
Perempuan di depan Habibie menolehkan kepalanya ke kanan ke kiri, ke belakang juga ia tengok sebab Habibie baru saja menyebutkan nama perempuan lain. Humaira pikir ada orang selain dia di sana, tapi ternyata tidak ada.
"Maaf, Pak. Saya Humaira, bukan Aisyah."
Habibie tersentak. Pria itu menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia berharap tadi hanya halusinasi, tapi perempuan itu tetap sama, dia begitu mirip dengan almarhumah istrinya, Aisyah.
"Maaf, sepertinya saya keliru," ucap Habibie. Pria itu mempersilakan Humaira untuk duduk di depannya. Awalnya Humaira menolak, ia merasa tidak pantas berada terlalu dekat dengan Boss besar di sana. Namun, ketika Habibie meminta untuk kedua kalinya, Humaira tidak bisa menolak lagi.
"Jadi apa yang ingin kamu sampaikan?"
Kalimat yang keluar dari mulut Habibie tidak sinkron dengan niat awalnya. Harusnya Habibie memarahi Humaira seperti janji yang dia ucapkan sebelum ini. Boro-boro dimarahi, pria itu malah menatap Humaira tanpa pernah berpaling sekali pun. Habibie seperti melihat sosok perempuan yang sudah lama ia rindukan.
Tidak banyak yang berbeda dari perempuan di depannya. Satu hal yang tidak dimiliki Humaira hanyalah tahi lalat di dagu, sebab almarhumah Aisyah dulu memiliki itu di dagunya.
"Saya minta maaf, saya salah, Pak. Tolong jangan pecat saya, saya janji saya tidak akan mengulangi kesalahan saya lagi. Ibu dan adik-adik saya membutuhkan saya. Saya mohon jangan pecat saya."
Tidak ada jawaban, Habibie bungkam, di sisi lain ada Kiara, ia bahkan sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan memberikan pelajaran kepada orang yang sudah membuatnya terluka. Namun, mendengar permohonan Humaira dan juga keluhannya tentang keluarganya, Habibie menjadi segan dan tidak enak hati.
"Baiklah, kamu masih boleh bekerja di sini, tapi ingat satu hal, Humaira. Jangan sampai kamu melakukan kesalahan yang sama."
"MasyaAllah, Alhamdulillah ... terima kasih, Pak. Saya janji saya tidak akan mengulangi kesalahan saya lagi. Saya benar-benar minta maaf, Pak. Maafkan saya."
Habibie tersenyum, pria itu lagi-lagi menatap Humaira tanpa berkedip, entah kenapa dia merasa jika Humaira ini terlalu mirip dengan Aisyah. Senyum perempuan itu, bahkan gesture tubuhnya. Humaira tidaklah lebih cantik dari Kiara, tapi perempuan ini memiliki hal lain yang Habibie sendiri tidak tahu itu apa.
Tanpa mereka sadari, seseorang di luar ruangan itu mengepalkan kedua tangan. Gibran meremas CV milik Humaira masih dengan punggung menempel pada salah satu pintu. Gemelatuk dari gusi pria itu terdengar. Gibran telat, dia telat satu langkah dari Ali, jika saja tadi dia langsung memecat Humaira, perempuan itu pasti tidak akan bertemu dengan Habibie.
__ADS_1
"Brengsek kamu, Kak. Kamu sudah janji akan membahagiakan Kak Kiara, kenapa malah jadi kayak gini."
Gibran melemparkan CV milik Humaira ke dalam tong sampah, ia harus mencari cara untuk menjauhkan Habibie dari Humaira agar pria bajingan itu tidak lagi bisa membuat Kiara menangis.
** **
Malam harinya, sosok perempuan yang dikhawatirkan Gibran tengah bersujud dengan sujud yang sangat lama. Perempuan itu seperti tidak akan kembali bangun, akan tetapi setelah beberapa menit, Kiara menyelesaikan shalatnya. Tangan perempuan itu menengadah ke atas. Kiara memohon ampun, merendahkan diri serendah-rendahnya.
Dalam do'a-do'a nya, Kiara tidak pernah meminta untuk dirinya sendiri, ia selalu mengutamakan suami dan juga orang-orang yang dia sayangi. Kiara sadar, dalam kesehariannya mulut dan perilaku perempuan itu masih belum baik, bisa jadi dia suka menyakiti suami dan saudaranya tanpa dia sadari.
