Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
64. Kamu Di Mana


__ADS_3

Bahu Habibie turun ke bawah dengan sangat pelan. Senyumannya hilang. Itu bukan Kiara, hanya seseorang yang nampak seperti istrnya dari belakang. Lantas, kemana istrinya pergi. "Maafkan saya, Mbak!"


Pria itu berbalik, ia kembali menelusuri setiap sudut jalan, berusaha untuk menemukan sang istri, berlarian seperti orang bodoh ditengah hujan, tak memperdulikan tatapan aneh orang-orang yang melewatinya.


"Kiaraaaaaa!"


Pria itu berlutut di atas genangan air, mengusap wajahnya, cairan hangat itu meleleh dari pelupuk matanya. Habibie menyerah. "Kiara kamu dimana? Pulang Sayang. Aku minta maaf, jangan tinggalkan aku."


Jika orang mengatakan tidak ada kata terlambat, lihatlah Habibie sekarang, dia begitu kesakitan karena ulahnya sendiri. Ketidak jujuran dan ketidak tegasannya menyeret pria itu masuk ke dalam jurang kehancuran. Bukan tidak ada kesempatan, hanya saja, bisakah orang itu memberikan dia kesempatan? Hal apa yang Habibie miliki yang bisa membuat Kiara kembali padanya? Adakah?


** ** ** **


Di sudut, lain. Seorang perempuan tengah berjalan terseok-seok di bahu jalan. Ia menoleh kanan kiri, takut karena keadaan di sana sangat sepi. Apalagi hujan sangat deras, ia mencoba untuk tetap berjalan meskipun kakinya sudah sakit. Tubuhnya menggigil kedinginan.


"Budhe!" Kedua tangan Kiara memegang sebuah gerbang besar yang letaknya sangat jauh dari perkotaan. Area itu benar-benar terpencil sampai Kiara hampir menyerah, uang cash nya habis untuk membayar taksi, sudah dua jam ia berjalan kaki, dan senyum itu tersungging saat ia sampai di depan sebuah pesantren milik kakak ibunya.


"Budheeee!" Kiara kembali berteriak. Ia mengambil batu, memukul gerbang besi itu dengan batu di tangannya. Sebenarnya tembok pesantren di kedua sisi gerbang itu lebih rendah, tapi kondisinya yang sedang hamil, tidak mengijinkannya untuk memanjat.


"Budheeeeeeee! ... Budhe~~!" Suara perempuan itu terdengar lebih lirih. "Budhe dimana. Ini Kiara Budhe, tolong Kiara."


Brukkk!


Perempuan itu jatuh pingsan. Ia tergeletak, sampai beberapa saat kemudian, gerbang itu terbuka, muncul seorang laki-laki dengan payung di tangannya. Ia seperti mencari-cari orang ke sembarang arah tanpa menoleh ke bawah. Namun, ketika hendak menutup gerbang itu lagi, matanya terbelalak.


"Astagfirullah ... Mbak!" panggil pria itu. Karena tidak mungkin meninggalkan Kiara sendirian, ia melemparkan payung di tangannya lantas menggendong Kiara, membawa perempuan itu masuk ke area pesantren.


" Ummi" panggil pria itu. "Ummi!"


Ia terus saja berteriak menunggu pintu rumah itu terbuka.

__ADS_1


"Astagfirullah Ustadz Risyam. Kenapa teriak-teriak tengah malam?"


Ummi Rahma membukakan pintu rumahnya. Ingin kembali mengomel, tapi tidak jadi karena matanya melihat perempuan dengan tampilan menyedihkan berada di gendongan anak bungsunya.


"Ya Allah, Risyam. Dia siapa?" Wajah yang sebelumnya sudah memerah mendadak pucat pasi, ia hampir memekik saat menyingkirkan rambut yang menutup wajah perempuan itu. "Ya Allah Risyam ini keponakan Ummi. Adek kamu, Le!"


Ummi Rahma menarik lengan Risyam agar anaknya membawa Kiara masuk ke dalam rumah. Lebih tepatnya ke kamar tamu. "Baringkan di sini! Kamu cepat ganti baju, nanti masuk angin. Tolong telpon Kiyai. Bilang jangan pulang terlalu pagi!"


"Baik Ummi!" jawab Risyam pelan. Ia menatap Kiara sekilas sebelum keluar dari kamar itu. Melihat Umminya begitu khawatir, Risyam yakin kalau Kiara ini bukan orang tidak baik. Meskipun memang pakaiannya masih belum mencerminkan siapa dia, tapi Risyam yakin Kiara bukan perempuan malam atau sejenisnya.


Ummi Rahma mengetuk pintu kamar anak keduanya, ia hendak meminta tolong untuk meminjam pakaian sebab pakaian Ummi Rahma pasti akan terlalu besar untuk Kiara.


