Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
44. Cemburu


__ADS_3

Sampai subuh menjelang, Kiara masih tidak sadar jika semalaman ia tidur dengan laki-laki yang sangat ingin dia hindari. Karena Habibie memang biasa bangun lebih dulu dan pergi ke mesjid, ketika Kiara bangun, kamar itu sudah kosong.


"Kenapa ada bau si Dugong? Apa dia datang?" Kiara menggelengkan kepalanya. Itu tidak mungkin, Kiara menepis pemikiran buruknya lantas pergi ke kamar mandi. Setelah selesai dengan kegiatannya pagi itu, Kiara tersenyum melihat Ummi dan Gibran sudah berkutat di dapur.


"Morning, Ummi. Morning Gibran!"


"Morning," jawab mereka berdua.


"Abi Fawas kemana Ummi?"


Kiara memeluk perempuan itu dari belakang. Punggung Ummi Amelia selalu yang terbaik untuknya.


"Abi kamu lagi bicara sama Habibie!"


"Ha?"


"Iya, tadi malam dia datang ke sini setelah mencarimu semalaman. Kamu enggak tahu? Yang meluk kamu semalaman itu Habibie. Bukan Ummi!"


Kiara terdiam untuk beberapa saat. Berarti Dugong itu memang sempat ada di kamarnya tadi malam. Ya Tuhan, mulut dan hatinya mengumpat tapi tubuhnya tidak bisa menolak.


"Gibran kamu bikin apa?" Kiara mengalihkan pembicaraan. Melepaskan pelukan Ummi Amelia sebab enggan untuk membahas masalah suaminya.


"Lagi bikin teh susu. Mau?"


"Enak enggak?"


"Enak dong. Sini aku ajarin cara bikinnya."


Kiara terlihat sangat antusias. Perempuan itu malah sibuk menikmati kebersamaannya dengan Gibran yang mana hal tersebut membuat Ummi Amelia menggelengkan kepala. Entah kenapa, Ummi Amelia takut kalau anak keduanya menyimpan rasa untuk Kiara.

__ADS_1


Sementara di tempat lain. Habibie habis-habisan dimarahi oleh Abinya. Pria itu tidak bisa melawan, hanya menunduk mendengarkan apa yang Fawas katakan.


"Kamu itu adalah contoh orang paham agama tapi belum bisa mengamalkannya. Kamu pikir menaruh barang-barang Almarhumah seperti itu adalah tindakan yang baik?"


Habibie mengerutkan kening. Pria itu menatap Fawas keheranan. "Kiara ngadu sama kalian?"


"Bukan ngadu Habibie. Ummi kamu yang bujuk Kiara supaya istri kamu mau bercerita. Tapi intinya bukan itu. Abi lagi ngomong masalah barang-barang Almarhumah. Kamu tahu kan kalau apa pun yang kamu miliki akan dihisab di akhirat? Kamu itu tahu hal ini Habibie, kenapa kamu malah bertingkah seperti orang bodoh?"


Lagi-lagi Habibie hanya menunduk, dia tahu dia salah, oleh karena itu Habibie tidak bisa berkata-kata.


"Sumbangkan semua barang milik Almarhumah atau berpisah saja dengan Kiara!"


Setelah mengucapakan itu, Fawas pergi meninggalkan Habibie. Pria itu menghampiri ketiga orang yang sedang bercengkrama di ruang keluarga.


"Buahahaha!" Kiara tertawa setelah mendengar cerita dari Ummi Amelia. "Itu gimana ceritanya kamu ditolak sama janda, Gibran. Apa enggak ada yang masih gadis. Ekh, tapi mau enggak dia sama kamu!"


"Ikh Ummi, kenapa baru cerita ini. Lucu tahu, masa Gibran yang kece badai ini ditolak. Ya Allah, rugi dia Gib. Yang sabar, hidup ini ujian."


"Ngobrolin apa'an sih? Kok rame banget. Abi enggak diajak!"


Kiara menghentikan suara tawanya. Apalagi saat melihat Habibie berjalan mendekat ke arahnya, perempuan itu malah menghindar dan duduk diantara Gibran juga ibu mertuanya.


"Teh nya enak enggak?" tanya Gibran.


Kiara mengacungkan kedua jempolnya. Perempuan itu kembali menyeruput teh tersebut sampai habis.


"Enak banget. Nanti ajarin bikin lagi ya."


Gibran hanya mengangguk. Ekor matanya melirik ke arah Habibie. Pria yang di lirik itu menekuk wajahnya masam. Gibran tahu, Habibie tidak suka Gibran terlalu dekat dengan istrinya.

__ADS_1


Habibie kesal. Pria itu akhir-akhir ini terbiasa menerima pelayanan dari Kiara, ya meskipun hanya sekedar membuatkan teh dan kopi, tapi Habibie menyukainya.


"Enggak ada teh buat Habibie, Nak?" tanya Fawas kepada Kiara.


"Bahannya ada di dapur Abi. Tinggal bikin aja sendiri. Gibran sama Kiara juga bikin sendiri. Iye enggak Gib?"


Pria itu terkekeh kecil. Mereka berdua saling menatap dan tertawa bersama. Kiara dan Gibran seolah sengaja melakukan itu untuk membuat Habibie marah.


"Kak. Ada ikan baru di kolam, mau lihat enggak?"


"Mau dong. Ayok liat sekarang!" Kiara beranjak, menarik tangan Gibran membawa pria itu keluar dari rumah. Ummi Amelia tersenyum sinis ke arah Habibie. Perempuan itu ikut beranjak seolah tidak mau berdampingan dengan Habibie.


"Ummi enggak bakal bujuk istri kamu buat pulang. Terserah dia mau di sini berapa lama. Jangan harap Ummi akan memihak mu, Habibie!"


Habibie dan Abi Fawas saling menatap. Kedua orang itu menunduk, jangan pikir Ummi hanya marah kepada Habibie, karena Fawas pun ikut terkena dampaknya.


"Maafkan Habibie, Abi!"


Fawas menghela napas panjang. Apa boleh dikata, semuanya sudah terjadi. Tidak ada yang bisa diputar kembali selain diperbaiki.


Pria itu terdiam cukup lama, sampai pada akhirnya dia berjalan menuju tempat di mana Kiara dan Gibran berada. Pria itu kembali terdiam saat melihat sang istri sedang tertawa dengan lepasnya. Perempuan itu terlihat memukul lengan Gibran beberapa kali. Kiara sepertinya sangat bahagia ketika Gibran membawakannya satu ekor ikan hias ke dalam ember.


Sebenarnya Habibie bisa saja meninggalkan Kiara di rumah itu kalau tidak ada Gibran. Namun, jika ada adiknya, Habibie tidak tenang. Ada ketakutan yang tidak bisa dia ungkapkan. Meskipun Habibie tahu kalau Gibran memiliki batasan, tetap saja, tidak baik bagi seorang wanita dan seorang laki-laki yang bukan mahram berduaan seperti ini.


"Kiara!" Tiba-tiba Habibie memanggil perempuan itu. Habibie memberikan isyarat kepada Gibran untuk meninggalkan mereka sementara waktu. Gibran yang mengetahui hal itu pun buru-buru berbalik, ia memang harus pergi agar Kiara dan Habibie bisa menyelesaikan masalahnya.


"Mau ke mana?" cegah Kiara mencekal pergelangan tangan Gibran. "Aku ikut!"


"Kiara!" Kali ini Habibie lah yang mencekal pergelangan tangan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2