
Kiyai Salim dan Risyam masih berusaha untuk membangunkan Habibie. Sudah 10 menit sejak dia diboyong ke rumah Kiyai tapi Habibie belum sadarkan diri juga. Sedang Kiara, perempuan itu terlihat acuh tak acuh, malah hilir mudik mengambil makanan kiriman dari orang baik yang selalu memberinya makanan tepat jadwal.
"Kia, ini suami kamu," kata Risyam kebingungan sebab Kiara malah terlihat enjoy-enjoy saja. Tidak ada ekspresi khawatir, perempuan itu mungkin berpikir kalau Habibie ini hanya ODGJ yang pingsan karena kelaparan.
"Aku enggak punya suami Kak. Jangan asal nuduh kamu."
Eishhhhhhh ... Gibran menggelengkan kepalanya heran. "Kalau kamu enggak punya suami, gimana ceritanya itu perut bisa ngembung kayak gitu?"
"Di pompa lah!" ketusnya kesal. Perempuan itu asal menjawab dan jawabannya benar-benar membuat Kiyai, Ummi, Risyam juga Ayesa geleng-geleng kepala.
"Ya kan yang mompa Mas Habibie," gumam Ayesha.
"Hush!" Ummi Rahma menyenggol lengan anaknya. "Kamu itu masih kecil, Echa."
Ayesha mengangkat bahunya acuh, matanya berputar begitu saja. Bosan rasanya karena harus selalu disebut anak kecil oleh keluarganya sendiri. Padahal di sudah besar, sudah 19 tahun.
"Kiara~~" gumam pria yang sedang di kelilingi orang-orang. "Kiara kamu di mana?"
Kiyai Salim dan Ummi Rahma saling menatap satu sama lain, mereka terlihat bingung karena Habibie ternyata begitu merindukan sosok Kiara. Entah apa yang terjadi diantara mereka berdua, saling mencintai tapi juga terus menyakiti satu sama lain.
"Habibie ~~!" panggil Kiyai Salim menepuk pundak pria itu. Ia mencoba membangunkan Habibie kembali membaui pria itu dengan minyak angin.
Kelopak mata itu terbuka perlahan setelah setitik air bening menetes dari sudut matanya. Netranya berpendar mencari sosok yang tadi dia lihat.
"Kiara!" Habibie langsung terduduk, menghampiri seorang perempuan yang sedang menyantap buah-buahan tanpa menolehkan kepalanya kemana pun.
__ADS_1
"Kiara!" Pria itu memanggil untuk kedua kalinya. Ia berlutut di samping kedua kaki sang istri tapi Kiara malah menghindar seraya mengerutkan kening.
"Kamu mau?" tanya Kiara menyodorkan buah jeruk pada Habibie. "Kamu pingsan karena semput ya, mobilnya bagus tapi kok enggak bisa makan."
Ia memberikan buah jeruk itu ke tangan Habibie. Pria itu menunduk, menatap buah yang Kiara berikan dengan air mata bercucuran. Entah kenapa, hatinya sakit tapi dia bahagia karena bisa menemukan perempuan ini. Tapi tunggu," Habibie mengerutkan kening menatap perut Kiara yang sudah sangat besar. "Sayang kamu hamil?" tanyanya seraya mengusap air mata.
Pria itu ingin menyentuh Kiara tapi lagi-lagi ditepisnya tangan itu. Orang-orang yang ada di sana hanya memperhatikan tanpa mau menyela, mereka ingin melihat apakah Kiara bisa menerima Habibie kembali atau tidak.
"Jangan manggil orang sembarangan. Memangnya kamu siapa, kenal sama aku?" Kiara masih sangat ketus.
"Kamu istri saya, kamu Kiara 'kan?"
Perempuan itu menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku istri kamu?" tanya Kiara dengan wajah melongo. Perempuan itu tiba-tiba tergelak sampai air matanya menetes. "Kamu itu lucu, apa kamu enggak liat kalau saya lagi hamil, itu suami saya!" tunjuk Kiara pada Risyam.
"Aku," ucap Risyam seraya menunjuk dirinya sendiri.
Habibie hanya diam, pria itu menunduk sangat dalam. Ini adalah istrinya, Habibie tahu kalau ini adalah Kiara. Kenapa dia mengatakan kalau dia memiliki suami lain. Sejak kapan perempuan itu mengandung, kenapa Habibie tidak tahu.
