
"Kamu langsung pulang aja, Li. Besok ada jadwal yang penting tidak?"
"Sepertinya tidak ada, Tuan."
"Besok saya libur. Kalau ada apa-apa hubungi saya!"
Habibie kembali memangku Kiara. Perempuan itu benar-benar tidak bersuara, moodnya sedang tidak baik-baik saja, jadi, apa pun yang Habibie lakukan, Kiara akan menerimanya tanpa banyak protes.
"Mas Abie!"
"Kenapa?"
"Kia libur hafalan dulu."
"Saya mengerti, Kiara."
Setelah itu, tidak ada lagi percakapan yang terjadi antara Habibie dan Kiara. Pria itu menurunkan istrinya di kamar mandi karena istrinya itu yang meminta. Sementara Kiara berada di kamar mandi, Habibie turun ke lantai bawah. Ia memanggil BI Arum untuk meminta bantuan pada perempuan itu.
"Bi!"
"Iya, Tuan!"
"Bi ... istri saya lagi datang bulan. Tapi kok kayaknya sakit banget ya. Saya harus gimana Bi? Kiara enggak mau dibawa ke rumah sakit."
Bi Arum tersenyum, bukan senang karena Kiara sedang menderita, hanya saja, BI Arum begitu bahagia sebab Habibie terlihat sangat khawatir. Itu artinya, Habibie masih perduli terhadap wanitanya.
"Tuan enggak usah khawatir. Itu memang biasa terjadi. Biar nanti Bibi buatkan teh jahe. Tuan temenin aja Nyonya. Kalau bisa jangan dikasih obat, Tuan. Biar enggak kebiasaan."
"Tapi apa bisanya memang seperti itu? Istri saya enggak akan kenapa-napa 'kan Bi?"
Senyum simpul kembali tersungging. "InsyaAllah enggak papa. Ooiya, tanyain aja Nyonya mau apa, biasanya sih perempuan yang lagi datang bulan itu suka banget makan coklat. Kalau enggak yoghurt juga bisa."
"Ya sudah, saya beli dulu, Bi. Titip istri saya sebentar!"
"Baik, Tuan!"
Habibie bergegas, mengambil kunci mobilnya untuk membeli apa yang mungkin istrinya mau. Lagi-lagi, dia terlihat seperti orang bodoh karena tidak mengetahui apa-apa.
"Tanya Ali aja deh!" gumamnya agar tidak ada kesalahpahaman, tidak salah beli dan tidak salah mengambil sesuatu yang sekiranya istrinya tidak butuh.
__ADS_1
Sementara itu, Kiara yang baru keluar dari kamar mandi kembali duduk di tepian ranjang. Perempuan itu sudah jauh lebih segar karena sudah mandi dan berganti pakaian. Matanya mengeriling, mencari sosok suaminya akan tetapi Habibie tidak ada di mana pun.
"Kan ... dia itu memang keterlaluan!" keluh Kiara. "Apa susahnya sih nemenin doang, timbang ngelus perut aja susah banget."
Hembusan napas kasar keluar dari mulut perempuan itu. Dia berbaring menyamping di atas tempat tidur, memeluk guling berharap rasa sakit itu bisa sedikit menghilang.
Bukannya menghilang, setelah menunggu hampir 30 menit, Kiara malah merasakan sakit yang luar biasa. Perempuan itu berbalik ke sisi tubuhnya yang lain, menarik laci pada nakas untuk mengambil obat pereda nyeri miliknya.
"No! Jangan minum itu!" Habibie memekik dari arah pintu. Buru-buru dia menghampiri Kiara, kantong yang ada di tangannya dia jatuhkan sehingga tangannya itu bisa merebut tablet dari tangan sang istri.
"Ngapain sih. Kiara butuh itu, Mas! Balikin!"
"Enggak bisa Kia. Bi Arum mau kasih kamu teh jahe. Jangan minum ini. Saya sudah bawa camilan juga."
Habibie mengangkat kantong kresek putih yang dia letakan di atas ranjang. "Pilih apa yang kamu mau. Saya enggak tahu harus beli apa."
Bukannya berterima kasih, Kiara malah mengerutkan kening. Perempuan itu bersandar pada ranjang sambil menatap suaminya dengan mata memincing.
