
"Maaf. Saya tidak mengenal Anda!"
Kiara berbalik, enggan untuk menerima kaleng soda dari pria di sampingnya.
"Saya Gibran. Adik pertama Kak Habibie."
Kiara menghentikan langkahnya. Perempuan itu kembali berbalik, menatap pria yang kini tengah tersenyum dengan senyum yang sangat ... ah sudahlah, ini tidak bisa digambarkan karena senyumannya itu terlalu menawan.
"Gibran?" tanya Kiara memastikan.
Pria itu mengangguk.
"Ahhhh ... aku ingat." Kiara kembali mendekat ke arah pria itu. "Bukannya masih di timur tengah?"
Gibran menggelengkan kepalanya. "Sudah kembali tadi malam. Mulai hari ini, saya yang akan menjadi direktur keuangan di perusahaan ini!"
Kiara mengangguk - anggukan kepalanya. Perempuan itu tidak jadi pergi dan malah mengambil kaleng soda yang ditawarkan oleh Gibran. Perempuan itu duduk pada sebuah kursi yang sudah usang.
"Terima kasih," ucapnya tulus.
Gibran tersenyum. Dia berdiri di depan pagar pembatas, menatap jauh ke sana tapi ekor matanya sesekali melirik ke arah Kiara.
"Butuh bantuan?" tanyanya karena Kiara terlihat agak kesulitan. Ternyata jempol dan jari telunjuk perempuan itu dilapisi plester, entah karena apa.
"Kenapa harus Mas Abie?"
__ADS_1
"What?"
Gibran melongo dengan kening mengkerut.
Kiara menggelengkan kepalanya. Astagfirullah ... dia tidak boleh berpikiran seperti itu. Tapi ya mau bagaimana, dia terlalu heran karena Habibie dan Gibran memiliki tabiat yang sangat berbeda. Habibie itu sangat galak dan menyebalkan, sementara Gibran, pria ini begitu ramah juga bisa diajak berteman.
Gibran tersenyum kecil, dia tahu apa maksud dari omongan Kiara setelah melihat ekspresi wajah perempuan di depannya. Menurut Gibran, Kiara ini cukup baik karena tidak membicarakan Habibie dengan sembarang orang meskipun dia percaya kalau Kiara sangat ingin melakukan itu.
"Saya tahu bagaimana, Kak Habibie. Dia masih belum bisa move on dari almarhumah bukan?"
Gibran menyodorkan kembali kaleng soda itu kepada Kiara. Melihat senyum tipis di bibir perempuan di depannya, Gibran tebak kalau apa yang dia tanyakan memang benar.
"Kalau Kakak mau, saya bisa membantu Kakak untuk mengenal almarhumah. Mungkin, dengan belajar menjadi perempuan itu, Kakak bisa lebih diperhatikan oleh Kak Habibie."
Perempuan di depan Gibran tergelak, Kiara menggelengkan kepalanya lantas mendongak menatap Gibran tanpa ekspresi. "Aku bukan wanita seperti itu. Untuk apa dicintai dengan versi orang lain? Itu adalah sebuah kebodohan yang mutlak, Kak Gibran. Aku tidak akan menjadi orang lain untuk mendapatkan cinta suamiku. Itu terlalu tidak masuk akal!"
...****************...
Setelah selesai dengan jam kantor, Kiara mulai mengemasi barang-barangnya untuk segera pulang. Perempuan itu beranjak dari duduknya, dia ingin langsung keluar. Tubuhnya seperti telah remuk, juga perut bagian bawahnya sangat tidak nyaman.
"Kak!" panggil pria itu.
Kiara menoleh, seulas senyum tersungging di bibirnya.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Pulang bareng yuk!" ajak Gibran. "Kak Habibie sepertinya masih banyak pekerjaan."
Kiara menoleh ke arah pintu ruang suaminya. Dia ingin menolak ajakan Gibran tapi ... jika Habibie lembur, dia tidak akan bisa pulang. Tubuhnya sudah lengket semua, Kiara butuh istirahat.
"Aku izin dulu!" ucap Kiara.
Gibran pun mengangguk mengiyakan. Namun, belum sempat Kiara masuk, pintu ruangan itu sudah terbuka dari dalam, Gibran dan Ali muncul bersamaan. Habibie memincingkan mata saat melihat ke arah Kiara dan adiknya.
"Pak. Saya mau izin pulang lebih dulu!" ujar perempuan itu. "Gibran akan mengantar saya pulang. Saya ---!"
"Tidak bisa," jawab Habibie dengan nada ketusnya. Habibie tidak akan membiarkan Kiara pulang dengan pria lain. Meskipun itu dengan adiknya sendiri, tidak akan pernah dia membuka pintu gerbang kehancuran rumah tangga mereka. "Kita harus menemui klien di restoran High Village. Kamu temani saya dulu!"
"Tapi, Pak--!"
"Kita berangkat sekarang!"
Kedua tangan perempuan itu terkepal dengan sangat kuat. Dia berusaha untuk tidak marah meskipun kepalanya sudah akan pecah. Berbeda dengan Kiara, Gibran malah bersikap bisa saja. Dia tidak terpengaruh dan hanya tersenyum. Kiara menghentakkan kakinya. Perempuan itu mengembuskan napas kasar lalu berjalan lebih dulu dari Habibie yang diikuti Ali.
"Kak!"
Gibran menahan lengan kakaknya. Pria itu menatap Habibie lekat. "Jangan terlalu keras pada Kakak Ipar. Dia adalah perempuan yang baik!"
Habibie tersenyum, membalas tatapan Gibran seraya melepaskan tangan adiknya itu perlahan. "Jaga batasan kamu, Gibran. Dia istri saya!"
Pria itu meninggalkan Gibran begitu saja. Miris, rasanya sangat tidak menyenangkan karena harus melihat keegoisan kakaknya di depan mata. Gibran tahu, bagaimana jahatnya Habibie jika sedang mendidik orang, meski itu demi kebaikan, jika perempuan yang digurui, perempuan itu pasti akan terluka.
__ADS_1
"Jadilah pria yang baik, Kak Habibie! Jangan sakiti Kak Kiara."