Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
77. Kiara Takut Mas


__ADS_3

Habibie mengusap lembut puncak kepala sang istri penuh kasih sayang. Sedang mulut dan hatinya tidak pernah berhenti untuk berdzikir dan memohon ampun atas segala dosa-dosa mereka. Habibie tahu, apa yang terjadi padanya saat ini adalah karena perbuatan mereka di masa lalu. Jika memang istrnya sedang menanggung kiparat dosa karena tidak menutup aurat sebelumnya, Habibie benar-benar berharap biar dia saja yang menerimanya, ini salahnya karena sikapnya salah, ini salahnya karena dia tidak mampu membuat istrinya percaya padanya.


"Mas Abie~~!" Perempuan dengan mata terpejam itu bergumam pelan. Sangat pelan dan hampir tidak terdengar.


Pria itu tersenyum samar, kembali mengusap kepala istrinya dengan cinta yang dia miliki.


"Mas ini jam berapa? Bukannya Kiara mau operasi sesar?" tanya perempuan itu setelah membuka matanya perlahan, kepalanya menoleh menatap suaminya dalam.


"Ini masih dini hari Sayang, belum waktunya. Tidur lagi, Yuk! Mau mas pijitin enggak? Atau mau mas usap-usap pinggangnya?" Habibie berdiri, ia sudah berniat untuk membantu Kiara merubah posisi tapi Kiara menahan tangan pria itu.


"Kenapa, Sayang?" tanga Habibie tersenyum menenangkan.


"Mas Kiara boleh ngomong sesuatu enggak sama Mas Abie?"


Pria itu mengangguk. Ia meraih tangan sang istri yang terbebas dari selang infus lantas menggenggamnya dengan kedua tangan.


"Mas akan menjadi pendengar yang baik."


Senyum samar tersungging di bibir perempuan itu. "Kiara minta maaf kalau selama ini, Kiara udah banyak dosa sama Mas Abie, Kia enggak nurut, Kia udah bikin Mas Abie jauh dari calon bayi kita, Kiara salah karena pergi terlalu lama ... Mas Abie mau kan maafin Kiara?"


Mata Habibie kembali berkaca-kaca. Jelas ini bukan salah istrnya, tidak sekalipun Habibie pernah menyalahkan Kiara atau tidak senang karena istrnya pergi sebab dialah penyebab istrinya meninggalkannya.


"Enggak minta maaf pun, mas udah maafin kamu, Sayang. Mas yang salah, kamu enggak harus minta maaf." Tangan pria itu terulur, mengusap lembut wajah istri cantiknya, membuat Kiara menggelengkan kepala dengan derai air mata.

__ADS_1


"Kiara takut, Mas," lirih perempuan itu. "Kiara takut kalau Kiara nunda minta maaf sama Mas, Kiara enggak akan punya kesempatan lain. Kiara takut Allah panggil Kiara sebelum Mas rhido sama Kiara." Perempuan itu mulai terisak dengan bahu bergetar hebat.


"Astagfirullah, Sayang. Kenapa ngomongnya kayak gitu? Sayang pasti baik-baik aja, percaya sama Allah, kalau semuanya akan dimudahkan. Istrinya mas kuat, sayangnya mas kuat, begitupun dengan calon bayi kita. IsnyaAllah, besok malaikat kecil kita akan lahir ke dunia, dia akan memelukmu dan tersenyum melihat kecantikan ibunya."


Mendengar hal tersebut Kiara tersenyum meskipun air mata dan bahunya masih seperti tadi, malah lebih parah lagi, bayangan-bayangan dimana dia sedang menggendong anaknya, bermain bersama malaikat kecilnya dan juga suaminya muncul bagai movie yang sengaja di putar di depan mata.


"Mas Abie-- panggil Kiara lagi. Mas Kiara mau dipeluk, Mas mau enggak bobo di sini?" tanya Kiara melirik bantal di sebelah kirinya.


Habibie mengangguk, pria itu mengusap air mata pada wajah sang istri, membantu istrinya untuk tidur menyamping dalam dekapannya.


