
"Kak Kiara," gumam Gibran. Dia mengedarkan pandangannya, mencari sosok sang kakak kandung. Keberadaan Habibie tidak dia temukan, akhirnya Gibran membawa perempuan itu masuk.
"Ummi mana?" tanya Kiara.
"Ummi udah tidur kayaknya, tapi tunggu sebentar, biar aku bangunin dulu."
"Enggak usah," cegah Kiara.
Gibran kebingungan. Pria itu tidak tahu harus melakukan apa. Ini sudah malam, orang-orang telah kembali ke kamar mereka. Membangunkan Ummi Amelia tidak boleh, lantas apa yang harus Gibran lakukan.
"Biarkan aku menginap di sini untuk beberapa hari. Tapi jangan bilang-bilang sama Mas Abie."
Gibran hanya mengangguk. Pria itu membawa Kiara naik ke lantai atas, mempersilahkan Kiara masuk ke kamar kakaknya yang memang sengaja tidak pernah diisi.
"Kak. Aku akan buatkan teh hangat."
Kiara tidak menjawab. Perempuan itu berjalan menuju kamar mandi, membasuh wajahnya membersihkan riasan yang sempat dia gunakan untuk menutupi bengkak pada matanya. Perempuan itu baru akan berbaring saat pintu kamar kembali diketuk dari luar.
"Teh hangatnya, Kak."
"Terima kasih, Gibran. Maaf kalau mengganggu malam-malam."
Pria itu menggelengkan kepalanya. Ia menatap wajah perempuan di depannya itu dengan seksama. Gibran tahu, Kiara pasti sudah menangis lama. Matanya bengkak juga hidungnya memerah.
"Kakak ada masalah sama Kak Abie?"
Perempuan itu menggelengkan kepalanya. "Hanya masalah kecil, Gib. Enggak begitu fatal kok. Aku istirahat dulu ya!"
Gibran hanya bisa mengangguk. Jika memang itu masalah kecil, Kiara tidak mungkin seperti ini. Kiara bukan perempuan lemah, Gibran tahu itu. Cukup lama dia berdiri di depan pintu. Gibran mungkin hanya adik ipar perempuan di dalam kamar, tapi ... jika Habibie menyakitinya, Gibran seperti tidak bisa menerima itu. Keluarganya adalah keluarga baik-baik. Orang-orang memandang keluarga mereka sebagai keluarga yang sangat memperhatikan adab. Namun, apa artinya pendapat semua orang jika pada kenyataannya, kakaknya sendiri menyakiti orang terdekatnya.
Takut terjadi sesuatu pada Kiara, Gibran akhirnya memutuskan untuk membangunkan ibunya, dia mengetuk pintu kamar perlahan sehingga munculah sosok Ummi Amelia di depannya.
"Ada apa, Gib? Butuh sesuatu?"
Gibran menggelengkan kepalanya cepat. "Ada Kak Kiara Ummi. Istri Kak Abie barusan ke sini. Dia bilang mau nginep di sini."
__ADS_1
"Loh, kok mendadak. Malam-malam begini?"
"Hmmm. Sepertinya mereka bertengkar, Ummi. Tolong tanyakan keadaannya. Gibran takut Kak Kiara kenapa-napa."
Ummi Amelia memincingkan mata. "Hati-hati kamu, Nak. Jangan sampai terluka karena perbuatan kamu sendiri."
"Ummi apaan sih. Gibran udah bilang kalau Gibran itu perduli karena Kak Kiara adalah keluarga kita."
"Ummi cuma becanda," ucapnya sambil menepuk pundak Gibran. "Kembali ke kamar. Tidur dan jangan kelayapan."
Gibran mengacungkan kedua jempolnya, pria itu mengecup pipi ibunya lantas berlari untuk masuk ke kamarnya. Perempuan itu menggelengkan kepala. Dia melirik ke lantai atas, hatinya berdebar membayangkan pertengkaran Habibie dan Kiara yang pastinya karena Habibie pemulai semua itu.
Ummi Amelia mengetuk pintu kamar Habibie perlahan. Tidak mendapat sahutan, perempuan itu membuka pintunya karena dia pikir ini menang harus dilakukan. Ummi Amelia penasaran, kenapa dengan menantunya itu.
"Assalamualaikum," ucap Ummi Amelia.
"Wa'alaikumssalam," sahut Kiara. Perempuan yang sedang berbaring itu langsung beranjak untuk duduk. Ia menatap Ummi Amelia dengan tatapan menyesal.
"Ummi, kenapa Ummi ke sini? Bukannya Ummi udah tidur?"
