It'S My Dream (Aksara Dan Nada)

It'S My Dream (Aksara Dan Nada)
Menuju Acara


__ADS_3

Dok! Dok! Dok!


Ketukan di kaca mobil membuyarkan adegan 18 plus itu.


Seketika Nada mendongak. "Ada Kak Satya." Mereka kini keluar dari mobil. Semoga saja Satya tidak melihat adegan itu karena gelapnya kaca mobil dari luar.


"Ngapain kalian barusan?"


"Ih, Kak Satya kepo aja. Makanya cepat cari pacar." Bukannya merasa bersalah Nada justru mengejek Kakaknya yang berumur dua tahun lebih tua darinya itu.


"Nada, kamu tuh masih usil tapi udah berani terima lamaran cowok."


Aksa menggaruk tengkuk lehernya sendiri melihat Kakak dan Adik ini. Justru Aksa takut jika adegannya barusan dilihat oleh Satya dan akan berakhir dengan sidang lanjutan.


"Hmm, aku pamit pulang dulu ya? Om Teguh ada di dalam."


"Papa udah tidur sambil senyum terus soalnya anaknya baru dilamar secara live," kata Satya sambil melirik Nada yang masih cekikikan. "Hmm, sekarang aja senyum-senyum, kemarin-kemarin waktu kamu tinggal Aksa, dia mewek terus."


"Ih, Kak Satya selalu aja buka kartu."


Aksa hanya tersenyum simpul. Setahun lebih tidak bertemu Nada rasanya memang berat. Tapi sangat sebanding dengan hasil yang diraihnya saat ini. Dia sudah berhasil menggapai impiannya dan juga telah berhasil mendapatkan Nada.


"Ya udah, kamu gak bawa kendaraan kan. Aku antar pulang aja." Satya kini meraih kunci yang ada di tangan Aksa lalu menuju kursi pengemudi.


"Kak, jangan tanya yang aneh-aneh loh."


"Terserah aku dong," teriak Satya dari dalam mobil.


"Na, aku pulang dulu ya. Jangan lupa buka blokiran whatsapp nya. Kalau masih kangen nanti sampai rumah aku vc."


Nada tersenyum malu sambil menganggukkan kepalanya.


"Ayo!" teriak Satya dari dalam mobil agar orang yang lagi kasmaran itu segera mengakhiri senyum-senyum malunya.


Aksa masuk ke dalam mobil dan mobil pun melaju seiring lambaian dari tangan Nada.


"Kamu serius sama Nada?" tanya Satya memecah kebisuan mereka.


Aksa menganggukkan kepalanya. "Iya kak, aku serius."


"Iya, aku bisa lihat kebahagiaan Nada kalau sama kamu. Nada itu, keras kepala, jutek tapi terkadang sangat manja. Kamu harus kuat ya menghadapi dia."


Aksa tersenyum kecil. Dia sudah hafal sifat Nada. "Tapi dia sangat tegas dan mandiri. Tidak pernah ragu melakukan sesuatu."

__ADS_1


"Iya. Kapan kamu mau menikah?"


Aksa terdiam sesaat lalu dia menjawab pertanyaan Satya dengan yakin. "Secepatnya. Meskipun soal materi aku belum..."


"No, no, jangan berpikir soal materi. Kebahagiaan seseorang itu tidak dinilai dari sana. Aku yakin kamu bisa bahagiakan Nada. Lagian, kamu menang beberapa kompetisi di luar negri, udah dapat berapa ratus juta?"


Aksa hanya tersenyum.


"Ke arah mana ini?"


"Di pertigaan belok kanan lurus aja. Nanti ada perempatan belok kiri, berhenti saja di depan indomaret. Rumah aku masih masuk dalam gang sempit."


Satya menganggukkan kepalanya dan melajukan mobilnya sesuai petunjuk Aksa. Beberapa saat kemudian Satya menghentikan mobilnya di depan indomaret.


"Kamu kapan melamar Nada secara resmi dengan orang tua kamu?" tanya Satya sebelum Aksa keluar dari mobil.


"Besok. Tapi Kak Satya jangan bilang sama Nada ya. Surprise."


Satya tersenyum sambil menepuk pundak Aksa. "Oke. Hidup kamu memang penuh kejutan. Rencana jam berapa?"


"Mungkin agak siang. Tidak perlu repot-repot ya kak, cuma saya dan keluarga saja yang datang."


"Oke."


"Terima kasih Kak. Mau mampir ke rumah dulu?"


