
Pagi itu, Nada berjalan masuk ke dalam kampus sambil membawa paper bag yang berisi jaket Aksara. Memang sengaja tidak dia cuci terlebih dahulu, dia kan cuma memakainya hanya satu jam. Meski semalam sempat dia ciumi beberapa kali. Aneh ya? Katanya tidak cinta tapi bisa sesuka itu dengan jaketnya.
Aksara saat itu sedang duduk bersama Radit di depan kelas. Nada segera menghampirinya. "Jaket lo." Nada menyodorkan paper bag itu pada Aksara. "Makasih."
Aksara mendongakkan dirinya menatap Nada.
"Jaket? Eh, kalian?" Radit menjadi curiga dengan hubungan Nada dan Aksara.
Aksara meraih paper bag itu sambil tersenyum.
"Sorry, gak gue cuci dulu." kata Nada jujur.
"Gak papa. Biar bekas wangi tubuh lo masih melekat di jaket gue."
"Ehem." Seketika Radit berdehem kemudian dia berdiri. "Lo duduk sini aja, biar gue masuk ke kelas dulu. Aksa, lo hutang satu cerita sama gue."
"Cerita apa?"
Radit memberi kode pada Aksara lalu dia berlenggang masuk ke dalam kelas.
"Gak jelas banget."
Nada tak juga duduk di sebelah Aksara. Dia akan melangkahkan kakinya tapi tangannya di tahan oleh Aksara.
"Na, duduk sini. Ada yang mau gue omongin sama lo."
"Apa?" tanya Nada sambil duduk di samping Aksara.
"Seminggu lagi ada kompetisi piano. Lo ikut ya? Nanti yang terpilih akan mewakili kota kita di kompetisi antar provinsi."
Nada hanya memutar bola matanya. Dia sudah mengikuti sederetan kompetisi itu dan menjadi pemenang, buat apa dia mengikutinya lagi dan namanya sudah jelas terdaftar sebagai pemenang kompetisi tahun lalu tidak mungkin bisa lolos lagi.
"Gue gak mau."
"Kenapa?"
"Ya, biar lo aja yang ikut. Kan itu cita-cita lo. Nanti kalau gue ikut terus gue menang ntar lo malah nangis lagi."
"Eh, percaya diri lo terlalu tinggi. Lo mau ngalahin gue? Mana mungkin?"
"Terus kalau udah yakin menang, kenapa lo ajak gue? Cuma mau malu-maluin gue aja, gitu?"
Lagi-lagi mereka mulai berdebat. Harusnya bisa dibicarakan secara baik-baik tidak perlu memakai otot dan tenaga untuk mengeraskan suara.
"Biar gue ada temannya," jawab Aksara dengan suara yang mulai melembut.
Nada terdiam beberapa saat. "Gue akan temani lo. Tapi gue gak ikut kompetisinya."
__ADS_1
Aksara kini menatap gadis yang ada di sampingnya itu. "Apa alasan lo gak mau ikut kompetisi ini?"
"Ya, gue memang gak ada minat aja."
Aksara terdiam. Ya, mungkin pemikiran dia dan Nada memang beda server.
"Kapan kompetisinya?" tanya Nada.
"Satu minggu lagi."
"Ya udah, lo latihan aja mulai sekarang. Gue bantu dan gue temani. Gue yakin lo bisa!" Nada tersenyum memberi Aksara semangat. Baru kali ini Nada menghantar sinyal positif pada Aksara.
Wajah yang sempat cemberut itu pun ikut tersenyum. "Gue merasa diberi suplemen semangat sama lo." Tangan Aksara kini membuka paper bag yang berisi jaketnya itu lalu menciumnya dalam. Wangi parfumnya sudah bercampur dengan wangi parfum Nada.
Nada mengernyitkan dahinya melihat tingkah konyol Aksara. "Ngapain lo?"
"Karena gak bisa cium orangnya, jadi cium aroma tubuhnya aja yang tertinggal di jaket gue."
"Ih, udah geser ya otak lo."
"Sejak ketemu sama lo otak gue emang sering geser."
"Hih!!" Nada berdiri dan meninggalkan Aksara.
"Na," Aksara kembali memasukkan jaketnya lalu menyusul langkah Nada. "Nanti selesai kuliah temani gue latihan ya, sama cari lagu yang cocok buat ikut lomba."
"Iya.."
Hari yang dinanti pun tiba. Dada Aksara sangat berdebar menunggu gilirannya bermain.
