkan saja hal itu terjadi karena membujuk anak manja yang sedang hamil itu memang tidak mudah.


"Kamu mau aku gendut?" tanya Kiara tiba-tiba.


Habibie dan semua orang menatap ke arahnya.


"Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Habibie.


Kiara menarik napas panjang, perempuan itu meletakan sendoknya di atas piring kemudian mendongak menatap Habibie. "Dari tadi kamu ngasih aku lauk terus, kalau enggak mau aku gemuk apa? Kenapa sih ganggu terus."


Kiyai Salim tersenyum, dia ikut menambahkan ayam pop ke atas piring Kiara membuat perempuan itu semakin kesal saja.


"Ini untuk bayi kamu, bukan untuk kamu, Kiara. Makanlah lagi!"


"Pakdhe~~~!"


Kiara merengek tapi dia tetap makan paha ayam itu. Ummi juga anak-anaknya tersenyum melihat tingkah absrud Kiara, sedang Habibie, pria itu menunduk tapi juga tidak bisa menahan senyum samar di bibir.

__ADS_1


"Aku tidak akan menyerah Kiara." Habibie bertekad dalam hatinya.


__ADS_2