Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
35. Kecurigaan Habibie


__ADS_3

"Mas Abie!" panggil Kiara saat suaminya baru pulang dari mesjid.


"Kenapa? Kau butuh sesuatu?"


Kiara menggelengkan kepalanya lalu mengangguk. "Ummi sama Gibran mau ke sini. Katanya mau main, gimana?"


Habibie mengangkat kedua bahunya acuh. "Biarkan saja! Memangnya kenapa kalau mereka mau ke sini?"


"Gibran bilang, dia mau nengok istri kakaknya!"


Sengaja Kiara mengatakan hal itu dengan mata memincing menatap sang suami. Kiara hanya ingin tahu, bagaimana tanggapan suaminya tentang hal ini. Beberapa menit yang lalu, Kiara sudah menanyakan ini kepada Bi Arum. Satu kalimat yang terlontar dari mulut Bi Arum membuatnya sangat penasaran.


"Owwla ... apa mungkin, Tuan Habibie mendadak baik sama Nyonya gara-gara ada Den Gibran ya?"


Tapi sepertinya itu tidak benar. Habibie terlihat biasa saja. Masa bodoh lah. Kiara tidak perduli. Yang penting sekarang, Kiara akan bertemu dengan Ummi Amelia. Sudah lama dia tidak memeluk perempuan itu. Kiara sangat merindukan ibu mertuanya.


"Mau ke mana?" tanya Habibie ketus. Sudah jelas kalau Kiara masih sangat kesakitan, tapi perempuan itu malah berusaha untuk bangun dari tempat tidur.


"Kia mau ketemu sama Ummi. Kenapa? Enggak boleh?"


Habibie mengembuskan napas kasar. Pria itu bukan tidak mengijinkan Kiara untuk bertemu dengan ibunya. Tapi ya kalau Gibran ikut kemari, masa iya Kiara mau keluar dengan pakaian kurang pantas seperti itu.


"Pakai ini!" titah Habibie memberikan outer sebetis untuk istrinya.


Kiara mendengus, tapi dia tetap menyambar itu dan mengenakannya ogah-ogahan.


"Saya bantu ke bawah," ucap Habibie.


"Enggak usah. Aku bukan jompo, Mas!"

__ADS_1


Lagi-lagi Habibie menerima bentakan tidak terduga dari istrinya. Pria itu ingin protes tapi tidak mungkin digubris. Ali bilang, perempuan yang datang bulan itu moodnya naik turun, kadang terbang tak tentu arah, Habibie harus bersabar. Meski dia sedikit kesal, tapi itu sudah menjadi takdirnya, ya. Anggaplah seperti itu.


Di lantai bawah, Kiara terus saja melirik jam di ponselnya. Sudah hampir satu jam setelah Gibran mengatakan kalau dia dan Ummi Amelia akan datang, tapi sepertinya mereka masih belum sampai.


"Makan dulu aja, Kiara. Tadi sore kamu enggak makan apa-apa!"


Habibie ikut duduk pada sofa yang ada di sebrang istrinya.


Bukannya menjawab, Kiara malah membaringkan tubuhnya di atas sofa. Perempuan itu menatap Habibie dengan mata memincing. "Aku mau makan kalau Ummi udah di sini!"


"Kiaraaa!" geram Habibie.


"Kiara, Kiara, Kiara!" Perempuan itu malah mengulang apa yang Habibie katakan. "Jangan paksa aku, aku ini bukan boneka mu, Mas. Bentar-bentar galak, bentar-bentar baik, besok cuek kayak bapak Dugong. Sekarang bertingkah sok malaikat!"


"Kiara, kamu----


"Itu fakta Mas Abie! Jangan ngelak. Terima saja apa yang Kiara katakan dengan kelapangan hati!"


Baru saja Habibie akan berbicara, tapi pria itu tidak bisa melanjutkannya karena dua orang dari arah pintu sudah datang.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumssalam!" jawab Kiara dan Habibie. Perempuan yang sedang berbaring itu langsung berdiri. Dia berbalik, berlari dan memeluk Ummi Amelia erat.


"Ada apa, Kiara? Kangen sama Ummi?"