"Hangat," ucap Kiara. Untuk pertama kalinya, dia kembali merasakan hangat dekapan sang suami setelah berpisah lebih dari tujuh bulan. Perempuan itu tersenyum, ia benar-benar menyesal karena saat Habibie meminta maaf, dia tidak langsung memafkannya. Sekarang, masih tidak jelas apakah ini adalah dekapan terakhir atau bukan.


"Mas~~!"


"Mas Kiara boleh minta sesuatu enggak?" tanya perempuan itu dengan mata terpejam.


"Katakan, Sayang ~! Apa pun yang sayangnya mas minta, Insyaallah akan mas berikan."


Kembali senyum itu tersungging di bibir Kiara, perempuan itu menarik napas dalam sebelum mengucapakan apa yang ingin dia sampaikan.


"Mas, seandainya nanti, Allah bilang Kiara harus pulang ke sisi-Nya, Kiara mau, Mas namai anak kita dengan nama istri pertama Mas Abie."


Kening pria itu mengkerut dalam, Habibie ingin melepaskan pelukannya tapi dengan cepat Kiara tahan. "Mas enggak mau. Kenapa mas harus melakukan itu? Lagipula kamu akan baik-baik aja. Kita akan membesarkan anak kita bersama. Mas enggak mau--!"

__ADS_1


"Tapi Kiara mau, Kiara enggak mau anak kita bernasib seperti Kiara. Kiara mau Mas mencintai anak kita sama seperti Mas mencintai istri pertamanya Mas Abie. Anak kita pantas mendapatkan cinta dari ayahnya."


Bungkam ... Habibie tidak bisa berkata-kata lagi. Jujur, saat ini hatinya benar-benar sangat terluka, Habibie menahan desakan air mata yang meminta untuk dikeluarkan. Ini terlalu menyesakkan. Habibie tidak bisa bernapas dengan baik, hatinya sakit mendengar istrinya mengatakan itu semua. Sejahat itu dia, seburuk itu dia sampai membuat istrinya merasakan trauma sebesar ini.


"Maafkan mas, Sayang. Mas benar-benar minta maaf. Mas salah, mas enggak seharusnya menyakitimu sampai seperti ini, Mas minta maaf, Sayang." Habibie menitikan air mata, mengecup puncak kepala sang istri berkali-kali.


Kiara hanya tersenyum, ia kembali terlelap, mencoba untuk mencari alam mimpi dimana semua yang dia inginkan ada di sana.


** ** **


Sekitar pukul 7 pagi, Habibie hanya menatap sang istri setelah tangan istrinya terlepas dari genggaman karena para perawat sudah mendorong brangkar itu masuk ke ruang operasi.


Kembali kepala pria itu tertunduk dalam, kelopak matanya terpejam, ia berdoa lagi dan lagi berharap kalau apa pun yang terjadi, istri dan anaknya akan keluar dari ruangan itu dengan keadaan baik-baik saja.


"Habibie!" panggil seseorang.


Pria itu menoleh menatap ke arah sumber suara. Ia tersenyum, berlari menghampiri perempuan yang tengah merentangkan tangannya.


"Ummi~~!" Habibie menghambur memeluk ibunya, pria yang sejak tadi menahan tangis tidak bisa lagi membendung air mata dan suara tangisan yang tadinya tidak terdengar kini malah membuat lorong itu begitu pilu, orang-orang yang menyertai mereka ikut menitikkan air mata, bahkan Gibran, pria itu ikut menangis meskipun dalam diam.


"Ummi istri Habibie, Ummi. Kiara Ummi, Kiara ketakutan, tolong istri Habibie Ummi, tolong Kiara!"


Ummi Amelia menepuk punggung anak pertamanya, berusaha untuk menenangkan berharap kalau Habibie tidak menangis lagi.

__ADS_1


"Ummi tahu, Nak. Kita semua ada di sini, kita akan mendoakan Kiara bersama-sama. Yang tenang, Nak. Kiara akan baik-baik saja."


__ADS_2