It'S My Dream (Aksara Dan Nada)

It'S My Dream (Aksara Dan Nada)
Di Akhir Harapan


__ADS_3

Malam itu, Aksa masuk ke dalam rumahnya dengan menyeret koper kecilnya setelah satu minggu pembekalannya untuk menjadi Dosen baru di Jakarta telah usai.


Di dalam rumah nampak sepi. Melo yang sudah berumur empat tahun biasanya akan berteriak-teriak dan menyambutnya dengan gembira saat pulang, tapi kini tidak. Apa istri dan putri kesayangannya itu telah tidur?


Tepat saat dia akan membuka pintu kamarnya, Sumi keluar dari dapur.


"Pak Aksa, itu anu Mbak Nada."


"Mereka sudah tidur kan Mbak?" tanya Aksa. Sebenarnya dia merasa ada yang aneh melihat raut wajah Sumi.


"Mbak Nada tadi pagi pendarahan dan sekarang ada di rumah sakit."


"Pendarahan gimana?" Seketika Aksa melepas koper dari tangannya. Mendengar berita buruk ini, seketika dia merasa kesuksesan yang telah dia raih itu sia-sia ketika pada nyatanya dia gagal menjaga istrinya. "Terus Melo dimana?"


"Melo sama Neneknya, soalnya dari tadi rewel terus."


Seketika Aksa mengambil kunci mobil. Lagi, tanpa mengganti baju, tanpa minum, tanpa istirahat sedikitpun, dia langsung tancap gas menuju rumah sakit. Tak peduli dengan rasa lelahnya.


Perjalanan yang hanya singkat terasa lama. Pikirannya terlempar satu minggu sebelum dia berangkat, Nada memang sedang flu dan mengeluh sakit kepala bahkan sejak setahun ini dia memang sering terkena flu. Dia kira itu flu biasa, pusing dan mual bawaan dari flu karena musim pancaroba. Tapi jika pendarahan, itu artinya Nada....


Aksa mempercepat laju mobilnya. Sampainya di rumah sakit, Aksa segera turun dan menuju resepsionis rumah sakit. "Sus, pasien atas nama Nada Azalea di kamar nomor berapa? Saya suaminya."


"Di ruang vip anyelir no. 5 ada di lantai 3."


"Baik terima kasih sus." Aksa segera berlari menuju lift dan naik ke lantai 3. Setelah sampai di lantai 3 Aksa mencari ruang vip anyelir lalu segera masuk ke ruang no. 5.


Sudah dua kali dia dikejutkan hal seperti ini. Yang pertama saat Nada melahirkan dan yang kedua hari ini. Entah bagaimana kondisi Nada sekarang yang jelas Nada nampak terbaring lemah dengan infus di pergelangan tangannya dan selang oksigen yang terpasang di hidungnya.


Aksa menatap nanar Nada. Dia berjalan perlahan mendekat. Mengapa di saat keadaan darurat Nada tidak mau mengabarinya.


"Aksa, syukurlah kamu sudah datang," kata Satya yang sedang menemani Nada bersama Salma.


"Mas Aksa," panggil Nada dengan suara lemahnya.


Rasa sesak yang ada di dadanya seketika menguar. "Kamu kenapa?"


Menyadari ada yang harus diselesaikan antara Aksa dan Nada, Satya dan Salma memutuskan untuk pulang.


Setelah mereka keluar, Aksa kini menundukkan kepalanya. Menempelkan jidatnya di tangan Nada. Rasa khawatir dan cemasnya telah mencapai ambang batas.


"Mas, jangan nangis. Aku gak papa," kata Nada yang kini tangannya telah basah oleh air mata Aksa.


"Kenapa disaat darurat kamu selalu gak ngasih kabar aku?"


"Aku gak mau Mas Aksa khawatir di sana."


Aksa kini menegakkan kepalanya. "Kamu tahu gak gimana perasaan aku pulang dari luar kota setelah sampai rumah tiba-tiba mendengar kabar kamu masuk rumah sakit? Jantung aku mau berhenti, Na. Please, jangan kayak gini lagi. Aku suami kamu. Apa yang kamu rasa, harusnya aku yang kamu kasih kabar untuk pertama kalinya."

__ADS_1


"Maaf Mas."


Aksa menghela napas panjang lalu mengusap lembut rambut Nada. "Bukan saatnya minta maaf. Kamu kenapa? Kamu hamil gak bilang sama aku?"


"Aku juga gak tahu Mas. Tiba-tiba saja tadi pagi pendarahan. Ternyata blighted ovum, Mas. Kandungan kosong."


Aksa menghela napas panjang sekali lagi. "Terus kenapa pakai bantuan oksigen, Na?"


"Ternyata aku kena pneumonia Mas."


Aksa memejamkan matanya sesaat. Mendengar wanitanya sakit jelaslah seperti ada sesuatu yang menghantam dadanya.


"Makanya aku sering kena flu dan tadi sempat sesak napas jadi dokter memutuskan untuk foto thoraks dan hasilnya sudah ada cairan di paru-paru aku."


Aksa menyusut air matanya dan berusaha tegar di hadapan Nada. "Sebentar lagi pasti kamu sembuh. Kita sudah diberi kenikmatan, jadi kita harus ikhlas menerima cobaan ini. Aku akan selalu menemani kamu sampai sembuh."


