
Pria bertubuh atletis itu menatap Kiara dengan kening mengerut samar. Perempuan cantik yang ada di depannya kini juga tengah tersenyum. Wajah yang biasanya terlihat seperti anak kecil agak lumayan dewasa dengan tampilannya yang rapih. Tadi Habibie belum sempat memperhatikan dengan detail karena perempuan itu terlalu agresif.
"Ada apa?" tanya Habibie.
Kiara menggelengkan kepalanya. Perempuan itu memberikan sebuah dokumen lantas menunduk. "Minta tanda tangan Pak Habibie."
Kiara tidak tahu sejak kapan dia mengagumi wajah di depannya. Habibie, pria yang dia pikir sangat kaku, terkadang bisa juga dilenturkan. Kebiasaan baik Habibie, juga tanggung jawabnya membuat Kiara semakin hari semakin mencintai suaminya. Itu tidak dosa bukan. Sejak awal dia memang salah karena sudah menaruh hati lebih dulu. Mungkin akan ada orang yang berpikir kalau dia gampangan sebab sangat mudah mencintai orang. Namun, mencintai Habibie pun bukan atas keinginannya, perasaan itu muncul secara alami. Tidak dengan paksaan atau direncanakan.
"Sudah," jawab Habibie. Kiara mengangguk tapi masih belum bisa mengalihkan perhatian kepada sang suami.
"Mas!"
"Hmmm."
"Honey moon yuk!"
Kalimat langsung dari Kiara membuat Habibie seketika menghentikan aktivitasnya. Pria itu menatap Kiara dengan punggung yang ia sadarkan pada kursi kebesaran. Matanya menatap lekat netra sang istri. Salah satu tangannya mengetuk-ngetukan sebuah pulpen ke atas meja entah karena apa.
"When do you want your honeymoon?"
"Besok? Lusa?"
Habibie tersenyum. Pria itu menatap Kiara dengan binar di matanya. "Terserah kamu maunya kapan. Kamu yang bisa mengatur jadwal saya. Buatlah jadwal sesuai keinginan mu."
"Mas Abie enggak bohong kan?"
Kiara benar-benar masih tidak percaya kalau suaminya mengijinkan dan mengiyakan untuk berbulan madu bersama. Kiara tahu Habibie ini adalah orang paling sibuk yang pernah Kiara temui. Ya sama saja seperti ayahnya.
"Sini dulu!"
Perempuan itu langsung berlari kecil. Ia duduk di pangkuan Habibie tanpa disuruh. Tangan besar pria itu terulur, membelai wajah cantik istrnya dengan usapan-usapan halus.
"Abi Fawas minta cucu," bisik Habibie.
"Berapa?"
Pertanyaan konyol itu sukses membuat Habibie tertegun dengan kening mengkerut. Harusnya Kiara terkejut, atau dia menolak apa yang Abi Fawas minta. Namun, kok ini malah sebaliknya. Kiara justru seperti menantang, keinginan sang mertuanya itu.
"Abi Fawas mau berapa? Mas Abie bisa enggak bikin sekaligus 2 apa tiga gitu, kan lumayan."
Bukannya menjawab, Habibie malah dibuat tergelak dengan penuturan aneh istrinya. Memang menurut Kiara pembuatan anak itu seperti buat cilok. Enggak kayak gitu juga. Bagiamana mungkin Habibie tahu dia menumbuhkan berapa anak. Itu semua murni atas kehendak Allah, masalah isi satu atau isi dua, Habibie tidak memiliki kuasa.
__ADS_1
"Kau itu ... memangnya kalau kembar 3 sanggup? Bukannya perempuan itu takut tubuhnya jadi enggak bagus lagi?"
Kiara mengangguk. Perempuan itu merangkul leher Habibie, memeluk dan mengecup area itu meninggalkan bekas kepemilikan tanpa diketahui oleh sang empunya.
"Gimana nanti deh mau berapa. Kiara kerja dulu, biar bisa honeymoon bulan ini. Mas Abie semangat kerjanya."
Cup!
Satu kecupan perempuan itu daratan di pipi sang suami. Ketika keluar dari ruangan suaminya itu. Kiara lupa satu hal, dia harus menemui Gibran untuk berterima kasih.
"Turun dulu bentar deh."
Melirik ke arah pintu ruangan suaminya sekilas lantas berlari menuju ruangan adik iparnya. Perempuan itu memang memiliki banyak hutang kepada adik iparnya itu. Gibran sudah sangat baik, mau membantunya untuk mendekati Habibie meskipun terkadang itu juga tidak mudah untuknya.
Tok! Tok! Tok!"
