
Kiara mengepalkan salah satu tangannya. Mata perempuan itu telah memanas tapi dia mencoba untuk menahan itu semua. Beban? Habibie menganggapnya sebuah beban? Kita lihat saja, setelah Kiara berhasil menjadi istri dan sekretaris yang baik, apakah Habibie akan terus mengatakan hal itu?
Tanpa menunggu Habibie menoleh, Kiara telah lebih dulu menaruh tumbler di atas meja. Perempuan itu langsung kembali seraya mengusap sudut matanya.
"Stay strong, Kiara. Buktikan kepada semua orang kalau kau bisa melakukan pekerjaan ini dengan baik."
Perempuan itu mengembuskan napas kasar lantas duduk di meja kerjanya. Perempuan itu langsung mengambil ponsel untuk menanyakan keberadaan sekretaris lama suaminya. Jika ingin menang, Kiara harus bisa memenangkan hati suaminya dengan baik. Kiara akan membuktikan kalau hasil kerjanya tidak akan mengecewakan. Kiara pasti akan membuat Habibie tercengang karena pencapaian yang Kiara dapatkan.
"Halo ... iya, selamat pagi, Mbak. Iya. Saya Kiara, sekretaris baru Pak Habibie, kira-kira saya boleh tahu enggak ya Mbak apa yang harus saya lakukan?"
Perempuan itu tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Dia mulai mencatat informasi - informasi penting agar nantinya tidak ada kesalahan fatal yang akan dia lakukan.
"Terima kasih, Mbak!"
Kiara menyunggingkan senyum, dia melirik ke arah ruangan Habibie sekilas kemudian beralih ke arah meja kerjanya. Selain arahan dari sekretaris lama, Kiara juga mencari seluk beluk tugas sekretaris dari berbagai sumber. Bukan hanya dari mantan sekretaris lama, tapi juga dari internet dan orang-orang terdekatnya.
Sementara itu, di dalam ruangan, Habibie menoleh setelah selesai berbicara dengan orang di sebrang telepon. Pria tampan itu kembali duduk di mejanya tapi kemudian dia tertegun. Sebuah tumbler telah ada di sana sejak kapan? ini sudah pasti bukan pekerjaan Ali.
Tapi ... itu artinya yang menaruh tumbler itu adalah Kiara. Ya Tuhan, Habibie menjadi teringat akan kata-katanya tadi. Kiara tidak datang di waktu yang tepat bukan?
Tidak ingin berpikir yang tidak-tidak, Habibie mengambil tumbler itu, membuka tutupnya untuk dia hirup isi di dalamnya. Garis lengkung itu muncul, ia tersenyum. Wangi teh itu sangat harum, lagi-lagi ini agak berbeda dengan wangi teh yang sering orang-orang berikan padanya.
Perlahan, Habibie menyesap teh itu sehingga semakin lebar lah senyuman di bibirnya. Kiara ini sudah ada kemajuan. Bukan kemajuan kecil karena ini sangat besar, untuk Kiara, bisa membuat Teh saja sepertinya adalah pencapaian luar bisa. Habibie tidak bisa membayangkan bagaimana perempuan itu harus bekerja keras untuk membuat racikan teh yang sesuai.
Setelah menikmati teh tersebut, Habibie mulai bekerja, dengan perasaan yang jauh lebih baik. Satu jam kemudian, seseorang terdengar mengetuk pintu ruangannya.
Tok Tok Tok!
"Masuk!" sahut Habibie dari dalam.
Kiara muncul dengan beberapa dokumen di tangannya. Hanya saja, tidak ada senyum di bibir perempuan itu. Kiara terlihat agak berbeda, juga rambut yang dia biarkan tergerai kini dia ikat seolah mengatakan jika dia memiliki tekad yang kuat.
__ADS_1
"Pak. Saya mau minta tanda tangan Bapak!"
"Taruh saja di sana!"
"Maaf Pak. Ini harus ditandatangani sekarang!"
"Kiara, saya----!"
"Saya sudah membaca keseluruhan isi dari dokumen ini." Kiara menjelaskan detail tiap dokumen dengan sangat baik. Namun, pria di depannya bukan fokus mendengarkan malah menatap perempuan di depannya lekat.
Bukan suara Kiara tidak sampai, hanya saja , justru karena suara itu sampai, Habibie tidak bisa kehilangan fokus dari perempuan ini, cara Kiara menjelaskan, dari mana dia harus memulai semuanya sudah tepat.