"Mas, dulu almarhumah mama meninggal karena infeksi paru-paru."


Meski kalimat Nada sangat menyayat hati Aksa, dia berusaha untuk tenang. "Iya, kehidupan seseorang itu sudah digariskan, Na."


"Mas, kalau nanti seandainya aku pergi. Mas harus bisa move on dari aku ya. Tugas Mas untuk menjaga aku sudah selesai."


"Kamu bicara apa? Kamu pasti sembuh. Itu bukan penyakit berbahaya." Aksa melepas sepatunya lalu naik ke atas brangkar dan memeluk tubuh Nada. "Aku kangen sama kamu."


Tidak ada tempat ternyaman selain pelukan dari seorang suami. "Selamat ya Mas udah jadi dosen."


"Iya, ini berkat semangat dan do'a dari kamu." Aksa mengecup singkat pipi Nada.


"Udah, Na. Tadi setelah turun dari pesawat aku makan dulu. Kamu sudah makan?"


"Sudah Mas. Melo kangen sama kamu Mas. Tadi rewel banget. Dia mau ikut tidur sama aku di sini."


"Aku juga kangen sama Melo. Dari kemarin gak video call. Besok pagi biar aku jemput Melo di rumah Ibu." Aksa semakin mengeratkan pelukannya. "Kamu istirahat. Semoga cepat sembuh biar kita bertiga bisa berkumpul lagi di rumah. Sebisa mungkin aku akan menolak kegiatan diluar kota, aku gak mau kejadian kayak gini terulang lagi."


Nada mulai memejamkan matanya. Rasa nyaman ini, ingin selalu dia rasakan selamanya.


...***...


Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, kondisi Nada mulai membaik dan sudah diperbolehkan untuk pulang.


Gadis kecil berkuncir dua ini begitu sangat antusias menjemput Mamanya meski hanya menunggu di lobi.


"Mama," Melo berhambur ke pelukan Mamanya. "Mama, jangan sakit-sakit lagi ya, Melo jadi sedih."


"Iya sayang."


"Melo, gendong sama Papa saja. Mama baru sembuh." Aksa meraih putri kecilnya dan menggendongnya sambil berjalan menuju tempat parkir.

__ADS_1


"Tuh kan Pa. Papa jangan ke lual kota lagi, nanti Mama sakit."


"Iya Melo cantik. Papa akan selalu menjaga Mama dan Melo."


Setelah sampai di tempat parkir, mereka segera masuk ke dalam mobil. Kebetulan saat itu Satya dan Pak Teguh yang turut menjemput mereka.


Aksa dan Nada duduk di belakang dengan Melodi yang duduk di antara mereka.


"Pa, sebental lagi kan Melo sudah TK A."


"Iya, sudah TK A ya. Belajar huruf R sayang."


"Ih, udah bisa."


"Itu barusan belum bisa sebut huruf R. Mana coba kasih tunjuk ke Papa huruf R nya."


"Llll..." Melo berusaha membentuk huruf R dari bibirnya tapi masih gagal.


"Wah, belum bisa ternyata. Gak bisa masuk TK A dong." goda Aksa pada putri kecilnya itu.


"Ih, Ma, Melo bisa kan??" Melo mulai cemberut dan mencari dukungan dari Mamanya.


Sedangkan di depan Pak Teguh dan Satya hanya tertawa mendengar celotehan Melodi yang menggemaskan.


"Iya, bisa sayang. Nanti kalau sekolah mau diantar siapa?"


"Papa sama Mama." Melo mencium singkat pipi Nada lalu Aksa. Kemudian dia kembali bercerita. "Kemalin Ma, waktu Melo diantal sama nenek, ada teman Melo yang jatuh Ma terus nangis...."


Perjalanan yang hanya 10 menit itu terasa sangat meriah dengan cerita dari Melo.


Setelah sampai di rumah, Melo segera berlari masuk ke dalam rumah dan bergelayut di kaki neneknya. "Nek, pudingnya mana? Udah kelas."


"Udah, sini ikut nenek. Nenek buat banyak." Melo mengikuti neneknya berjalan menuju dapur.


Sedangkan tubuh Nada sudah direngkuh Aksa agar masuk ke dalam kamar. "Kamu istirahat dulu ya sayang."


"Aku udah gak papa Mas," kata Nada sambil duduk di sisi ranjang.


"Iya, tapi tetap harus istirahat. Mau aku temani?" Aksa menaik turunkan alisnya menggoda Nada.


"Ih," Nada mencubit kecil perut Aksa.


Aksa mengusap rambut Nada lalu memeluk tubuh itu. "Aku cinta kamu, Na." Sudah 5 tahun pernikahan Aksa tak pernah bosan mengucap kata cinta untuk Nada.


"Aku juga cinta kamu, Mas." Begitu juga dengan Nada, yang selalu membalas ucapan cinta Aksa. Dia eratkan pelukan Aksa yang semakin terasa nyaman.


..._SELESAI_...

__ADS_1


Seasion satu udah selesai sampai di sini ya...


Sampai jumpa lagi dengan Aksa, Cha Eunwoo nya Indonesia.. 🤣🤣


__ADS_2