Kiara mengangguk dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa Ummi enggak pernah main ke sini, Ummi. Kiara pikir Ummi udah lupa sama Kiara. Ini pasti gara-gara Gibran yang bawa menantu baru untuk Ummi ya? Kenapa Ummi? Menantu Ummi yang baru lebih solehah dari Kiara? ... tapi Kiara pasti lebih cantik lha Ummi, jangan buang Kiara. Kiara enggak mau Ummi." Perempuan itu terus mengoceh tanpa memperdulikan keberadaan Habibie dan Gibran. Baginya, apa pun yang sudah dia miliki, harus dia amankan dengan baik. Kecuali Habibie. Pria itu terlalu sulit untuk ditaklukkan.

__ADS_1


Gibran yang ada di belakang Ummi Amelia hanya tersenyum. Pria itu menunduk, sejak kapan Ummi Amelia memiliki anak menantu yang sangat manja seperti ini, pikirnya. Memang, Umminya juga tidak memiliki anak perempuan, jadi wajar saja kalau Ummi sangat perhatian terhadap Kiara, apalagi Kiara masih terlihat seperti anak kecil, perempuan itu mungkin adalah anak SD yang bersembunyi dibalik tubuh orang dewasa.


"Aku enggak pernah bilang bhwa menantu untuk Ummi, Kak. Gibran itu masih single," katanya dengan kekehan kecil.


"Terus kenapa Ummi jarang ke sini?"


Kiara mendongak, Ummi Amelia menangkup wajah Kiara, mengusap air mata yang mengalir di pipi menantunya dengan sangat lembut.


"Ummi lagi ada beberapa hal yang harus diurus. Tadinya, Ummi mau ke sini besok pagi Tapi kata Gibran kamu sakit, jadi Ummi ajak Gibran untuk langsung ke sini. Udah makan belum?"


Kiara menggelengkan kepala masih sesenggukan. Perempuan itu kembali memeluk Ummi Amelia, dia benar-benar tidak ingin lepas dari mertuanya.


"Tolong letakan makanannya di atas meja, Gibran!"


"Iya, Ummi!"


Setelah meletakan itu, Gibran berjalan menuju tempat dimana Habibie berada. Pria itu semakin berwajah masam saja, padahal Gibran merasa kalau dia tidak melakukan kesalahan. Apakah pria ini cemburu? Tapi itu tidak mungkin. Habibie jelas-jelas masih hidup dibawah bayang-bayang istri pertamanya.


"Kenapa, Kak?" tanya Gibran.


"Apa?" ketus Habibie.


"Yeayyyy. Gibran cuma cek sound aja," canda Gibran karena tidak ingin terlalu serius. "Tapi Kak. Istri Kakak itu lucu, jarang lho ada memantu yang bisa seakrab ini sama mertua. Kiara itu perempuan yang sepesial. Gibran juga mau punya istri yang seperti Kak Kiara!" Pria itu berbicara sambil melirik ke arah Kiara dan Ummi Amelia. Perempuan itu menerima suapan demi suapan dengan senyum di bibirnya. Sangat terlihat dengan jelas kalau Kiara mensyukuri apa yang umminya berikan.


"Kau hanya belum tahu bagaimana merepotkannya Kakak ipar mu itu, Gibran." Habibie masih saja ketus seperti sebelumnya. Padahal, sejak tadi pun, dia terus melirik Kiara dengan ekor matanya. Memastikan jika perempuan itu baik-baik saja.


"Gibran enggak masalah, Kak!" sahutnya yang mana hal tersebut membuat Habibie mengerutkan kening, dia yang sejak tadi berkutat dengan laptopnya kini mulai duduk serius menatap Gibran.


"Segala sesuatu itu ada plus minusnya, Kak. Ciptaan Allah itu enggak ada yang sempurna, oleh karena itu, kita yang sudah menikah memiliki tugas untuk saling menyempurnakan satu sama lain. Maaf sebelumnya, Kak. Kak Kiara mungkin bukan perempuan shalehah dambaan Kak Habibie. Tapi percayalah! Ada banyak sekali orang yang rela mengantri untuk mendapatkan Kak Kiara seandainya mereka tidak tahu kalau Kak Kiara sudah menikah."

__ADS_1


"Apa maksudmu, Gibran?" Habibie menatap Gibran dengan tatapan tajam. Pria itu menelisik setiap pergerakan Gibran bahkan sampai ke gerak mata adiknya pun tidak lepas dari pantauan. "Jangan bilang kau adalah salah satunya!"


__ADS_2