Habibie tidak tahu, kalau Kiara sampai harus menelpon ayahnya untuk menanyakan perihal bagaimana cara sekretarisnya memberikan laporan kepada dia.
Ya, dalam waktu sesingkat itu Kiara bisa melakukannya. Sejak awal juga sudah di katakan jika perempuan ini adalah perempuan yang cerdas, hanya saja dia terlalu nakal sampai potensi yang ada dalam dirinya tenggelam begitu saja.
"Pak!"
Kiara mengetuk meja kerja suaminya.
"Terima kasih, Pak!"
Perempuan itu membungkuk, Kiara berjalan keluar dari ruangan suaminya masih dengan raut wajah yang sama tanpa mau menoleh ke arah Habibie.
"Apa dia marah?" Habibie bertanya pada angin. Melihat Kiara yang bersikap dingin seperti itu membuatnya menjadi kurang nyaman. Kiara sudah terbiasa bawel, banyak tingkah dan suka membuat masalah. Tapi kenapa, rasanya sangat aneh saat tiba-tiba perempuan itu diam.
....
Saat makan siang, Kiara tak menemui suaminya. Perempuan itu malah menemui Ali, meminta Ali untuk menemaninya makan di kantin perusahaan. Habibie ini adalah orang yang sangat mementingkan karyawannya. Urusan kantin pun sebenarnya tak pernah luput dari pantauan. Dia selalu mengurus itu dengan baik. Para karyawan mungkin memang diharuskan membayar, tapi Habibie akan memasang harga normal dengan kualitas makanan yang sangat baik. Itulah yang Rey katakan kepada Kiara.
Dua orang itu mengambil nampan yang ukurannya cukup besar, memiliki beberapa kotak - kotak yang diisi dengan lauk berbeda.
__ADS_1
"Wuahhhh ... ini benaran enak lho makanan!" puji Kiara. Perempuan itu tidak sadar kalau saat ini dia menjadi pusat perhatian. Bukan cuma perhatian para karyawan lain, tapi juga perhatian Habibie yang baru saja sampai di sudut kantin.
Tangan pria itu mengepal sedikit demi sedikit saat Kiara dengan riangnya berceloteh bersama dengan tangan kanannya.
"Uhukkk!"
Pria itu terbatuk karena tatapan seseorang di pojok ruangan. Dia tidak bisa melanjutkan celotehannya, memilih untuk pergi sampai Kiara harus memanggilnya beberapa kali.
"Eishhhhhhh. Kalian itu sangat menyebalkan!" Kiara menggerutu seraya memasukan nasi ke dalam mulutnya. Perempuan itu memutar bola mata, kesal sampai rasanya ingin menjambak siapa pun yang ada di depan mata.
"Kau kecewa karena dia pergi?"
Uhukkk!
Kiara ikut terbatuk, tapi parahnya, ini lebih dari satu kali, perempuan itu sudah beberapa kali ingin membuat tenggorokannya nyaman tapi tidak bisa.
"Apa kau baik-baik saja?" Habibie menepuk punggung di dekat tengkuk istrinya, pria itu juga mengambil air, memberikan istrinya minum agar tenggorokannya bisa lebih enakan.
Tak!
Kiara menaruh gelas itu cukup kencang, dia berbalik dan menoleh ke arah sang suami. "Puas Pak? Puas udah bikin saya kaget sampai saya hampir mati kayak gitu?"
Habibie tercengang, begitupun dengan orang-orang yang ada di sana. Kiara beranjak dari duduknya, perempuan itu pergi meninggalkan Habibie dan orang-orang yang masih menatapnya dengan tatapan bodoh. Baru kali ini mereka melihat seseorang berani berkata-kata tajam terhadap Habibie.
Sementara itu, perempuan yang telah pergi ke atap perusahaan hanya bisa menundukkan kepalanya pada pagar pembatas yang ada di sana, baru satu hari kerja dengan Habibie, tapi dia sudah dibuat kesal seperti ini. Tidak dihargai, dianggap beban, lalu apa lagi ....
"Minumlah!"
Tiba-tiba seseorang menyodorkan sekaleng soda untuk perempuan itu.
Kiara mendongak lalu menoleh, perempuan itu menatap pria di sampingnya dengan kening mengerut.
__ADS_1
"Aku tidak mengenal mu," kata Kiara tegas.
"Tapi aku mengenal mu!"