"Sini Mas!"
Kiara menggerakan tangannya meminta Habibie untuk mendekat. Pria itu melakukan apa yang istrinya mau. Mendekat kemudian menunduk, tangan Kiara terangkat lalu ia letakan di atas kening sang suami untuk mengecek sesuatu.
Habibie terlihat sangat bingung. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Memangnya ada apa dengan dirinya? Ada sisi mana dari dirinya yang membuat Kiara berpikir kalau dirinya memiliki gangguan.
"Kenapa?" tanya Habibie dengan polosnya.
Kepala Kiara menggeleng. "Enggak papa. Enggak jadi!" sahut Kiara. Dia kembali meringis, meremas perut bagaian bawahnya yang memang terasa sangat sakit.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk Bi!" sahut Habibie.
Bi Arum pun masuk dengan membawa masuk sebuah mangkuk kecil berisi ramuan yang entah apa isinya.
"Biar saya aja Bi."
"Baik, Tuan!" ucapnya. "Cepet sembuh Nyonya. Jangan terlalu capek dan jangan terlalu stress!" Bi Arum mengatakan itu sambil melirik ke arah Habibie. Kiara yang mengetahui hal itu menahan senyum. Memang, selama ini yang membuatnya pusing adalah Habibie. Pria kulkas yang sekarang malah kelabakan sendiri. Entah karena kaget atau bagaimana Kiara tidak mengerti.
"Terima kasih, Bi!"
__ADS_1
"Sama-sama, Nyonya!"
Bi Arum keluar dari kamar itu, sedang Habibie sudah duduk di tepian ranjang. Dia membantu Kiara untuk meminum ramuan yang Bi Arum berikan.
"Kia juga punya tangan, Mas!" ketus perempuan itu.
"Saya tidak pernah bilang kalau kamu enggak punya tangan. Minum ini, sebentar lagi saya harus pergi ke mesjid!"
Bola mata Kiara memutar dengan cepat. Ia membuka mulutnya meminta Habibie untuk mengisinya dengan ramuan dari Bi Arum.
"Enggak enak!" kata Kiara seraya menutup mulutnya. Perempuan itu benar-benar tidak tahu rasa apa cairan itu. "Kia enggak mau, Mas!"
"Lho ... ini udah dibikin Kia, minum biar cepat sembuh!"
"Tapi enggak enak!"
Habibie mengembuskan napas pelan. Pria itu melirik kanan kiri, mencari cara agar Kiara bisa cepat-cepat menghabiskan ramuannya.
"Oke, gini aja."
Habibie mengambil yoghurt dari dalam keresek putih yang tadi dia bawa.
"Teh jahenya langsung diminum, jangan bernapas sebelum ini habis. Mas pegangin yoghurt nya abis ramuannya habis, kamu makan yoghurt ini!"
Kiara berpikir untuk sejenak. Tidak mungkin, dia tidak akan sanggup untuk melakukan itu.
"Gini aja, satu sendok ramuan Bi Arum, satu sendok Yoghurt!"
Astagfirullah ... Habibie menggelengkan kepalanya. Baru kali ini dia melihat orang sakit, ingin sembuh, tapi banyak nego.
"Ya sudah, saya bantu!"
Kiara tersenyum karena hal itu. Setelah semuanya Habis, Habibie meminta izin untuk pergi ke mesjid. Dia meninggalkan Kiara seorang diri. Perempuan itu juga sudah kembali berbaring untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Namun, saat matanya akan terpejam, ponsel Kiara tiba-tiba bergetar, dengan tangan lemahnya, perempuan itu mengambil ponsel di atas nakas, mengangkat telpon lantas dia tempelkan di telinga.
"Assalamualaikum!" kata Kiara.
"Wa'alaikumssalam. Kak. Maaf mengganggu, ini Gibran. Aku dengar dari Ali Kak Kiara sakit? Gimana keadaannya sekarang, Kak? Aku sama Ummi ke sana ya!"
__ADS_1
Ekhhh ... Kiara menjauhkan ponsel itu dari wajahnya. "Orang ini salah sambung atau bagaimana?"