Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
49. Kebaikan Habibie


__ADS_3

Perempuan itu mengerucutkan bibir setelah Habibie mendudukkannya di atas ranjang. Rencana mereka untuk pergi ke restoran langganan Kiara hilang sudah karena pria di depannya malah mengajak Kiara menghabiskan waktu di kamar itu. Setelah mandi dan berwudhu, Habibie meminta Kiara untuk bersiap-siap shalat sementara dia akan pergi ke mesjid di komplek perumahan tersebut.


"Mas minta maaf. Kita makan siang di rumah, setelah itu pergi beli makanan untuk kucing. Nanti kita beli milk shake kesukaan kamu. Boleh 'kan?"


Kiara mendengus. Perempuan itu mendelik menatap suaminya tidak suka. Namun, saat mengingat jika milk shake strawberry kedukaannya sangat menggoda, perempuan itu luluh dan membiarkan Habibie untuk pergi ke mesjid. Pria itu tersenyum, mengecup kening Kiara sekilas lantas keluar dari kamar.


"Hahhhhh!"


******* napas Kiara menggema di ruangan itu. Ia menatap langit-langit kamar tanpa sebab. Perempuan itu menangkup wajahnya yang terasa sangat panas. Begitu panas sampai Kiara tidak bisa menahan itu dan memilih untuk mengguling-gulingkan tubuhnya.


"Ya Allah, kenapa aku seperti ini, dia suamiku tapi aku selalu malu saat mengingat semuanya."


Bagiamana bisa Kiara bersikap cuek dan acuh tak acuh padahal ketika mereka bersama, Kiara juga bertingkah sangat agresif. Tidak ada rasa malu, semuanya berjalan bak dialah yang memulai semuanya dari awal. Habibie sangat pandai menjadikannya peran utama dalam kisah yang terjalin antara suami dan istri.


***


Di tempat lain, Gibran tengah tersenyum setelah mengetahui bahwa Habibie dan Kiara kembali rujuk, pasangan yang hampir berpisah telah kembali bersama. Gibran harap mereka akan terus rukun seperti ini.


"Cinta tidak pernah salah, aku janji, aku akan mengubur perasaan ku dalam-dalam. Maafkan aku Kak Habibie."


Cinta dalam diamnya tidak akan pernah tersampaikan sampai kapan pun. Gibran masih akan terus mencintai perempuan itu sampai cinta itu mengakui kalau dia mengalah untuk berhenti mencintai perempuan yang sudah menjadi istri kakaknya.

__ADS_1


Istilah ipar adalah maut memang ada, bukan ada tapi memang itulah yang terjadi. Gibran sadar apa yang dia lakukan, oleh karena itu Gibran memilih untuk menyembunyikan perasaannya. Perasaan ini muncul tanpa sebab, Gibran tidak bisa mengontrol perasaannya sendiri. Saat pertama kali bertemu dengan Kiara, pria itu telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Bodoh bukan? Sudah tahu kalau itu adalah istri kakaknya, tapi Gibran tetap mencintai perempuan itu.


"Semoga kalian bahagia."


****


Kiara tersenyum sumringah. Habibie memenuhi janjinya kalau dia akan membawa Kiara untuk membeli makanan kucing. Tebak berapa banyak itu, tiga troli, sedang troli satunya penuh dengan camilan.


Troli yang didudukinya sudah hampir penuh. Habibie melihat snack itu terlalu banyak, alhasil, ketika Kiara mengambil snack lain, pria itu akan menaruh snack itu kembali ke rak yang seharusnya. Kejadian itu terus terulang sampai orang-orang menatap heran. Kiara masih tidak sadar jika barang-barang yang dia ambil tidak semuanya masuk tapi ditaruh kembali oleh sang suami.


"Sudah ... sekarang kita pulang, Mas!"


Perempuan itu meminta Habibie untuk menurunkannya. Membawa sang suami untuk segera pergi ke kasir. Namun, ketika melihat ke belakang, nyatanya ada yang aneh dalam troli tersebut.


Habibie menahan senyum. Pria itu melirik ke arah orang-orang yang tadi melihat kejadian itu. Mereka pun mengerti, tidak ada yang berani menyela atau sekedar menimpali pertanyaan Kiara.


"Mungkin cuma perasaan kamu aja," jawab Habibie.


"No. Kia yakin tadi Kiara ambil banyak, Mas. Ikh, Mas Abie pasti yang ngambil snack punya Kiara ya?"


Kiara berdiri menatap suaminya sambil berdecak pinggang. Perempuan itu memincing menatap sang suami menelisik.

__ADS_1


"Sudah, kita bayar yang ini dulu. Kasihan orang-orang sudah mengantri. Bukannya kita mau beli milk shake?"


Habibie berusaha mengalihkan perhatian. Pria itu tidak mau jika istrinya terlalu banyak mengonsumsi makanan yang tidak sehat. Stock buah-buahan dan juga makanan lain yang lebih baik masih banyak di rumah mereka, untuk apa Habibie membelikan sang istri makanan yang akan membuat istrinya itu sakit.


"Mas aja deh yang bayar. Kiara mau nunggu aja di mobil."


Pria itu mengembuskan napas kasar. Ia jelas tidak bisa melawan karena istri kecilnya juga telah melengos pergi lebih dulu. Belum lagi mood sang istri kembali hancur karena masalah snacks yang dia ambil kembali. Habibie buka pelit, dia melakukan itu juga untuk kebaikan Kiara sendiri.


Sesampainya di dalam mobil, Habibie sudah akan menyapa sang istri. Namun, ternyata istrinya itu malah tertidur di dalam. Mungkin karena terlalu lelah, pria itu diam dalam waktu cukup lama, hanya menatap Kiara dengan tatapan teduh. Tangan besarnya terulur, merapikan anak-anak rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya itu.


"Terima kasih karena sudah memberikan kesempatan kedua untuk saya Kira, saya janji, saya akan berusaha melakukan yang terbaik untuk membahagiakan mu."


Habibie mengecup kening sang istri, sekilas. Perempuan itu menggeliat merasakan sesuatu yang asing berada di atas permukaan kulitnya.


"Jangan ganggu Kiara. Kiara masih ingin tidur. " Perempuan itu bergumam dengan wajah kesal. Habibie tersenyum kecil, buru-buru ia memakaikan seat belt dan membawa sang istri ke tempat selanjutnya.


***


Di sisi lain, seorang wanita tengah tersenyum setelah mendapatkan kabar jika dia lolos seleksi juga bisa mulai bekerja besok hari, perempuan itu berjingkrak heboh. Dua bulan dia mencari pekerjaan ke mana-mana, dan baru kali ini dia benar-benar diterima kerja di perusahaan terbesar yang ada di kotanya.


"Alhamdulillah ... MasyAllah. Akhirnya bisa bekerja di perusahaan itu juga. Meskipun cuma jadi cleaning servis, alhamdulillah bisa bantu Ibu."

__ADS_1


Perempuan itu kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Humaira, nama itu adalah nama yang diberikan oleh almarhum Pak Darto untuk anaknya. Humaira merupakan gadis yang sangat baik dan juga penurut. Di usianya yang baru menginjak 19 tahun, Humaira sudah beberapa kali berganti pekerjaan untuk sekedar membantu perekonomian keluarga. Sebagai anak sulung di keluarga itu, Humaira tentu harus bertanggung jawab atas kelangsungan hidup ibu dan dua adiknya yang masih sekolah.


"Alhamdulillah ... masyAllah, semoga kali ini pekerjaannya cocok dengan saya."


__ADS_2