Istri Tengil Tuan Presdir

Istri Tengil Tuan Presdir
52. Bertemu Humaira


__ADS_3

Kiara menatap suaminya dengan tatapan memincing tajam. Kesal dan ingin rasanya menyumpah serapahi suaminya itu. Kiara bosan jika harus tinggal di rumah, bukankah lebih menyenangkan jika berada satu kantor dengan sang suami? Lagipula dia tidak kenapa-napa. Tangannya memang panas karena terkena kopi yang tidak sengaja ia senggol, tapi itu bukan masalah karena Kiara bisa menahannya.


"Mas Abie, Kiara enggak papa ikh. Kenapa harus pulang?" Perempuan itu merengek masih duduk bersila di atas ranjang king size milik mereka.


"Tangan kamu enggak papa kata kamu. Nanti makin panas itu. Sekarang ganti baju dulu." Habibie menyodorkan dress santai yang dia ambil dari dalam lemari.


"Balik badan dulu!" pinta Kiara.


"Kenapa? Saya sudah tahu semuanya. Apalagi yang mau disembunyikan?"


"Mas Abieeeee~~!" Kiara mengerucutkan bibirnya kesal karena suaminya malah menggodanya seperti itu.


Pria itu terkekeh, ia berbalik meskipun sebenarnya tidak melakukannya pun tidak apa-apa. Namun, karena istrinya meminta, tentu Habibie tidak boleh menolak. Satu kali Kiara merajuk, Habibie harus mencari berbagai cara untuk membujuknya. Sudah menjadi hal tidak menyenangkan kalau Kiara mendiamkannya tanpa sepatah kata.


"Udah," ucap Kiara masih dengan nada kesalnya.


Senyum simpul tersungging di bibir Habibie. Pria itu ikut duduk di depan istrinya, meraih tangan sang istri lantas meniup tangan itu cukup lama.


Debaran jantung Kiara semakin tidak terkendali saja. Perempuan itu enggan untuk mengalihkan pandangan dari suami tampannya. Habibie terlalu sayang untuk diabaikan.


Hari ini Kiara mungkin kesal, tapi itu tidak akan lama. Kiara akan sembuh dalam beberapa jam. Dia sadar akan mood miliknya yang gampang sekali berubah-ubah. Bersuamikan Habibie merupakan tantangan terbesar dalam hidupnya, dimana saat ini Kiara harus lebih bisa menempatkan sesuatu bukan karena ego tapi untuk kebaikan di masa depan.


Jika saat ini dia keras kepala, jangan salahkan dia, mana ada seorang sekretaris bekerja kurang dari 2 jam di kantor. Ini adalah sesuatu hal yang salah.


"Kalau butuh apa-apa jangan melakukannya sendiri. Panggil Bi Arum, terus enggak usah masak. Nanti saya belikan ayam kesukaan kamu. Kerja dari rumah aja ya!"


Habibie mengusap puncak kepala istrinya. Ia berusaha membujuk karena tidak ingin membuat Kiara lebih kesal lagi. "Mas ke kantor dulu, nanti pulang agak malam."


"Mas Abieee!"

__ADS_1


Kiara malah memeluk Habibie, perempuan itu enggan untuk melepaskan suaminya. Kiara benar-benar tidak ingin ditinggal, entah kenapa ada sesuatu hal yang mengganjal di hatinya, Kiara seperti gelisah tapi dia tidak tahu itu karena apa.


"Mas enggak usah ke kantor lagi gimana? Kiara kok tiba-tiba ngerasa enggak enak ya? Mas 'kan enggak ada jadwal yang begitu mendesak."


Habibie diam. Pria itu melepaskan dekapan Kiara kemudian menatap wajah perempuan di depannya. Satu hal yang Habibie tahu, Kiara tidak berbohong, memang ada raut wajah khawatir, bukan lagi merajuk seperti tadi.


"Mas enggak lama, Sayang. Cuma sebentar kok. Nanti Mas pulang kalau semuanya udah selesai."


"Tapi, Mas---"


"Katanya mau bulan madu, gimana kalau bikin rencananya sekarang. Mas juga harus menyelesaikan beberapa pekerjaan supaya kita bisa pergi lebih cepet."