Balm!
Pintu kamar Kiara dibantingkan perempuan itu dengan kencang. Perempuan itu mengunci pintu, ambruk dengan air mata yang sudah tidak bisa dia bendung lagi. Bodoh, dia benar-benar sangat bodoh, hatinya sudah sangat sakit karena pria itu, kehidupannya berubah 180° setelah dia memutuskan untuk pergi. Namun, kenapa Habibie terlihat sangat kacau seolah dia memang merasa bersalah dan kehilangan atas dirinya.
"Aku benci perasaan ini, aku benci diriku sendiri." Kiara memukul dada sebelah kirinya berkali-kali. Perempatan itu mengigit salah satu tangannya saking takutnya dia kalau suara isakkannya akan terdengar orang-orang di luar.
"Harusnya kau baik-baik saja. Kenapa kau malah terlihat sangat kacau Habibie."
__ADS_1
Kiara terisak dalam diam. Perempuan itu tidak tahu harus melakukan apa, bagaimana dia akan menghadapi kenyataan ini sekarang, Kiara benar-benar tidak tahu. Ada rasa rindu, tapi ketakutannya terlalu besar. Ia sudah terlanjur nyaman dengan kesendiriannya, jika sampai dia kembali dan Habibie menyakitinya untuk kesekian kali, Kiara pasti akan hancur dan tidak akan bisa bangkit lagi.
Di luar ruangan. Kiyai Salim menepuk pundak Habibie cukup kuat. Ia meminta Habibie untuk duduk di kursi sebab Habibie terlihat sangat menyedihkan. Pria itu tidak malu menunjukkan berapa hancurnya dia saat ini.
"Itu memang Kiara, Nak. Dia sedang mengandung anak kalian."
"Kiyai~~!" Habibie menatap pria yang sudah tidak muda lagi itu lekat, tangan dan kakinya gemetaran mendengar fakta membahagiakan sekaligus menyakitkan seperti itu. Habibie benar-benar sudah berdosa karena membuat perempuan yang sedang hamil pergi meninggalkannya. 7 Bulan hidup tanpa seseorang di sampingnya dalam keadaan seperti itu pasti membuatnya sangat kesulitan.
"Ya Allah .... Astagfirullah ... apa yang telah saya lakukan, Kiyai. Kenapa saya membuat istri dan anak saya menderita seperti ini. Hukum saya Kiyai, hukum saya sekarang juga!"
Habibie berlutut di depan Kiyai Salim, pria itu menangis sampai tubuhnya bergetar hebat, kepalanya tertunduk dalam, hatinya sakit, napasnya seperti tersendat membayangkan kemalangan yang dilalui Kiara karena laki-laki sepertinya.
"Kiyai tolong saya. Saya benar-benar minta maaf. Bagaimana caranya agar saya bisa meminta ampun kepada istri saya."
Kiyai Salim menepuk pundak Habibie berkali-kali, menarik napas panjang lantas mengembuskannya perlahan. Ia juga tidak mengerti harus bagaimana agar Kiara mau memaafkannya. Perempuan itu terlalu banyak menerima luka, jangankan Habibie, Amzar saja yang berstatus sebagai ayahnya belum berani untuk menemui Kiara karena takut perempuan itu tidak mau memaafkannya.
"Saya tidak bisa membantu apa-apa Habibie. Kiara terlalu banyak menerima luka darimu, tapi bukan berarti tidak ada kesempatan."
"Tolong saya, Kiyai. Saya janji, saya tidak akan pernah menyakitinya lagi. Saya akan melakukan apa pun untuk meminta maaf padanya. Saya akan berusaha untuk membahagiakannya."
Ummi Rahma tersenyum miring mendengar hal tersebut. Ia ingin menghampiri Habibie akan tetapi dihalangi oleh Risyam. "Biar Risyam aja yang ngomong," kata pria itu menghampiri Habibie.
"Kami ingin menanyakan satu hal padamu, Bang."
Habibie langsung mengusap air matanya, ia mendongak menatap Risyam menunggu kalimat yang akan Risyam tanyakan padanya.
__ADS_1
"Apa Bang Habibie masih mencintai almarhumah istri Abang tapi tidak dengan Kiara?"