"Aksa, semangat ya. Gue yakin lo bisa!" Nada menggenggam tangan Aksara yang terasa dingin itu. Memberi kehangatan sampai ke relung hatinya. Semangat yang Nada berikan benar-benar sangat berarti untuk Aksara.
"Makasih ya," ucap Aksara. "Lo udah ada buat gue."
"Sama-sama. Tinggal dua nomor lagi giliran lo. Lo berusaha ya. Gue selalu berdo'a buat lo."
Satu senyum mengembang di bibir Aksara. Sebelumnya, dia tidak pernah merasa sebahagia ini dekat dengan gadis. Hanya dengan Nada hari-harinya menjadi penuh warna.
"Iya, gue pasti akan melakukan yang terbaik."
Kini giliran Aksara menunjukkan bakatnya. Dia mantapkan dirinya naik ke atas panggung. Dia mulai memainkan pianonya. Alunan musik yang sangat indah. Bahkan menurut Nada yang memang telah senior, permainan Aksara sudah sangat profesional. Nada yakin, Aksara pasti akan memenangkan kompetisi ini.
Keputusan juri akan diumumkan minggu depan. Aksara sangat menantikan hari itu. Dia sudah bercerita banyak dengan Nada tentang angan-angannya jika dia menang.
"Lo pasti menang. Gue yakin!" kata Nada dengan sangat yakin saat berada di tempat parkir.
"Sekali lagi makasih ya. Sebagai gantinya gue traktir yuk di cafe, tapi ikut gue pulang dulu. Gue mau ganti baju dulu karena sekalian mau kerja."
__ADS_1
"Ke rumah lo dulu?" tanya Nada dengan gugup. Selama ini dia tidak pernah bermain ke rumah cowok, terlebih lagi Aksara yang tidak pernah terlintas dipikirannya berhubungan sampai sedekat itu.
"Iya. Kenapa?" tanya Aksara sambil memberikan helm pada Nada kemudian dia juga memakai helmnya sendiri.
"Gak papa sih. Tapi gak enak aja gue main ke rumah cowok."
Aksara tertawa. "Gak papa lah. Anggap aja rumah calon mertua."
"Ih, Aksa. Jauh banget kalau mikir."
"Gak papa kan. Siapa tahu emang jadi kenyataan." Aksara menaiki motornya.
Meskipun diiringi candaan tapi dada Nada sudah berdebar-debar. Dia kini naik ke boncengan Aksara dengan tangan yang berpegangan di pinggang Aksara, hanya sedikit.
Aksara segera melajukan motornya menuju rumahnya. Udara siang itu cukup panas, ditambah lagi harus berhenti di beberapa lampu merah.
"Panas banget ya, Na." kata Aksara dengan pandangan yang masih lurus ke depan.
"Iya, jadi haus gue."
"Nanti gue buatin es dulu di rumah. Tapi lo jangan kaget, rumah gue itu kecil di dalam perkampungan yang padat. Gak kayak rumah lo."
"Gak usah bilang gitu. Gue juga gak punya apa-apa. Itu rumah orang tua gue."
Aksara tersenyum mendengar perkataan Nada yang seringkali merendah. Dia sudah berubah daripada awal mereka bertemu dulu.
Aksara menghentikan motornya di depan gang rumahnya. Dia harus turun dan berjalan beberapa meter untuk sampai di rumahnya.
"Na, kita jalan ya. Lo gak papa kan?"
"Gak papa." Nada mengikuti Aksara di belakangnya.
Di dalam gang sempit itu banyak anak kecil yang berlari-lari. Belum lagi ibu-ibu yang sedang berkumpul untuk berghibah.
"Aksa, sudah pulang? Waduh, bawa siapa itu? Tumben bawa cewek?" tanya salah satu ibu-ibu yang sedang berghibah itu.
Nada hanya menundukkan pandangannya. Ini adalah pertama kalinya dia berada di posisi ini.
"Teman kampus, Bu. Permisi Bu."
"Teman apa teman? Jangan-jangan calon istri lagi."
Terdengar ibu-ibu itu mulai bergosip lagi seiring kepergian mereka.
"Walah, pilihan Aksa itu yang bening kayak gitu pantaslah gadis-gadis di kampung sini pada ditolak."
Nada hanya menghela napas panjang.
__ADS_1
"Gak usah didengar ya omongan mereka. Maklum ibu-ibu kampung." kata Aksara sambil membelokkan motornya ke depan teras kecil rumahnya.
"Aksa, kamu sama siapa?" Pertanyaan itu membuat Nada menjadi salah tingkah.