"Ummi nyari apa?" tanya Ayesha. Ia kebingungan sebab ibunya tiba-tiba masuk, membuka lemari pakaiannya dan mengambil beberapa pakaian.


"Ummi pinjam dulu. Ada keponakan Ummi datang, dia sepertinya kelelahan. Bantu Ummi dulu, yuk. Ambilkan minyak kayu putih."


Ayesha yang tiba-tiba terbangun itu masih loading, tapi dia tetap mengambil minyak kayu putih yang ibunya mau.


Ayesha tertegun di depan pintu setelah menutup dan menguncinya. Ia melihat perempuan itu dengan dalam, sangat cantik, tapi kenapa di kakinya banyak luka, sosok yang masih terbaring itu juga kulitnya sangat putih, body goals yang dia inginkan ada pada sosok Kiara.


"Ummi. Ini siapa?" tanya Ayesha terpana melihat kecantikan Kiara.


"Adek kamu. Sekarang bantu Ummi ganti pakaiannya dulu. Atau kamu keringkan rambutnya."


"Baik, Ummi."


15 menit kemudian, mereka baru selesai mengganti pakaian dan juga memindahkan Kiara ke sisi ranjang lainnya yang tidak basah. "Nak! Ambilkan tasnya, tolong keluarkan isi tas itu, takut basah kena air hujan."


"Iya, Ummi."

__ADS_1


"Bunda ... Bunda, Bunda di mana ...."


"Kiara!" panggil Ummi Rahma. Ia duduk di tepian ranjang, menarik selimut semakin ke atas, juga menggosok tangan Kiara agar perempuan itu bisa merasa lebih hangat.


"Ini Budhe, Sayang. Bangun Nduk."


Kelopak mata Kiara terbuka perlahan, perempuan itu diam untuk beberapa saat, mencoba untuk mengembalikan memorinya yang sempat hilang sementara waktu.


"Budhe!" panggil Kiara dengan suara yang sangat lirih. "Ini Kiara Budhe, ini Kiara." Perempuan itu tiba-tiba menangis, ia duduk, memeluk Ummi Rahma, mendekapnya dengan erat. Wajah Ummi Rahma tidak terlalu mirip dengan wajah ibunya, tapi sekarang, Kiara merasa ini cukup daripada tidak sama sekali.


"Budhe ... tolong Kiara Budhe. Kiara enggak tahu harus ke mana lagi. Semua orang udah enggak mau Kiara lagi. Mereka udah enggak butuh Kiara, mereka sudah bahagia. Kiara enggak punya siapa-siapa lagi, jangan usir Kiara dari sini."


Perempuan itu terisak dalam dekapan perempuan yang entah kenapa ikut menangis merasakan tubuh Kiara gemetaran. Begitu pun dengan Ayesha, air matanya tiba-tiba jatuh padahal tidak dia minta.


"Ada apa, Nduk. Siapa yang udah bikin kamu kayak gini? Siapa yang bilang kamu enggak punya siapa-siapa. Ada Budhe, Pakdhe, kami semua ada untuk mu."


Kiara malah semakin terisak. Perempuan itu menyesal karena tidak pernah mendengarkan kemauan ibunya. Andai dulu Kiara menjadi anak yang penurut dan tinggal bersama dengan Budhe Rahma alih-alih dengan ayahnya, hal ini mungkin tidak aka pernah terjadi.


"Pernikahan Kiara hancur, Budhe. Ini bukan salah Kiara, Kiara udah coba buat jadi yang terbaik, tapi Kiara tetap tidak ada artinya ... Kiara selalu salah dimata mereka. Selalu ada sosok lain yang bisa mengungguli Kiara ... Kiara enggak salah apa-apa Budhe, kenapa mereka tega sama Kiara."


"Shutttt! Enggak papa, Nak. Ada Budhe di sini."


Usapan - usapan lembut Ummi Rahma berikan pada kepala dan punggung Kiara. Entah bagaimana caranya agar perempuan itu berhenti menangis, tapi sepertinya Kiara memang belum bisa menghentikan tangisannya.


"Kiara enggak mau pulang, Budhe ... Kiara mau tinggal di sini aja sama Budhe. Kiara takut mereka akan mengambil bayi Kiara." Ketakutannya saat ini berpusat pada janin yang ada dalam kandungan, ia begitu takut Habibie tahu dan mengambil anak itu darinya.


"Kamu hamil?" tanya Budhe Rahma seraya mendorong lengan Kiara.


Perempuan itu mengangguk samar. Iya, dia hamil tapi ayah dari janin yang dia kandung tidak pernah menginginkan keberadaan mereka. Harus apa dia sekarang? Kembali? Meminta tanggung jawab? ... Kiara tidak akan pernah melakukan itu.

__ADS_1


"Suami kamu tahu tidak?"


__ADS_2