Belaian tangan pria pada wajah Kiara membuat perempuan itu memejamkan mata. Kiara tersenyum meskipun ia masih saja merasa ada yang mengganjal dalam hatinya.


"Ya sudah, Mas Abie janji enggak lama ya. Kiara tunggu, Mas!"


Selepas kepergian Habibie, Kiara mengembuskan napas kasar. Perempuan itu berusaha untuk menepis pemikiran aneh dalam kepalanya. Habibie adalah pria yang sangat menjaga komitmen, tidak mungkin ia melakukan hal yang jelas - jelas tidak boleh dilakukan.


"Eummm. Wudhu dulu deh. Siapa tahu bisa lebih tenang."


Perempuan itu beranjak dari duduknya. Kiara mengetahui hal ini dari sang suami, menggantungkan diri hanya kepada sang pencipta, sehingga, saat takut, marah, gelisah, atau memiliki pemikiran buruk, Kiara disarankan untuk mengambil air wudhu dan jika memang bisa Kiara juga disarankan untuk shalat sunnah meminta pertolongan dari Allah. Hebatnya, itu selalu memberikan efek yang baik untuk Kiara. Perempuan itu bisa merasakan ketenangan saat ia benar-benar memasrahkan segalanya kepada Tuhan.


***


"Maksudnya dia karyawan baru?" tanya Habibie pada orang di sebrang telepon. "Ya sudah, kirim biodata orang itu ke ruangan saya. Sebentar lagi saya sampai di kantor. Hmmm, wa'alaikumssalam."


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Habibie. Pria itu menatap layar ponselnya untuk beberapa saat. Foto sang istri terpajang menjadi wallpaper di ponselnya dan yang melakukan itu tentu adalah istrinya sendiri.


"Semoga aku bisa menjaga dan memenuhi janjiku, Kiara."

__ADS_1


Sekitar 30 menit berlalu, Habibie telah sampai di depan perusahaan. Masuk ke lobby dengan langkah pasti. Pria itu mengangguk kepada beberapa orang yang menyapa memberikan hormat.


Pria itu masuk ke dalam lift. Ia menatap ke luar sesaat setelah memencet tombol ke lantai mana dia harus pergi.


Namun, saat pintu lift itu akan tertutup, Habibie tiba-tiba melihat bayangan seseorang. Refleks tangan pria itu langsung menahan pintu lift. Ia berjalan keluar, menoleh kanan kiri mencari orang yang baru saja mencuri perhatiannya. Pria itu mencoba untuk mencari ke lorong di kedua sisi. Namun, hasilnya nihil, Habibie tidak menemukan apa pun.


"Mungkin saya salah lihat," gumam Habibie. ******* itu kembali keluar dari mulutnya. Habibie masuk ke dalam lift yang akan mengantarkannya ke lantai tempat dimana ruangannya berada.


Sesekali dia tetap menoleh ke sana ke mari. Habibie masih mencari sosok itu, kenapa Habibie masih berharap jika yang tadi itu bukan halusinasi.


Tidak ingin terlalu kacau, pria itu memilih untuk menyibukkan diri dengan bertumpuk pekerjaan. Ia lupa kalau tadi ia sempat meminta Gibran untuk mengirimkan biodata karyawan yang sudah membuat istrinya terluka.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk," sahut Habibie.


Orang itu pun masuk, ia menunduk dengan lutut dan tangan gemetaran.


"Assalamu'alaikum, Pak. Saya Humaira, Pak Gibran menyuruh saya untuk datang ke ruangan Bapak."


Tak!


Kalimat yang perempuan itu ucapkan membuat Habibie menghentikan goresan pensilnya pada lembar kertas itu. Wajahnya yang semula biasa saja berubah dingin dan menakutkan. "Wa'alaikumssalam." Habibie menjawab tanpa mengangkat wajahnya.


"Jadi kamu adalah---"


Kalimat Habibie menggantung saat ia mendongak dan sepasang netranya melihat sosok perempuan di depan. Habibie dibuat mematung, degup jantungnya seperti berhenti saat itu juga, bahkan aliran darahnya bak membeku, napasnya berat seolah-olah ketika itu ada batu besar yang menghantam dadanya.


"Aisyah," gumam Habibie dengan susah payah.

__ADS_1


__ADS_2