Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
Bab 30. Kebahagiaan Kiara


__ADS_3

Perempuan cantik itu sama sekali tidak menunjukan penyesalan meski Habibie sudah menghukumnya dengan membuat Kiara berdiri dengan satu kaki juga menyilangkan tangan untuk menarik telinganya sendiri. Jangan lupakan bentakan Habibie kepadanya karena perempuan itu salah membunyikan tajwid. Hafalan Kiara diperpanjang karena kamarnya sedang di obrak-abrik Bi Arum, Devi dan si Agus. Mereka ditugaskan untuk mencari anak katak bawaan Kiara sebelum mereka bisa tidur lagi di kamar itu.


"Satu kali lagi salah, saya tidak akan segan untuk memukul betis mu, Kiara!"


Perempuan itu mengangkat kedua bahunya acuh. Terserah Habibie. Kiara sudah tidak perduli. Kemarin Habibie juga sudah mengejeknya karena dia yang takut pada kecoak. Sekarang giliran Kiara yang menakuti suaminya itu karena memang dia pantas untuk mendapatkannya.


"Sudah, Mas Abie!"


"Belum!"


"Udah Mas!"


"Lanjutkan!"


Kiara meringis. Perempuan itu tiba-tiba terhuyung dan jatuh dengan cukup keras. Bibirnya meringis seperti menahan sakit yang cukup banyak.


"Mas Abie tolong Kiara!"


"Enggak mau!"


"Mas Abieeee! Kiara jatoh ini! Tolongin Kiara."


Perempuan itu terus saja merengek meminta untuk ditolong. Padahal ya dia bangun sendiri pun bisa. Kiara hanya ingin mengerjai suaminya. 30 menit bukan waktu yang singkat untuknya berdiri dengan satu kaki.


"Bangun sendiri, Kiara!"


"Enggak mau!" jawab Kiara enteng. "Ekh, enggak bisa maksudnya! Ayolah Mas Abie. Nanti Kiara bilangin lho sama Ummi biar Mas Abie dimarahin Abi Fawas!"


Pria dibalik meja kerjanya itu mengembuskan napas pelan, membuka kacamata bacanya lantas beranjak dari duduk. Habibie berjongkok, menatap Kiara yang sudah merentangkan tangan meminta untuk digendong. Wajah memelas perempuan itu membuat Habibie tidak tega, tapi Kiara juga sangat menyebalkan.


"Gendong!" rengek perempuan itu lagi.


Mau tidak mau Habibie menelusupkan tangannya di bawah lutut sang istri juga dibelakang punggung istrinya itu.


Setelah Kiara berada di gendongan, pintu ruang kerja Habibie diketuk dari luar. Habibie pun mempersilahkan orang itu untuk membuka pintu.


"Ada apa, Bi?"


"Anu Tuan, kamarnya sudah kami bersihkan. Kataknya juga udah Mang Agus buang. Tuan dan Nyonya bisa beristirahat sekarang juga."


Habibie mengangguk ke arah Bi Arum. Beliau berterima kasih dan meminta maaf karena sudah menganggu malam-malam begini.


"Tidak apa-apa Tuan. Kalau begitu saya permisi!"


Habibie kembali mengangguk. Dia menunduk ingin menurunkan Kiara akan tetapi perempuan itu semakin mengeratkan pelukannya.


"Kia enggak mau turun. Ke kamar aja. Kaki Kia masih sakit, Mas!"


Lagi-lagi Habibie harus menambah kesabarannya agar tidak berbuat dosa lagi dan lagi.


"Kau itu terlalu manja, Kiara."


"Emang!"

__ADS_1


Eishhhhhhh. Habibie salah jika ingin memojokan istrinya dengan cara seperti itu.


"Mas....!"


"Hmmm!"


"Kia boleh enggak main ke kantornya Mas Abie. Kia bisa lho jadi sekretaris Mas Abie. Kata asisten Mas Abie itu, Mas lagi butuh---"


"Enggak bisa."


"Bisa lah Mas. Kiara janji, kalau Mas biarin Kiara kerja sama Mas Abie, Kiara akan lebih giat untuk menghafal."



(Visualisasi Neneng yang lagi bujuk Ayang🤣)


"Yah ... boleh ya Mas."


"Enggak bisa, Kiara!"


"Kenapa? Kenapa Kiara enggak boleh ke mana-mana? Kenapa Kiara harus dikurung di rumah. Please ... boleh ya!"


Perempuan yang sudah bergelut di bawah selimut itu kembali merangkak, menarik kaos suaminya yang akan bertolak entah ke mana.


"Lepasin, Kiara!"


"Enggak mau."


"Enggak mau ikh. Jangan maksa Mas. Enggak boleh tahu kayak gitu."


"Tapi dari tadi kamu udah maksa-maksa saya!"


"Itu nego Mas Abie, bukan maksa."


Astagfirullah ... terbuat dari tanah apa perempuan di depannya ini. Habibie sudah mencoba berbicara baik-baik tapi masih tidak masuk juga. Dikembalikan malah ada saja alasannya. Lantas, bagaimana caranya agar Habibie bisa melepaskan perempuan pengganggu ini.


