
"Ikh, Ayah itu kenapa sih malah nanya-nanya masalah cucu. Padahal aku masih betah di sana, Mas. Tapi kalau udah bahas anak, nanti lagi aja. Emangnya Kiara bisa jawab apa? Kiara pan enggak bisa bikin anak sendiri. Iya enggak Mas Abie?"
Habibie tertohok ketika mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya. Untuk kesekian kali, Habibie dibuat sadar akan kesalahan yang dia buat. Kewajiban untuk memberikan hak batin untuk sang istri masih belum juga terpenuhi. Namun, jika mereka benar-benar melakukan itu, apakah Kiara akan mau, dia tidak akan menolak?
"Mas Abie!" Kiara mengibaskan tangan di depan wajah suaminya. Pria yang ada di balik kemudi itu tersentak. Ia menoleh dan tersenyum kecil ke arah Kiara.
"Kenapa?"
Perempuan itu mengerucutkan bibir. Mendadak ia menjadi sangat kesal karena perbuatan suaminya itu. Padahal dia ada di samping sang suami, tapi suaminya seolah abai dan lupa keberadaannya.
"Enggak jadi. Kiara mau pulang aja," ketus perempuan itu. Tentu saja Kiara marah, bagaimana tidak, Habibie mengacuhkannya.
"Kiara, saya ----"
"Udah, Kiara bilang mau pulang!"
Habibie mengembuskan napas kasar. Ia mencoba untuk menahan kekesalannya karena dia tahu kalau mood istrinya itu sedang tidak baik.
Namun, ketika tiba di persimpangan jalan, Habibi tidak berbelok ke arah yang benar. Habibie malah membawa Kiara pergi ke tempat yang sama sekali belum pernah Kiara kunjungi.
"Kita mau ke mana, Mas?"
"Kedai es krim. Bukankah kau sangat menyukainya?"
Kiara mengangguk samar. Terserah Habibie saja lah, yang penting dia bisa makan es krim enak tanpa harus merengek lebih dulu.
Sesampainya di depan cafe es krim tersebut, Kiara dibuat ternganga lantaran dekorasi tempat itu dipenuhi dengan bunga mawar berwarna biru yang sangat soft, ada juga efek-efek salju. Suasananya sangat nyaman, harum dari cafe tersebut pun tak ayal adalah harum bunga mawar.
__ADS_1
"Mas. Kok bisa kayak gini?" Mata perempuan itu berkaca-kaca.
Habibie tidak menjawab. Pria itu hanya tersenyum, menarik tangan Kiara, menggenggam jemari mungil itu lantas membawanya masuk ke dalam cafe.
Hal yang Habibie lakukan itu membuat Kiara menunduk menatap pada jemari mereka yang tertaut, dia mendongak, wajah suaminya juga masih sangat tampan saat dilihat dari samping seperti ini.
"Duduklah!" Habibie mempersilahkan setelah menarik kursi untuk istri kecilnya.
Kiara lagi-lagi dibuat kebingungan. Apalagi suasana di sana sangat sepi. Tidak ada pelanggan cafe satu orang pun, benar-benar hanya dia dan suaminya saja.
"Mas Abie ... cafe ini tidak terancam bangkrut 'kan?" Dengan polosnya Kiara menanyakan hal tersebut. Ya bukan salah Kiara juga, cafe itu memang benar-benar sepi. Jika setiap hari seperti itu, mungkin untuk bayar listrik aja tidak akan cukup.
Habibie terbelalak. Pria itu memanggil seorang pelayan dan pelayanan tersebut memberikan buku menu untuk Kiara.
"Kalau saya bilang cafe ini sudah saya akusisi bagaimana?"
"Hahhh? Untuk apa?" tanya Kiara heran. Keluarga Habibie sudah memiliki usaha yang cukup banyak di beberapa bidang. Memang sebagian besar adalah investasi. Namun, tetap saja ini agak mendadak.
Bagai mimpi di siang bolong, Kiara mematung. Perempuan itu menatap Habibie dengan tatapan tidak percaya. Memang tidak percaya, ini bukan cerita dongeng, kenapa Habibie bisa berubah dalam satu malam.
"Mas Abie baik-baik aja 'kan?" tanya Kiara.
Pria itu mengangguk. "Sekarang pesan eskrim nya. Sebentar lagi Dzuhur."
"Kiara negerti Mas," jawab perempuan itu tapi tidak yakin. Kiara tersenyum, beberapa menit setelah memesan es krim nya, Kiara memekik heboh. Satu mug besar, dan juga cake lumer yang sangat enak itu masuk ke mulutnya melalui suapan-suapan dari sendok yang cukup besar.
"MasyAllah. Ini enak banget," kata Kiara. "Mas mau coba?"
__ADS_1
Habibie menggelengkan kepalanya. "Makanlah! Hanya ada jatah 2 kali dalam seminggu."
"Loh, masa gitu Mas Abie?"
"Nanti kita buat varian yang lebih sehat, jadi kamu bisa makan tiap hari. Bisa menunggu?"
Kiara mengangguk antusias. Jangankan menunggu es krim sehat, menunggu Habibie berubah saja dia bisa asal itu masih dalam tahap normal. Kiara sangat menyukai perubahan sikap suaminya. Meski dia masih kebingungan, tapi itu tidak masalah asal Habibie tidak meneriakinya terus.
....
Sudah hampir satu minggu setelah Habibie memperlakukannya dengan baik. Setiap hari, selalu saja ada perhatian Habibie yang tidak bisa dia tebak.
Seperti yang baru saja terjadi, Habibie rela melepaskan jasnya di hadapan klien ketika Kiara tengah duduk menemaninya meeting di ruangannya. Hanya bertempat, dan saat itu, Kiara lah perempuan satu-satunya.
Senyum simpul tersungging di bibir sang gadis, Kiara tidak tahu harus mengatakan apa setelah mendapatkan perlakuan hangat seperti ini. Jantungnya selalu saja berdetak tak karuan. Apalagi ketika Habibie dengan terang-terangan memberikan perhatian dan servis luar biasa baik.
"Mas Abie," panggil Kiara setelah orang - orang itu pergi.
"Iya, Kia, kenapa?"
Perempuan itu tersenyum dengan lesung pipi. "Kiara nanti pulang agak siangan ya. Udah punya janji sama Bi Arum, Kia mau belajar masak."
Habibie tersenyum. Tangannya terulur, mengusap puncak kepala sang istri dengan usapan yang sangat lembut.
"Lakukan apa yang ingin kau lakukan, Kiara."
Perempuan itu bersorak heboh dalam hatinya. Dia langsung berterima kasih. Membungkuk lantas keluar dari ruangan sang suami.
__ADS_1
Senyum di bibir Habibie memudar begitu Kiara keluar dari ruangan itu. Habibie menyandarkan punggungnya pada sofa. Tangannya terangkat, memijat pelipisnya yang sakit tak tertahan.
"Jika ini yang kau inginkan, akan aku lakukan, Aisyah."