Aksa keluar dari mobil dan beberapa saat kemudian mobil Satya kembali melaju.


...***...


Pagi itu, Aksa menatap dirinya di cermin. Lalu menyisir rambutnya sambil bersenandung kecil.


"Duh, anak ibu udah ganteng aja." Bu Diana datang dan merapikan krah kemeja Aksa. "Barang-barangnya udah siap sesuai yang kamu mau. Kamu lihat dulu ya."


Aksa mengangguk lalu keluar dari kamarnya. Dia menatap dengan senyum mengembangnya. Satu paket seserahan lamaran yang berada dalam kotak akrilik berhiaskan pita dan ada sekeranjang buah juga kue-kue tradisional lainnya. "Sudah, Bu. Ini saja."


Bu Diana tak hentinya menatap Aksa. Putranya sekarang sudah dewasa dan sebentar lagi dia akan menikah.


"Rumah yang baru itu kita tempati bersama ya, Bu."


Bu Diana menggelengkan kepalanya. "Itu buat tempat tinggal kamu dan Nada setelah menikah. Biar Ibu, Ayah, dan Tiara tetap tinggal di sini."


"Tapi, Bu.."

__ADS_1


"Aksa, ibu kamu benar. Biar kita tetap tinggal di di sini. Sebentar lagi ruangan buat buka kursus musik kamu sudah selesai, kamu sudah bisa mulai mengisi peralatan di dalamnya," kata Pak Rendra yang kini ikut bergabung dengan obrolan ibu dan anak itu.


"Tapi, Aksa belum bisa kasih apa-apa sama Ayah dan Ibu."


Bu Diana tersenyum lalu memeluk Aksa dari samping. "Kamu sudah kasih yang terbaik buat kita."


"Iya, justru kita yang belum bisa jadi orang tua sempurna buat kamu." Pak Rendra ikut memeluk Aksa. Suasana seketika menjadi haru.


"Kalau Kak Aksa pulang, langsung disayang-sayang, Tiara dilupain. Kak Aksa ke luar negri lagi aja deh, biar Tiara jadi kesayangan di sini."


Mereka bertiga tertawa melihat Tiara yang memanyunkan bibirnya protes dengan pelukan itu.


"Sini.. Sini Ayah peluk," kata Pak Rendra yang telah melepaskan pelukannya dengan Aksa.


"Gak mau. Tuh, bude, pakde sama yang lainnya udah pada datang. Kalau gak jadi aku suruh pulang aja ya," goda Tiara pada Kakaknya yang bucin itu.


"Yee, apaan sih. Dasar adik kecil. Awas ya kalau kamu pacaran. Kata Pak Alvin kamu pacaran sama Juna ya, pake alibi dia butuh kerjaan di cafe ternyata biar bisa deket-deket."


Satu cubitan kini mendarat di pinggang Aksa dari adik comelnya itu. "Ih, Kak Aksa jangan ember mulutnya."


"Aksa, udah sana siap-siap. Jangan pada ribut."


...***...


Sedangkan di rumah Nada, dia sekarang sedang bingung melihat orang rumah sedang sibuk menyiapkan sebuah acara yang dia sendiri tidak tahu acara apa itu sebenarnya.


"Mbak Sumi, kenapa masak banyak banget ya, ada acara apaan sih?" tanya Nada saat berada di dapur melihat Mbak Sumi dan Ibunya sedang sibuk memasak.


"Gak tahu Non. Ini hanya perintah dari tuan."


Nada keluar dari dapur. Dia melihat tante Ira dan Om Devan yang juga datang ke rumahnya.


"Ira, untung kamu cepat datang. Ada bajunya?"


"Ada Mas. Untung di butik ada yang cocok banget buat Nada."


"Ya sudah, ajak Nada siap-siap ya."


"Siap-siap buat apa sih?" Nada semakin bingung, meski demikian dia tetap mengikuti langkah Tante Ira menuju kamarnya.


"Nih, pasti cocok deh kamu pakai. Gaunnya tertutup pas dengan acara hari ini." Tante Ira menggelar sebuah gaun panjang berwarna putih yang sangat cantik.


"Acara apa sih?" tanya Nada masih saja tak mengerti. "Tante bilang dong. Aku gak mau pakai nih kalau gak mau bilang."

__ADS_1


"Ih, Nada cantik, masak gak tahu sih. Hari ini kan acara lamaran kamu."


Nada membulatkan matanya dengan sempurna. "Lamaran?!"


__ADS_2