"Terserah kamu aja, Kiara!"


Kelopak mata perempuan itu terbelalak dengan sempurna, Kiara melepaskan cengkeramannya pada kaos yang dikenakan Habibie kemudian berdiri dan melompat-lompat heboh di atas ranjang.


"Yuhuuuuuuuu ... kerja, kerja, kerja,!"


Habibie menggelengkan kepalanya. Perempuan di depannya ini benar-benar sangat aneh, disaat dia bisa menghidupi Kiara dengan harta yang dia miliki, perempuan itu malah menginginkan untuk bisa bekerja dan mencari kesibukan.


....


Keesokan paginya, Kiara benar-benar telah berdandan dengan rapih. Perempuan itu terlihat sangat cantik dan anggun di saat yang bersamaan. Rambut yang biasanya diikat dua atau dia Cepol di atas kepala kini dibiarkan tergerai. Senyum di bibirnya membuat cekungan pada lesung pipinya semakin dalam.



"Wihhhh, mau kemana Nyonya?" tanya Bi Arum saat Kiara telah ada di dekat meja pantry.


"Saya mau kerja, Bi. Saya mau jadi sekretarisnya Mas Abie." Perempuan itu kembali heboh.

__ADS_1


Bi Arum tersenyum, beliau ikut bahagia karena Kiara kembali ceria seperti saat pertama kali dia masuk ke rumah ini.


"Selamat, Nyonya Kia. Saya ikut bahagia!"


Kiara mengangguk dalam "Terima kasih, Bi. Saya mau buat teh dulu untuk Mas Abie. Nanti kalau saya libur, ajarin saya masak ya!"


"Gampang itu mah!"


....


Perempuan cantik itu menyambar tas di atas meja lantas berlari mengikuti suaminya yang sudah berjalan lebih dulu. Perempuan itu membuka pintu mobil setelah Habibie membuka kuncinya.


"Ayok Mas!" ajak Kiara melambaikan tangan kepada suaminya.


Habibie menggeleng-gelengkan kepalanya. Pria itu ikut masuk kemudian duduk dan mengembuskan napas berat. "Jangan lupa perbaikan hafalan nanti malam!"


"Siap, Bos!" ucap Kiara memberikan hormat kepada suaminya.


Lagi-lagi Habibie hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah. Pria itu tidak berniat untuk membuat percakapan, sepanjang perjalanan pun, hanya Kiara yang mengoceh, sedang dirinya diam entah karena sariawan atau apa.


Sesampainya di perusahaan, Kiara dan Habibie turun. Kedua orang itu melangkah berdampingan melewati lobby perusahaan. Desas desus para karyawan kian terdengar, mereka semua memincingkan matanya melihat sosok perempuan cantik yang ada di sebelah Habibie.


"Mungkin itu sekretaris baru? Lewat jalur mana ya, cepet amat."


"Hmmm. Mana tadi keluar dari mobil Pak Habibie!" ujar seseorang yang baru masuk dan nimbrung di dekat meja resepsionis.


"Jaman sekarang gampang ya deketin petinggi perusahaan, kehilangan harga diri pun sudah tidak berarti."


"Hush! Jangan ngomong yang macem-macem. Itu sama saja seperti kamu memfitnah Pak Habibie. Lagipula, Pak Habibie itu sudah menikah. Mana mungkin dia bermain gila dengan perempuan lain."


Orang-orang itu mulai bungkam dan kembali ke tempatnya masing-masing.


....


"Meja kamu di sini!" kata Habibie menunjuk sebuah meja yang ada di samping pintu ruangannya. Kiara mengangguk. Perempuan itu membungkuk ke arah Habibie kemudian tersenyum.


"Perkenalkan, Pak Habibie, saya adalah Kiara, saya sekretaris Bapak!"


Habibie mendengus, pria itu masuk ke dalam ruangannya tanpa memperdulikan Kiara. Sementara itu, sang perempuan sudah asyik dibalik mejanya. Tersenyum juga terkekeh kecil.


"Baiklah, apa yang harus aku lakukan sekarang? Ah ... mencari tahu tugas sekretaris dari internet!"


Perempuan itu sudah akan membuka laptopnya akan tetapi sebuah Tumbler di depannya membuat dia kembali teringat akan sosok suaminya.


"Yah ... hampir lupa."


Perempuan cantik itu beranjak dari duduknya kemudian berjalan masuk ke ruangan sang suami. Lengkungan di bibirnya tertarik ke atas saat melihat punggung lebar Habibie yang ada di dekat dinding kaca besar. Pria itu sepertinya sedang menelpon seseorang.


"Iya Abi! Beban sih. Nanti Habibie buat Kiara enggak betah aja di sini, biar dia tinggal di rumah."


Deg!


Getir, hati Kiara kembali tercubit karena ucapan suaminya itu. Senyum yang tadinya merekah mulai luntur sedikit demi sedikit.

__ADS_1


__ADS_2