"Ada apa, Nak? Apa Habibie menyakiti anak perempuan Ummi? Apa yang dia lakukan sampai membuat anak Ummi menangis?"
Mendengar hal tersebut. Kiara kembali tidak bisa menahan desakan air mata, perempuan itu langsung menghambur ke pelukan Ummi Amelia, mendekap perempuan itu dengan dekapan yang sangat erat.
"Ummi~~" Perempuan itu bersuara dengan sangat lirih.
Ummi Amelia mengusap punggung Kiara dengan usapan yang yang sangat lembut.
Ummi selalu bisa membuat Kiara merasa nyaman hanya karena sentuhan yang dia lakukan.
"Cerita sama Ummi, Nak. Katakan apa yang terjadi, hal tidak baik apa yang Habibie lakukan sampai kamu seperti ini, Ummi enggak akan memihak siapa pun. Jika anak ummi memang salah, ummi akan menegurnya."
Kiara awalnya tidak ingin menceritakan masalah ini kepada siapa pun. Akan tetapi, diberi hati seperti itu oleh Amelia, perempuan itu tergerak untuk menceritakan semuanya. Bahkan, hal yang sensitif pun dia ceritakan karena di sana lah inti cerita sesungguhnya.
"Jika Aisyah masih hidup, mungkin Kiara enggak bakal sekecewa ini, Ummi. Bagaimana bisa Kiara bersaing dengan orang yang sudah meninggal? Andai Mas Abie belum bisa mencintai Kiara, Kiara enggak papa. Kiara tahu kalau kita menikah tanpa cinta. Tapi coba Ummi bayangkan! Mas Abie bilang, Mas Abie ngelakuin itu untuk membahagiakan almarhumah. Mas Abie sangat menghargainya. Tapi Kiara enggak pernah dianggap manusia, Ummi. Kiara juga punya hati. Kiara capek. Kiara enggak sanggup kayak gini terus."
__ADS_1
Ummi Amelia ikut berkaca-kaca mendengar apa yang Kiara katakan. Dia tahu betul kalau mereka menikah karena perjodohan, dan dari apa yang Ummi pahami, Kiara sudah mulai menaruh hati untuk Habibie. Pria itu menghancurkan segalanya hanya dalam satu kalimat.
Ummi Amelia tidak mengatakan apa-apa. Setelah menunggu hampir 15 menit, Ummi memberikan Kiara air minum, beliau juga mengambilkan piyama baru untuk Kiara.
"Ganti pakaian nya dulu, abis itu Ummi temenin tidur."
Kiara mengangguk. Perempuan itu melakukan apa yang Ummi Amelia katakan. Dengan cepat dia kembali ke atas ranjang berbaring dalam dekapan Ummi Amelia.
"Ummi~~!"
"Iya, Sayang. Kenapa?"
"Ummi marah enggak sama Kiara?"
Ummi Amelia terkekeh kecil. "Untuk apa Ummi marah, ummi udah bilang kalau ummi enggak akan memihak siapa pun. Nanti, kalau kamu sudah lebih tenang, kita mengobrol lagi. Banyak hal yang ingin ummi katakan. Sekarang tidur dulu, biar besok enggak kesiangan bangunnya."
Perempuan itu menurut. Cukup lama dia mendengarkan Ummi Amelia melantunkan shalawat untuknya sampai dia benar-benar tertidur dengan nyenyak.
Brak!
"Astagfirullah!" Ummi Amelia mengusap dadanya perlahan. "Anak nakal!" kesalnya bergumam. "Bersih-bersih terus ke sini lagi, Abie!"
"Baik, Ummi!"
Habibie langsung berlari menuju kamar mandi setelah mengambil baju ganti. Pria itu cukup lega ketika umminya menelpon kalau Kiara ada di rumah, pria itu sudah mencari Kiara seperti mencari jarum ditumpukkan jerami, dan yang dicari-cari ternyata ada di sini.
"Ummi~~!"
"Temani istri kamu, Habibie. Besok tunggu Bapak negara mencecar mu! Jaga Kiara baik-baik!"
Habibie mengangguk pasrah. Pria itu meringsut masuk ke dalam selimut. Menarik Kiara dalam dekapannya sementara Ummi Amelia keluar dari kamar itu.
"Mas Abie. Kiara benci Mas Abie, Kiara kecewa sama Mas Abie ... hiksss, Mas Abie jahat sama Kia ...." Perempuan itu sampai mengigau dalam tidurnya. Dia tidak sadar kalau orang yang memeluknya bukan lagi Ummi Amelia melainkan suaminya sendiri.
"Maafkan saya, Kiara. Saya salah. Maafkan saya!"
__ADS_1