"Ya Allah, aku menjaga suamiku ketika beliau ada dalam pandanganku. Namun, ketika suamiku tidak dalam jangkauan, aku kebalikan dia padamu, jaga suami hamba jangan sampai beliau mengalami hal buruk, jauhkan suamiku dari segala marabahaya juga lancarkanlah segala urusannya. Aamiin ya Allah."
Selesai dengan shalatnya, Kiara melihat jam di atas nakas sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sajak tadi ia menunggu kepulangan suaminya, Habibie tidak kunjung datang, pria itu kembali mengingkari janji.
** **
Hari sudah hampir pagi, pintu kamar itu terbuka dengan sangat pelan. Sosok pria tampan dengan tampilan kusut masuk perlahan. Habibie mengedarkan pandangan, pria itu langsung tersenyum ketika melihat sang istri tengah terlelap di sofa dekat jendela. Habibie melepaskan dasi yang melingkari lehernya, pria itu menutup kembali gorden lantas memangku sang istri, memindahkan istri cantiknya itu ke atas tempat tidur.
"Mas Abie ...."
Perempuan itu menggeliat, Habibi yang bermaksud hanya ingin memindahkan Kiara saja, ikut masuk ke dalam selimut.
Perempuan itu menggeliat pelan. "Mas Abie baru pulang? Ini jam berapa, Mas?" Suara parau Kiara terdengar sangat merdu di telinga Habibie.
"Jam tiga, Sayang. Tidurlah lagi."
__ADS_1
"Eummm ... Kiara suka wangi Mas Abie."
Tangan Kiara menelusup ke pinggang suaminya, menyembunyikan wajahnya di dada sang suami. Aroma ini memang selalu menjadi candu untuk Kiara, wangi ini terlalu khas, bahkan bau parfumnya saja tidak menyengat, lembut menenangkan.
"Mas Abieee~~~!"
"Hmmm."
"Kiara sayang sama Mas Abie. Sayanggggg banget, Mas Abi juga sayang kan sama Kiara?"
Pria itu tertegun. Lidahnya mendadak kelu, Habibie mengumpat dalam hati pada dirinya sendiri setelah mendengar kalimat itu dari mulut istrinya. Kiara telah berusaha untuk menjadi lebih baik, bahkan Habibie sering mendengar kata cinta dan sayang. Namun, apa yang telah dia lakukan. Habibie masih mengharapkan Aisyah, perempuan yang belum sempat ia bahagiakan selalu datang seolah meminta pertanggungjawaban. Entah apa yang Tuhan rencanakan, Habibie tidak tahu kenapa sosok lain yang mirip dengan Aisyah muncul secara tiba-tiba.
"Maafkan aku, Kiara. Maafkan aku." Suara Habibie terdengar sangat lirih, ia memeluk Kiara semakin erat, mengecup kening perempuan itu dengan rasa bersalah teramat dalam. Sadar atau tidak, setitik air mata jatuh dari sudut mata pria itu, dia berengsek bukan? Tapi apa yang bisa dia perbuat?
Segala cara sudah Habibie lakukan, ia telah mencoba untuk mengikhlaskan istri pertamanya, tapi kenapa ... kenapa saat semuanya berjalan sesuai dengan keinginan, baru sampai di pertengahan jalan, ujian baru muncul tanpa bisa mereka prediksi.
"Jaga aku dari perasaan tidak pantas itu, ya Allah. Aku hanya ingin mencintai istriku, jangan buat masa lalu meluruhkan rumah tangga kami. Aku menyayangi istriku."
Hmmm ... bohong jika Habibie tidak terganggu dengan sosok Humaira, wanita yang mirip dengan istri pertamanya itu membuat pikiran Habibie kacau. Ia sampai tidak bisa pulang tepat waktu hanya karena merasa bersalah kepada wanita yang ada dalam dekapannya.
"Aku juga menyayangimu, Kiara. Aku mohon, apa pun yang terjadi, jangan pernah pergi dariku. Maafkan aku."
....
Putus asa karena tekanan yang timbul dari perasaan kita sendiri adalah hal yang sangat menyakitkan, kita ingin masalah itu lepas, menghilang untuk selamanya. Namun, disaat yang sama, perasaan dan pikiran bodoh itu malah terus datang menggerogoti keyakinan kita pada diri kita sendiri, marah pada orang lain mungkin tidak akan terlalu berat, tapi marah pada diri sendiri? Sampai kapan kita bisa bertahan? Kapan kamu akan memaafkan semua kesalahan yang sudah kamu lakukan? Akankah tekanan itu hilang? Katakanlah! Bagaimana cara untuk menyembuhkan luka itu?
__ADS_1