"Masuk!" sahut orang dari dalam. Kiara baru akan membuka pintu, tapi dia malah berbalik saat mendengar langkah kaki seseorang.
"Awww!"
Perempuan itu memekik cukup kencang. Kiara mengibaskan tangannya yang tidak sengaja terkena tumpahan kopi. Belum lagi kopi itu mengenai sebagian kecil rok yang dia kenakan.
"Astagfirullah ... Bu, saya minta maaf. Saya enggak sengaja."
Kiara belum menjawab, perempuan itu masih merasakan panasnya punggung lengan yang terkena air kopi itu.
Gibran keluar dari dalam ruangannya. Netra pria itu langsung terbelalak begitu melihat keadaan Kiara yang tidak baik-baik saja.
"Kenapa, masuk dulu! Kalian ikut saya masuk."
Gibran membukakan pintu ruangannya. Ia meminta seseorang untuk membawakan kotak P3K karena dia pikir Kiara membutuhkan hal tersebut.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa bisa jadi kayak gini?"
Gibran duduk di samping Kiara sementara cleaning servis itu berdiri menunduk tidak berani untuk mengangkat kepalanya sebab terlalu takut.
"Kamu karyawan baru 'kan?"
Perempuan itu mengangguk. "Maafkan saya, Pak. Saya tidak sengaja. Saya minta maaf."
"Nama kamu siapa?"
"Humaira, Pak!"
__ADS_1
Gibran mengangguk - anggukan kepalanya. "Saya akan bicarakan ini dengan atasan kamu. Kamu itu kalau kerja yang bener dong. Masa tangan kakak saya bisa sampai seperti ini."
Gibran bersungut-sungut tapi dia tetap membantu mengoleskan salep dingin untuk mengurangi efek panas yang ditimbulkan.
"Gibran apaan sih. Lama-lama kamu jadi kayak Mas Abie. Yang salah itu aku, bukan Humaira. Kayaknya tadi dia mau kasih kamu kopi tapi aku yang tiba-tiba balik badan, alhasil kopinya tumpah ke aku. Jangan suka marahin orang sembarangan."
Gibran tidak menjawab, pria itu bungkam sementara Kiara menoleh ke arah Humaira. Perempuan di balik masker itu menitikan air mata, Kiara bisa melihatnya dengan sangat jelas.
"Jangan diambil hati. Humaira. Saya yang seharusnya minta maaf. Kembalilah bekerja, tidak akan ada orang yang mengganggu mu."
Humaira mengusap sudut matanya kasar perempuan itu membungkuk beberapa kali. Mengucapakan kata maaf dan terima kasih.
"Gibran!"
"Saya minta maaf," ucap pria itu kesal.
"Eishhhhhhh ... harusnya kamu liat wajahnya Gibran!"
"Enggak papa Bu. Saya yang salah. Terima kasih."
Humaira membungkuk lagi dan lagi, lantas keluar dari ruangan itu untuk membersihkan kekacauan yang sempat dia buat.
"Gibran."
"Kenapa? Jangan marah sama saya. Kamu enggak tahu gimana protektif nya Kak Habibie. Kalau dia tahu kamu kayak gini, orang itu pasti langsung dipecat. Kamu itu terlalu baik sama semua orang."
"Loh."
Kening perempuan itu mengerut. Untuk pertama kalinya, Kiara melihat sisi egois Gibran. Padahal, selama ini, Kiara selalu menganggap kalau Gibran kesabarannya lebih baik daripada sang suami.
"Gibran ak---!"
"Kiara!"
Belum sempat perempuan itu bersuara, Habibie sudah muncul. Gibran refleks mundur menjauh dari Kiara. Perempuan itu pun masih menatap Gibran tidak nyaman. Bukan karena apa, Kiara merasa bersalah karena menyalahkan Gibran, padahal niat pria itu pun baik.
"Kok bisa sampai kayak gini. Kita ke rumah sakit ya."
"Mas!" Kiara menahan tangan suaminya yang hendak menelusup dibalik punggung dan juga di belakang lututnya. "Aku baik-baik aja. Ada apa dengan kalian, kenapa kalian selalu berlebihan kayak gini."
Bukannya menjawab, Habibie malah menyambar jas milik Gibran untuk menutupi noda pada rok di dekat paha sang istri. Tidak mungkin dia melepaskan kemeja yang dia kenakan karena itu akan menimbulkan huru hara yang lebih besar.
"Kirim informasi orang itu ke saya, Gibran! Saya harus mengantar Kiara pulang lebih dulu."
__ADS_1
"Mas Abie!!!!!"
Kiara sudah ingin menolak tapi Habibie lebih dulu memangku tubuhnya dan membawa Kiara keluar dari sana.